Konten dari Pengguna

IBU TIRI

Najelaa Shihab
Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru
17 Desember 2021 12:21 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Menjadi ibu dipesankan kepada setiap perempuan, dilatihkan dan dirayakan. Menjadi ibu tiri, hampir selalu tanpa persiapan dan kekurangan contoh serta pesan baik untuk menguatkan.
ADVERTISEMENT
Peran ini jarang dipilih, tetapi sesungguhnya hanya akan mampu dijalani perempuan terpilih. Peran ini jarang diperhitungkan, karena sejatinya banyak yang memulainya dalam kondisi kalah sebelum mulai melaksanakan. Bayangkan perjalanan bersama yang langkah pertamanya Anda mulai bertahun setelah tanda start dibunyikan, mengejar target yang tak berhenti bergerak menjauh dari upaya kita untuk mendekat dan berdampingan. Bayangkan hubungan suami-istri dan ibu-anak, dengan perbandingan tak berkesudahan dengan perempuan lain yang hadir sebelum kita, yang jarang disebut namanya tetapi selalu punya sejarah yang mendominasi ingatan keluarga.
Ketidakpastian adalah bagian dari proses yang harus dilalui dalam berbagai hubungan dan pengasuhan. Sebagai ibu tiri, di antara segala ketidakpastian, ada satu keniscayaan yang justru melipatgandakan kesulitan - pasangan dan anak akan selalu punya ikatan dengan istri dan ibu lain yang dipandang lebih. Lebih cantik, lebih sabar, lebih dekat, lebih sayang, lebih … dan … yang selalu bisa diisi dengan perbandingan dalam berbagai aspek yang sebenarnya dikonstruksi oleh persepsi sang ibu tiri sendiri.
ADVERTISEMENT
Kenapa lebih? Semata-mata karena waktu bersamanya berkurang (dalam kasus perceraian) atau figurnya tak ada lagi (dalam situasi kematian), maka sang ibu kandung akan lebih diingat dengan kacamata merah muda dibanding seseorang yang datang terlambat bahkan kadang tanpa diundang masuknya. Tidak ada seorang pun kita yang bisa menang melawan memori dan imajinasi. Tetapi sejatinya, ada cara teruji untuk keluar dari labirin ini.
Saya belajar dari percakapan dengan sahabat-sahabat yang menjalani peran ini dengan penuh berani. Punya kesadaran utuh tentang jalur yang dipilih, yang tidak biasa tetapi sama luar biasanya dengan menjadi ibu kandung - selalu jadi kunci.
Ibu tiri adalah peran yang perlu dijalani dengan penuh dedikasi. Memahami kapan kita menjadi penyambung tradisi, kapan menjadi pemeran utama yang menetapkan aturan dan kebiasaan baru untuk disepakati, kapan kita perlu menjadi penonton yang hanya perlu mengobservasi. Ibu selalu perlu dukungan suami untuk saling melengkapi, akan tetapi jangan sampai pengandalannya membuat ibu terkotakkan dalam keterbatasan tak boleh atau tak bisa itu dan ini karena status “tiri”. Apapun posisinya dalam dinamika keluarga, yang tak boleh dilupa, kewajiban terpentingnya adalah selalu menempatkan kepentingan anak diatas ego orang dewasa di sekitarnya.
ADVERTISEMENT
Ada beberapa jebakan yang menjerat ibu tiri dan membuatnya menjadi korban. Ada yang misalnya, memandang pengalaman menduda sebagai kelemahan suami yang harus disembunyikan bahkan memalukan. Padahal kita justru perlu percaya bahwa pelajaran dari hubungan sebelumnya yang direfleksikan, bisa jadi modal yang amat berharga untuk keberhasilan sebagai pasangan. Ada yang punya keinginan (walau belum tentu diungkapkan) bahwa ibu kandung sebaiknya dilupakan atau diperlakukan bagaikan ban yang sudah ada serepnya, perlu digantikan. Padahal kehadiran ibu kandung (dalam berbagai bentuknya) adalah bonus sudut pandang, bahkan sumber pelajaran, yang memperkaya pengasuhan.
Setiap hubungan antara ibu tiri dengan putra dan putri, akan diuji berkali-kali. Jangan pernah merasa bahwa masalah terjadi karena tidak adanya kaitan biologis. Sesungguhnya anak bertumbuh dan orangtua berkembang lewat kesalahan dan perdebatan, selama masih ada komitmen kehadiran serta kesediaan terus mendengarkan, maka konflik adalah tanda kepedulian. Konsistensi adalah pembuka hati, menunjukkan sikap menghormati amat sangat wajib ditunjukkan pada Ibu kandung yang lebih dulu menjalankan peran ini.
ADVERTISEMENT
Situasi rumit yang berhasil dinavigasi, selalu menjadi fondasi untuk hubungan yang lebih kuat lagi. Ibu tiri memang bukan yang pertama, tapi kasihnya juga akan terasa sepanjang masa, sepanjang asa. Ibu tiri memang tidak seperti ibu peri. Semoga semua yang berniat baik dalam menjalani peran ini akan mendapat bukti bahwa harapan akan kebahagiaan menjadi kenyataan walaupun tak instan. Menjadi ibu tidak pernah semata soal panggilan nama, karena tak semua harus dipanggil mama atau bunda. Menjadi ibu juga bukan sekadar soal darah, dongeng sebelum tidur setiap hari yang mengajarkan nilai, bisa jauh lebih kental mengaliri hari-hari anak kedepannya. Semoga makin banyak ibu dan anak-anaknya (bahkan tanpa menggunakan lagi istilah tiri-nya) yang menjadi inspirasi tentang menumbuhkan cinta dan mempraktikkannya dengan lebih baik lagi dalam situasi yang penuh komplikasi.
ADVERTISEMENT
Cerita tentang ibu tiri yang selama ini didominasi oleh narasi yang membuat murka atau berurai air mata, perlu kita rekonstruksi bersama.
Siapa yang punya kisah nyata sebagai ibu atau anak dalam hubungan tiri yang bahagia? Kini dan di sini, saya perlu bantuan Anda untuk menyampaikan perspektif yang berbeda.