Konten dari Pengguna

Indonesia Gawat Darurat atau Baik-Baik Saja: Dimulai dari Ruang Kelas & Keluarga

Najelaa Shihab

Najelaa Shihabverified-green

Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagian kita yang dewasa, hari ini memilih berdemonstrasi. Sebagian lagi, memilih berjuang dengan caranya sendiri - lewat kegiatan lain yang dilakukan sebagai bukti mencintai negeri ini.

Yang pasti, peran dalam pendidikan dan pengasuhan untuk anak sejak usia dini hingga perguruan tinggi, adalah tanggungjawab bersama guru dan orangtua, bahkan semua orang dewasa yang hadir di sekitarnya, yang akan menentukan masa depan Indonesia.

Urgensi berpihak kepada generasi mendatang selalu ada - sebelum atau sesudah pilkada - karena keberdayaan harus menjadi tujuan tumbuh kembang, bagi semua dan setiap anak bangsa.

Apapun yang Anda lakukan hari ini, di ruang kelas dan ruang keluarga kita setiap hari - mari memantik percakapan-percakapan bermakna tentang demokrasi:

  1. Memahami sejarah dengan membiasakan perspektif yang beragam saat menganalisis peristiwa dan aktor-aktornya.

    17 Agustus 1945 yang baru saja kita rayakan bersama, sebagaimana 21 Agustus 2024 yang kita ratapi baru saja, bukan hanya tentang apa yang dilakukan Soekarno dan Hatta, segelintir yang memimpin di Jakarta atau influencer dengan pengikut berjuta. Momentum perbaikan, selalu digerakkan oleh partisipasi publik orang-orang yang tak memiliki nama terkemuka, yang punya kepedulian tinggi lewat tindakan dan doa di penjuru Nusantara.

  2. Menguatkan literasi media, terutama cara untuk menghadapi disinformasi.

    Tunjukan bahwa sebagai keluarga, Anda mendukung jurnalisme berkualitas yang menjadi pilar demokrasi kita, menghindari fake news dan hoax yang tujuannya memanipulasi fakta. Siapa yang difollow di media sosial atau apa disebarkan di grup chat keluarga adalah bagian dari keteladanan kita di madrasah maupun rumah.

  3. Mengenalkan anak-anak kita pada berbagai saluran beraksi dan bersuara.

    Demonstrasi salah satunya, dan cara protes ini perlu diapresiasi sebagai langkah patriotik warga negara. Tetapi banyak juga praktik lainnya yang bisa dilakukan berbagai usia: menulis surat atau petisi kepada pihak berwenang yang kita tak sependapat dengannya, bertanya tentang tata tertib sekolah yang kurang tepat penerapannya, menunjukkan dukungan dengan mencoblos atau menunjukkan penentangan dengan tidak mencoblos di bilik pilkada maupun pemilihan ketua Osis di sekolah, memboikot produk tak ramah lingkungan atau investasi kaum penjajah.

    Begitu banyak kesempatan kita melatih kemerdekaan anak lewat aksi “kecil” membela negara, setiap harinya!

  4. Mempraktikan nilai-nilai keadilan dan integritas dalam interaksi di satuan pendidikan maupun dalam keluarga.

    Tidak mencontek dan menjunjung tinggi kejujuran intelektual saat mengerjakan penelitian, tidak menyogok anak dengan berbagai hadiah agar mau membantu menjaga kerapian ruangan, menggunakan gawai dan aplikasi sesuai batas umur serta ketentuan privasi dan keamanan, menghormati pendapat anak walaupun kekritisannya kadang menyulitkan bahkan menyebalkan :)

Demokrasi bukan “mendadak” soal membela konstitusi apalagi posisi bagi politisi, tetapi selalu soal menguatkan nilai-nilai dan merawat hati nurani.

Menjadi anggota masyarakat yang berkontribusi, juga bukan proses instan yang bisa terjadi tanpa pendidikan dan pengasuhan yang memerdekakan sejak dini.