Konten dari Pengguna

JILBAB

Najelaa Shihab

Najelaa Shihabverified-green

Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru

·waktu baca 4 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berjilbab untuk saya, bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan, bukan juga jawaban yang perlu dipertahankan. Bukan pembatasan tapi selalu saya yakini sebagai kebebasan, bukan pelabelan identitas tapi selalu soal kenyamanan pilihan.

Di masa awal mengambil keputusan untuk berhijab di akhir tahun 90-an, jumlah perempuan pengguna hijab di Indonesia belum sebanyak di 2021 ini. Walau saya tidak menemukan penelitian yang akurat (ada satu angka dari produsen shampoo khusus berhijab yang mengatakan 72% muslimah Indonesia mengenakan jilbab di 2018) bisa dikatakan jumlah yang tidak mengenakannya saat itu (paling tidak di lingkungan saya yang terdekat) lebih sedikit dibanding muslimah yang tidak (keadaan yang berubah signifikan dalam belasan tahun belakangan).

Di masa itu juga merupakan masa-masa awal dalam berkarya, di mana saya juga mulai rutin berpartisipasi di forum internasional. Konteks masa pengambilan keputusan ini penting untuk disampaikan, karena dalam diskusi dengan banyak teman, walau memilih berjilbab bersifat sangat pribadi, kapan dan mengapanya ditentukan oleh faktor internal dan eksternal yang saling terkoneksi. Saya selalu melihat jilbab sebagai salah satu cara menavigasi dunia, dan setelah mengenakannya, saya sadar saya kemudian seolah mendapat “bonus kacamata baru” dengan perspektif melihat dan dilihat dengan berbeda.

Saya memilih berjilbab lebih dulu dari Mama, bahkan tanpa diskusi panjang dengan Abi dan suami (untuk uraian tentang definisi aurat atau kewajiban perempuan yang saya tak akan bahas di tulisan ini karena tak punya kepakaran, silahkan baca buku Abi Quraish Shihab yang berjudul “Jilbab”).

Mulai berpikir di akhir pekan, kemudian langsung mengenakannya saat ke kantor di Senin pagi untuk rapat mingguan. Di titik itu, yang ada di pikiran hanya semata-mata bahwa saya ingin menutup rambut dan kepala, tak ada sama sekali bayangan tentang apa yang akan bikin susah. Sehingga pada saat hari-hari pertama kepala dan leher rasanya super gatal atau perjalanan ke luar negeri pertama terkena rangkaian “random inspection” terus-terusan, semua dianggap bagian “normal” dari penyesuaian yang harus dijalani tanpa kekesalan apalagi penyesalan.

Yang sering mengganggu, sebetulnya justru komentar-komentar yang berkait tingkah laku, “Lo berjilbab, kok begini dan begitu”. Hal ini disampaikan dalam konteks “penting”, kenapa saya misalnya tidak mendirikan sekolah berbasis Islam (Cikal maupun Sekolah Murid Merdeka, dua satuan pendidikan yang saya dirikan bercirikan pendidikan umum yang inklusif) sampai ke yang “kurang penting” seperti misalnya kenapa saya bersepeda.

Hikmahnya, setelah beberapa waktu, komentar seperti ini berubah menjadi umpan balik yang menggugah. Saya menyadari bahwa ada ekspektasi yang tidak seharusnya menjadi beban tetapi jadi pengingat untuk terus memperbaiki diri. Memilih makanan dengan lebih bijak (bukan sekadar yang halal), mengendalikan emosi dalam argumentasi tentang topik yang “panas” (bukan sekadar mengungkapkan keberatan dengan serangan) dan banyak sekali keputusan personal dan pilihan dalam pekerjaan yang saya lakukan dengan lebih hati-hati.

Saya tahu, kemudahan yang saya alami adalah kemewahan. Banyak teman yang melalui kesulitan di tempat kerja atau dari keluarga bahkan perundungan dan kekerasan di media sosial maupun dunia nyata karena pilihan memakai atau tidak memakai jilbab.

Jilbab buat saya adalah pernyataan tentang representasi, upaya sederhana menjadi salah satu contoh nyata bahwa Islam adalah agama yang selalu penuh damai dan muslim perempuan bukan korban opresi. Jilbab sama sekali bukan berarti saya lebih berprestasi apalagi lebih salih. Jilbab yang saya pilih kenakan karena saya punya otonomi, seharusnya menjadi pengingat untuk saya bahwa saya perlu lebih banyak berkolaborasi dengan sesama perempuan dan seluruh manusia, dengan sesama muslim dan pemeluk berbagai agama, terutama dalam memastikan bahwa tak ada satupun golongan yang merasa tertekan atau terpinggirkan dibandingkan lainnya.

Sambil berefleksi di sini, saya meyakini bahwa semua hal lain yang melekat pada diri yaitu bahwa saya perempuan, saya pendidik, saya ibu, saya psikolog, saya anak, saya penulis, saya orang Indonesia, saya suka yoga, saya berkarya di jaringan lintas negara dan deretan hal lainnya, melengkapi dan tak terpisahkan dari ke-musliman dan ke-ber-jilbab-an saya. Tak seorangpun dari kita yang bisa dikotakkan dalam tipologi yang sama, karena kompleksitas multidimensi manusia.

Berjilbab, sebagaimana semua bentuk ekspresi ketaqwaan, berpakaian dan kehidupan, ternyata memang bukan hanya soal akal tapi juga hati, juga bukan hanya soal privat yang diyakini diri tapi tentang persepsi publik yang memengaruhi. Ada konsep hak dan kewajiban dalam apapun yang kita pilih atau tidak kita pilih, ada pula soal relasi yang harus selalu berdasar saling menghormati.

Selain jilbab, beragam agama dan budaya juga punya tata cara dan panduan berkait kesederhanaan berpakaian atau bentuk lain yang dipercaya untuk perempuan maupun laki-laki. Ada yang punya pandangan atau pengalaman saat memilih memakai atau tidak memakainya? Ada yang punya pengalaman menjadi korban perundungan dan dimaki atau pengalaman berdaya dan bermakna saat di persimpangan dan perjalanan pilihannya?