Merdeka Belajar yang Saya Pahami dan yang Disalahpahami

Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perubahan yang berdampak dan berkelanjutan, adalah tujuan setiap gerakan dan semua penggerak. Kuncinya adalah gagasan yang terus dipraktikkan, bukan sekadar didokumentasikan apalagi hanya diucapkan. Kemerdekaan belajar kami definisikan dalam 3 dimensi - komitmen yang kuat pada tujuan, kemandirian dalam cara dan refleksi yang terus dibiasakan terhadap capaian serta tantangan. Karenanya, 5 tahun setelah #TemuPendidikNusantara di Oktober 2016 dengan tema #merdekabelajar (cek pidato saya di bit.ly/PidatoMerdekaBelajar2016), ada dorongan untuk meninjau ulang apa yang paling sering dipahami dan disalahpahami selama ini. Catatan ini adalah upaya untuk mengklarifikasi aspirasi, melawan miskonsepsi sekaligus mengkoreksi kekurangan dan kesalahan saya dalam narasi maupun implementasi selama ini.
Kemerdekaan dalam pendidikan adalah gagasan kebarat-baratan atau ide yang dianggap neoliberal. Ki Hajar Dewantara mendefinisikan kemerdekaan sebagai hidup yang tidak terperintah, berdiri tegak karena kekuatan sendiri; dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Inilah esensi tujuan pendidikan yang juga diutarakan lewat kemerdekaan dan keberdayaan anak oleh Maria Montessori ( Perancis, 1870-1952), serupa dengan teori perkembangan sosial kognitif Lev Vygotsky (Rusia, 1896-1934) atau pedagogi kaum tertindas tokoh Amerika Latin Paulo Freire ( Brazil, 1921-1997). Kalau dilihat lebih jauh lagi, filosofi tentang pendidikan yang menumbuhkan potensi individu secara utuh juga mendasari pemikiran dan karya Ibnu Sina (Bukhara, 980-1037) bahkan dalam riwayat juga disampaikan oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Ra (Mekkah, 601-661) yang mengatakan bahwa ilmu yang dipelajari perlu dipilih sesuai dengan yang diminati dan pelajaran yang paling penting adalah yang paling relevan dengan menjalankan kewajiban kekhalifaan lain. Walaupun dalam konteks dan periode yang sangat beragama, jelas bahwa sejarah kemerdekaan dalam pendidikan tidak pernah hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan industri tetapi selalu berkaitan dengan peran dalam masyarakat yang menguatkan hak asasi dan membutuhkan kontribusi dalam demokrasi.
Merdeka Belajar adalah pembiaran atau pembebasan dari kewajiban belajar. Merdeka belajar percaya bahwa proses belajar paling bermakna dimulai dari komitmen subyek terhadap apa yang dipelajarinya dengan tujuan menguasai kompetensi, yang dilakukan secara mandiri bukan dengan terpaksa dan menderita dalam prosesnya karena sesuai dengan prinsip personalisasi, yang belajar perlu terus menemukan dan mengarahkan strategi diri. Merdeka belajar juga menekankan pada pentingnya refleksi, proses meta kognisi yang melatih pelajar untuk memonitor dan mengevaluasi atau dengan kata lain memegang kendali. Alih-alih dibiarkan tidak belajar, motivasi diri dan keberpihakan pada murid yang dikuatkan oleh merdeka belajar justru bukan hanya memperbaiki cara belajar menjadi lebih menyenangkan, tetapi juga menguatkan kualitas belajar dengan memperkaya kedalaman materi dan membuat yang dipelajari relevan sepanjang kehidupan, bukan hanya di masa studi.
Merdeka belajar elitis dan tidak mengatasi isu kesetaraan. Kita memang seringkali punya bias bahwa kelompok rentan punya defisit bawaan dan hanya bisa “selamat” dengan bantuan dari yang memberikan. Kemerdekaan belajar, justru strategi paling efektif dan berkelanjutan untuk mengatasi kesenjangan capaian dan kesempatan yang terjadi di ekosistem pendidikan. Keberdayaan untuk membantu diri sendiri, standar yang bukan sekadar beban administrasi tetapi otonomi untuk melakukan kontekstualisasi bukan hanya bisa dimiliki oleh kelompok atau daerah tertentu yang memiliki kemewahan untuk berinovasi, saya yakini akan lebih banyak terjadi saat kelompok rentan yang selama ini terbelenggu dengan berbagai batasan struktural ataupun formalisasi mendapat dukungan untuk melihat keunikan dan kearifan sebagai modalnya menggerakkan perubahan.
Merdeka belajar menafikan unsur pengembangan karakter dan dimensi transedental. Kecerdasan spiritual, dimensi kompetensi yang berkaitan dengan prinsip dan integritas bukan hanya ditumbuhkan dalam pendidikan berlabel pendidikan agama. Dalam Islam yang saya anut, ilmu agama bukan hanya membahas syariat, Al-Qur’an yang agung adalah sumber pelajaran tentang sains, sejarah bahkan teknologi. Inkuiri dan menemukan makna adalah bagian dari esensi khalifah dan Allah SWT memerintahkan Iqro’ - belajar yang bukan hanya tentang ilmu fiqih tetapi agar manusia membangun peradaban di bumi. Nabi Muhammad SAW diperintahkan Tuhan untuk terus berdoa agar ilmunya bertambah, karena sejatinya semua adalah cahaya yang insya Allah terus bermanfaat di dunia maupun sebagai bekal di akhirat nantinya.
Merdeka belajar penting bagi murid atau mahasiswa saja. Merdeka belajar jelas bertujuan untuk memastikan bahwa pendidikan menjadi jembatan masa depan. Akan tetapi cita-cita ini tidak mungkin tercapai tanpa orang dewasa yang juga mengalami kemerdekaan belajar - melawan miskonsepsi dan meningkatkan rasa percaya antarpemangku kepentingan. Hanya dengan meneladani orang disekitarnya yang punya agency dalam perannya, terus berkolaborasi dan mengembangkan kariernya, maka anak akan mengembangkan kompetensi merdeka belajarnya. Kemerdekaan belajar tidak mungkin dicapai sendirian, potensi individu disuburkan oleh lingkungan, perilaku penggerak diadopsi dan diadaptasi oleh pendukung perubahan. Kompetensi individu dikuatkan atau dilemahkan oleh kompetensi kolektif, demikian juga sebaliknya, di sepanjang hayat pelajar berbagai usia.
Merdeka belajar berarti meninggalkan standar. Proses pendidikan dalam skala sistem apa pun, dalam kelas, di satuan pendidikan, senegara, butuh kriteria dan indikator akan keberhasilannya juga proses penjaminan mutunya. Kemerdekaan belajar justru mengklarifikasi aspirasi kita bersama, karena memperkuat akuntabilitas setiap aktor dalam capaian lulusan, proses, penilaian, pembiayaan maupun sarana dan prasarana yang menjadi tanggung jawabnya. Sudah terlalu lama otonomi sekolah dan keragaman daerah didegradasi maknanya sekadar sebagai mematuhi desentralisasi tanpa data profil pendidikan yang utuh. Kondisi saat ini, konsultasi dan koordinasi menyeluruh antar pemerintah pusat dan daerah sangat terbatas, dampaknya jelas: minimnya transparansi politik anggaran maupun kebijakan serta tata kelola yang belum sesuai standard (kebutuhan). Yang diharapkan lewat kemerdekaan belajar adalah proses perencanaan berbasis data yang dihasilkan sebagai kesepakatan dalam forum lintas pemangku kepentingan, bukan sekadar disamaratakan.
Merdeka belajar ditentukan kesuksesannya oleh penetapan kebijakan. Perubahan kebijakan tidak pernah cukup untuk mendorong perubahan pendidikan. Akses, kualitas dan kesenjangan yang dialami anak sebagai pusat dari proses pendidikan dipengaruhi oleh beragam sistem yang menjadi lingkar lapisan dukungan. Microsystem yang terdekat - , satuan pendidikan, guru dan teman sebaya. Meso dan ecosystem yang antara lain dipengaruhi suasana keagamaan atau sosial media, juga komunitas dan organisasi serta dunia usaha dan industri. Sampai ke sistem makro, politik, hukum, budaya, ekonomi dan sumber daya alam suatu bangsa. Perubahan paling esensial dalam konteks kebijakan yang kita perlukan, adalah pergeseran dari mandate based policy ke capacity building policy, inilah esensi dari kemerdekaan belajar bagi ekosistem ini. Akses informasi, penguatan kepemimpinan, dukungan finansial semua diperlukan dalam pengembangan kebijakan yang akan terus berpihak pada anak, terintegrasi dan berkelanjutan lintas masa pemerintahan.
Merdeka belajar adalah satu kebijakan nasional. Penggunaan merdeka belajar sebagai nama dari rangkaian kebijakan (saat tulisan ini dibuat, sudah dikomunikasikan dalam 13 tahapan/episode) menunjukkan bahwa merdeka belajar bukan hanya satu solusi instan atau perubahan dokumen di kementerian/lembaga yang mengurus fungsi pendidikan. Implementasi merdeka belajar, mensyaratkan perubahan paradigma, meningkatkan urgensi kita semua untuk membalik piramida. Publik yang terlibat dan mengambil peran, inovasi oleh guru dan dosen, murid dan mahasiswa, orang tua serta penggiat dan penggerak di lapangan adalah kunci dari umpan balik berkelanjutan yang perlu terus dikuatkan oleh pemangku kebijakan. Kalau dulu kita mengharapkan pemerintah pusat maupun daerah sebagai top down force yang programnya harus disukseskan masyarakat, maka sekarang peran utama negara adalah agregator praktik baik yang diperbesar skalanya dengan didukung bukti lapangan.
Merdeka Belajar cukup sebagai pengungkit perubahan pendidikan. Merdeka belajar adalah fondasi yang perlu kita miliki untuk melakukan transformasi. Kepemimpinan yang efektif, komunitas penggerak yang mendorong inward change, akan mengubah praktik pendidikan yang menekankan satu resep untuk semua anak dan hanya berorientasi nilai dan kepatuhan, menjadi proses yang berbasis kompetensi, menumbuhkan karakter positif serta lingkungan belajar yang konstruktif. Namun, cita-cita ini membutuhkan kemerdekaan berkolaborasi antar pemangku kepentingan yang didorong oleh kesadaran bahwa integrasi teori perubahan perlu kita lakukan, serta tak ada satu wilayah kabupaten atau provinsi, satu yayasan pendidikan dan organisasi atau bahkan satu rezim pemerintahan yang mampu melakukan perubahan pendidikan secara instan secara eksklusif dari intensi baiknya sendiri. Kemerdekaan berkarya menjadi tujuan berikutnya bagi ekosistem pendidikan kita, bukan hanya sekadar tentang pekerjaan atau profesi yang dihasilkan oleh lulusan sistem pendidikan tetapi karena anak-anak dan dunia kita membutuhkan karier dan kontribusi nyata dalam bentuk karya yang bukan hanya terbatas pada angka partisipasi atau lama sekolah maupun gelar dan ijazah semata. Perubahan pendidikan bukan hanya butuh kita upayakan, tetapi juga butuh ribuan strategi percepatan dari ruang keluarga, ruang kelas, ruang rapat dan ruang sidang, ruang publik lainnya yang berjalan beriringan.
Hal terpenting yang juga perlu dirayakan di #harigurusedunia ini adalah puluhan ribu penggerak komunitas #gurubelajar dan #pengawasbelajar, serta ribuan satuan pendidikan di Jaringan #sekolahdanmadrasahbelajar, juga puluhan organisasi, kementerian dan lembaga di #lingkardaerahbelajar yang telah berkolaborasi dan berkarya dengan penuh konsistensi.
Mari terus memantik percakapan di antara kita yang memilih berdaya dan ambil peran, bukan hanya menunggu apalagi merasa menjadi korban.
Mari ikut #BelajardiTPNVIII November nanti.
