Keseruan Menjadi Seorang Psikolog

Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru
Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jadi pendidik, ternyata cita-cita saya sejak kecil. Setiap kali bertemu dengan teman lama sejak SD, komentar pertama mereka adalah “Akhirnya bener, lu jadi guru juga ya!” Saya sendiri tidak terlalu ingat sebenarnya, waktu di kelas dua menulis di buku kenangan tentang ini. Yang saya ingat, dunia pendidikan memang luar biasa dekat dengan kehidupan.
Kakek dan ayah saya pendidik--menjadi dosen di perguruan tinggi--saya seringkali diajak melihat Abi mengajar, “membantu” membaca tugas mahasiswa atau mendengar konsultasi yang dilakukan di rumah.
Pesan utama yang selalu diberikan Abi dan Mama adalah memberi manfaat sebanyak mungkin untuk orang banyak, dan sejak awal saya yakin - amal jariah yang tidak ada putusnya adalah rantai ilmu yang diajarkan dan diteruskan.
Saya tumbuh dengan keinginan berkarier di bidang yang berkaitan dengan kehidupan orang banyak. Materi dan apresiasi tidak pernah jadi sebab, karena sebetulnya ini berkah yang muncul dengan sendirinya setelah kita memberi makna.
Psikologi sebetulnya bukan pilihan pertama saya berkait jurusan. Namun sejak masih jadi murid sekolah saya selalu yakin bahwa jurusan sebenarnya hanya alat bantu, bukan tujuan. Kalau kita sudah mengenal diri--apa hal yang menyenangkan untuk dilakukan dan bidang apa yang kita punya keunggulan, maka akan lebih mudah untuk menentukan pilihan.
Jadi, saat berpikir tentang jurusan, saya sempat mengeksplorasi beberapa pilihan lain--statistika, teknik industri, kedokteran, hukum adalah beberapa di antaranya. Saya mencari tahu dengan banyak membaca, dan yang terpenting mencari seseorang yang ahli di bidang yang bersangkutan untuk jadi tempat bertanya. Sampai hari ini, menemukan mentor dan teman belajar, serta menjadi mentor dan teman berpikir jadi kebiasaan yang masih saya praktikkan.
Saya masuk ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia lewat program PPKB tanpa tes, yang periode pendaftarannya sangat padat - sehingga harus mengambil keputusan lebih cepat dari teman-teman seangkatan. Saya ingat sekali, saat itu pilihan akhirnya saya jatuhkan pada fakultas ini karena menyadari bahwa pendidikan berkaitan erat dengan subyek utamanya--manusia.
Juga karena Psikologi sebagai ilmu berkaitan dengan berbagai bidang sains (biologi dan statistika serta metodologi) namun juga sosial (filaafat, antropologi dan sosiologi)--sehingga saya yakin akan mengantar saya ke pemahaman yang utuh tentang banyak hal dalam kehidupan.
Perjalanan kuliah di Fakultas Psikologi UI jadi salah satu pengalaman belajar paling berkesan dalam hidup saya. Saya menyelesaikan S1 dan S2 di tempat yang sama, dan yang paling saya syukuri adalah banyaknya sumber belajar yang bukan hanya para staf pengajar, tapi juga dari teman-teman seangkatan, kakak-adik kelas, dan alumni--yang semua dimungkinkan karena interaksi yang sangat hangat dan kuat.
Beberapa bagian yang cukup mengejutkan adalah banyaknya tuntutan riset primer mau sekunder lewat teks, serta menulis analisa yang menjadi pengalaman berbeda dibanding masa sekolah sebelumnya. Tetapi sangat berguna bagi saya hingga saat ini dalam menulis berbagai artikel dan buku di bidang pendidikan.
Sejak sebelum lulus, saya sudah menikah dan melahirkan anak pertama sembari skripsi, sehingga di antara berbagai bidang psikologi yang sangat beragam - minat untuk mendalami Psikologi Perkembangan dan Pendidikan sudah tumbuh sejak awal (dan kemudian menjadi spesialisasi saya di program magister). Saya juga terlibat sebagai asisten dosen, dan kemudian staff pengajar setelah lulus--dalam berbagai bidang yang sangat luas.
Mengajar Psikologi Perkembangan Keluarga, Kognitif dan Belajar pada Anak, Psikologi Perkembangan Metode Pengukuran Skala Psikologi dan Seminar skripsi - bersama dosen-dosen senior yang saya kagumi, menjadi sarana belajar utama saya tentang pendidikan dan psikologi.
Saya mengajar baik di Universitas Indonesia maupun Universitas Islam Negeri, dan salah satu keputusan paling berat yang harus saya lakukan di usia awal 20-an adalah meninggalkan adik-adik mahasiswa di kampus untuk mendirikan Cikal dan kemudian menginisiasi berbagai gerakan pendidikan lain. Sampai sekarang, rindu pada kehidupan sebagai dosen masih sering saya rasakan.
Semua yang saya usahakan, adalah bagian kecil dari mimpi untuk pendidikan yang lebih baik bagi semua dan setiap anak.
Saya bersekolah di Indonesia sejak SD hingga Perguruan Tinggi, sebagian besar di lembaga pendidikan negeri. Walaupun bisa dikategorikan sebagai anak yang berprestasi tinggi dalam ukuran nilai, saya sebetulnya selalu merasa ada yang “salah” dengan sekolah.
Kebanyakan pengalaman bersekolah tidak relevan dengan kehidupan, kurang menyenangkan dan kurang menantang serta seringkali tidak bermakna dalam jangka panjang. Di masa awal bekerja, saya masih punya cukup waktu untuk berpraktik sebagai psikolog klinis dan melakukan terapi individual. Seiring dengan tuntutan organisasi yang makin besar, profesi sebagai psikolog pun saat ini tidak saya jalankan dengan rutin.
Mempelajari psikologi memberikan saya pemahaman yang essensial mengenai tahap perkembangan manusia, proses belajar, teori kepribadian, motivasi, emosi dan kognisi yang sangat penting dalam menjalani profesi di pendidikan.
Bukan hanya berkait dengan pengembangan kurikulum atau pelatihan guru dan orangtua, tetapi juga bagaiman bekerja bersama dan membangun tim yang handal, menceritakan gagasan dan melakukan aktivitas pemasaran, menggerakkan lingkungan dan mengadvokasi kebijakan.
Bekal ini juga yang mendorong saya menginisiasi berbagai organisasi pendidikan lain, yang berhubungan dengan berbagai pemangku kepentingan. Dua hal yang paling berguna yang saya pelajari dari psikologi adalah kompleksitas manusia dan pendekatan keilmuan- sehingga kebiasaan untuk menghindari simplifikasi dan miskonsepsi adalah bagian dari proses berpikir saya sehari-hari.
Kekuatan substansi dan keinginan berdampak lebih besar, menjadi modal harian untuk terus melakukan banyak hal di pendidikan. Semua cita-cita dan cara dalam pendidikan, tidak ada yang saya jalani sendirian, dan pastinya tidak akan berhasil tanpa dukungan tim kerja yang luas.
Karenanya tuntutan utama dari apa yang saya lakukan saat ini adalah menjalin kolaborasi dengan banyak orang--dan lagi-lagi ilmu psikologi memberi bekal yang luar biasa dalam pekerjaan ini.
Berempati, mempraktikkan komunikasi dan terus berefleksi adalah keterampilan utama yang dilatihkan pada kami sejak semester awal. Apapun bidang pekerjaan yang dipilih, saya yakin ini modal yang luar biasa pentingnya. Apalagi di pendidikan yang konteksnya sangat beragam.
Kondisi pendidikan Indonesia yang saat ini dalam gawat darurat, juga menuntut semua yang memilih perjuangan ini untuk bekerja dengan akselerasi yang cepat.
Kemampuan membagi waktu, menjaga stamina diri dan team, menyelesaikan masalah dan melakukan implementasi dengan standard tinggi juga bukan sesuatu yang bisa dikuasai tanpa dipelajari. Pemahaman psikologi--dari pengenalan diri sampai pemahaman tentang perbedaan antarpribadi juga menjadi kunci saya dalam mempraktikkan hal ini.
Hingga hari ini, saya percaya kekuatan ilmu psikologi dan selalu memberi rekomendasi kepada murid-murid saya (juga anak sendiri) untuk mempelajari dasar-dasarnya sebagai mata pelajaran pilihan atau bahan bacaan pribadi.
Ilmu ini adalah ilmu yang bisa menjadi fondasi untuk studi di berbagai peminatan lain dan pengabdian di banyak area kehidupan di masa depan. Kecerdasan masa depan akan ditentukan oleh keterampilan-keterampilan lintas disiplin dan bukan sekadar hafalan. Perubahan dunia hanya bisa diantisipasi bila kita memahami diri dan lingkungan dengan baik, psikologi jelas membantu proses pengembangan pribadi ini.
Karenanya, insya Allah, belajar psikologi bukan hanya tentang kemudahan mencari pekerjaan--tetapi juga kemampuan menjalankan berbagai peran dalam kehidupan--di keluarga, bagi agama, dan dalam masyarakat.
Catatan: Tulisan ini adalah sebagian dari cerita profesi yang sangat beragam di buku “Profesi Psikologi itu Seru”. Buku ditulis bersama oleh 14 teman seangkatan alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
