Konten dari Pengguna

Revolusi di Ruang Kelas, Dimulai dari Refleksi Strategi Hari Ini

Najelaa Shihab

Najelaa Shihabverified-green

Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendidikan Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan Foto: kumparan

Dalam pengalaman interaksi bersama puluhan ribu penggerak, terutama di Jaringan Sekolah dan Madrasah Belajar serta Lingkar Daerah Belajar, saya menemukan beberapa strategi intervensi mumpuni untuk menerapkan personalisasi, membiasakan 5M dalam pekerjaan kita di kelas setiap hari, yang mungkin sekali sudah teman-teman lakukan ribuan kali. Untuk kepentingan dokumentasi, saya akan sebutkan beberapa yang dalam refleksi pribadi masih perlu saya lakukan lebih konsisten lagi:

  • Salah satu alat bantu yang mudah dan murah, tapi cenderung jarang digunakan di kelas konvensional adalah sumber belajar dan aktivitas multimedia. Beragam sensori yang diaktivasi oleh media multi dimensi, bukan hanya menambah perhatian dan rentang konsentrasi, tetapi juga memungkinkan petualangan berbeda lewat eksplorasi fitur lama maupun baru di setiap langkah pembelajarannya.

  • Tren lain yang lebih jauh terkait multimedia adalah gamification dalam proses belajar-mengajar kita. Penting untuk membedakan antara gamifikasi dengan pembelajar berdasar permainan dalam desain guru. Permainan sebagai bagian dari aktivitas cenderung sudah cukup sering dilakukan dan biasanya digunakan sebagai transisi sesi atau dengan tujuan menguatkan koneksi dan kenyamanan emosi. Gamifikasi butuh perencanaan dan keterampilan lebih, bagian favorit saya adalah saat guru menggunakan lensa desain permainan - terkait cerita, keseruan, keseimbangan, penilaian dan sistem insentif ekonomi - untuk merancang kurikulum yang diimplementasikan. Trik menjalankannya dengan lebih mudah adalah membuat RPP yang sifatnya mingguan atau bahkan beberapa minggu sekaligus dan tidak tergantung pada RPP harian yang serba kaku karena overplanning yang kemudian membuat guru tidak adaptif pada apa yang murid butuh.

  • Manifestasi 5M yang paling sering dilakukan di kelas kita; sekadar lewat cara guru bertanya. Teknis formulasi dan variasi pertanyaan yang diasah terus menerus oleh guru dan dipraktikkan sebelum, selama dan sesudah pembelajaran, menjadi teladan bagi murid tentang apa yang perlu mereka lakukan sebagai pelajar. Ingat, bukan hanya tingkat kesulitan yang berbeda yang perlu disiasati dalam bertanya, tetapi juga alokasi waktu menjawab (berpikir) yang perlu diadaptasi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.

  • Kesepakatan kelas, adalah alat bantu yang menguatkan we mindset, meningkatkan keterlibatan murid dan guru dalam penerapan semua pendekatan 5M. Selama ini mungkin sebagian kita menyadari kepentingannya hanya untuk penumbuhan disiplin positif yang penuh kesadaran tanpa hukuman dan sogokan di kelas - tetapi sejatinya kesepakatan kelas mengarahkan perilaku yang jauh lebih kompleks bukan hanya terkait apa yang boleh dan tidak boleh secara aturan tetapi tentang apa dan kapan serta bagaimana perilaku individu maupun kelompok jadi lebih bernilai bagi pencapaian kompetensi dalam pembelajaran. Pastikan kesepakatan kelas Anda bukan hanya bicara tentang tata krama tetapi juga misalnya tentang bagaimana membaca dan menulis bersama.

  • Posisi guru secara fisik dalam ruang kelas, punya pengaruh yang jauh lebih besar dari yang kita duga terhadap iklim pembelajaran dan pesan yang dikirimkan kepada berbagai pemangku kepentingan. Seberapa sering guru bekerja bersama murid dari samping dan belakang, bukan hanya mengontrol kegiatan dari depan, berkolerasi positif dengan persepsi murid tentang personalisasi dalam pembelajaran.

  • Pengelompokkan murid yang direncanakan dengan ekstra hati-hati berdasar tujuan pembelajaran dan jenis dinamika sosial kelompok belajar yang ingin difasilitasi adalah strategi yang juga terbukti efektif, dan tanpa biaya sama sekali. Murid perlu berada dalam kelompok yang beragam, sehingga harus ada berbagai eksperimentasi dalam pengelompokkan sepanjang tahun ajaran (Bukan hanya berdasar abjad atau undian rombel sebagaimana yang dilakukan), tetapi lagi-lagi bila dikaitkan dengan tahapan dan tujuan pembelajaran, ada kalanya murid perlu berada di kelompok yang setara kemampuannya, yang berbeda tingkat kesiapannya atau yang bhineka demografinya. Guru yang menggunakan cara 5M, mengenal dan terus mendalami profil semua dan setiap muridnya, menggunakan kategorisasi multiaksis untuk berbagai keputusan di kelasnya, tetapi tidak pernah menggunakan label untuk mengancam atau memberi hadiah murid tertentu saja.

Guru mengembangkan kompetensinya dengan membuka pintu kelas pada teman sejawat, baik dalam bentuk observasi langsung dari pendidik lainnya, ataupun dengan merekam jalannya kelas, menonton dirinya bersama dengan rekan lain dan berefleksi bersama. Umpan balik yang berdasar kinerja otentik, amat istimewa untuk percepatan pengetahuan dan keterampilan kita. Sebagai psikolog klinis, saya amat terbiasa dengan setting kaca satu arah juga studi kasus di ruang praktik bersama senior maupun sebaya sesama psikolog dalam bekerja. Saya terperanjat pada saat masuk ke dunia pendidikan dan menemukan bahwa ruang kelas diperlakukan seolah tahta kerajaan yang dikuasai oleh satu atau dua orang tanpa adanya umpan balik konstruktif yang penuh keterbukaan. Kritik tak pernah dan tak seharusnya dipandang sebagai serangan personal dan dihindari dalam keseharian, menerima kritik sebagai dukungan adalah salah satu budaya yang amat sangat perlu kita sebarluaskan.

Bukankah menghabiskan waktu untuk saling belajar dan mengamati adalah tanda peduli? Bahkan rapat rutin kolaboratif di kalendar akademik sekolah, bila dirancang dengan baik, menjadi senjata rahasia yang melipatgandakan kualitas pembelajaran kita. Agenda yang jelas, benchmarking lintas kelas dan penggunaan data yang akurat, semua prinsip manajemen dan pengambilan keputusan profesional sesungguhnya sedang diuji lewat apa yang terjadi dalam diskusi antarguru yang seringkali kita lalui sebagai kewajiban yang tak banyak berarti.

Lompatan aksi dan capaian yang lebih tinggi lagi dalam pembelajaran di banyak sekolah dan madrasah terjadi, begitu para pendidiknya bukan saja membuka diri dan pintu kelasnya untuk monitoring kinerja, tetapi juga memperluas audience dari luar sekolah pada pameran karya dan hasil belajar murid-muridnya. Standard eksternal dan evaluasi dari dunia di luar sekolah (oleh mata baru orangtua, guru satuan pendidikan berbeda, apalagi ahli dan praktisi di bidang yang berkaitan dengan materi yang dipelajari murid kita), secara langsung menjadi alat diagnosa yang membantu guru dan muridnya di saat yang sama.

Salah satu strategi yang juga sering saya pakai untuk strategi asesmen adalah membalik peran murid dengan narasumber atau pembicara tamu di luar sekolah. Kalau biasanya murid mendengarkan mereka, ada periode-periode dimana mereka yang mendengarkan murid, bukan hanya sebagai juri kompetisi tetapi juga mitra diskusi atau bahkan mewawancara murid sebagai sumber data dan informasi. Kabar gembiranya, rekan-rekan baik hati dari luar sekolah yang datang dalam posisi “sebagai yang belajar” ini, selalu mengatakan bahwa pengalaman mereka jauh lebih menyenangkan dan ingin segera kembali ke satuan pendidikan bukan untuk melakukan sesuatu “pada murid” tetapi beraktivitas “bersama murid”. Reaksi muridnya? Juga sama antusiasnya dan terakselerasi proses belajarnya lewat interaksi dengan kelompok belajar yang “luar biasa” 😁

Peningkatan pelibatan murid dalam proses perencanaan, sangat esensial untuk penerapan personalisasi secara utuh. Semua proses bersama murid ini akan susah di awal, dan akan diwarnai penolakan, bahkan oleh murid-murid yang bersangkutan, karena ada perpindahan tanggung jawab. Bahkan di level nasional pada pemangku kebijakan pun, desentralisasi ke daerah atau otonomi sekolah selalu tak mudah, sehingga kesulitan proses ini ke murid pasti butuh peningkatan kapasitas berkelanjutan untuk menjadi lebih berdaya dan sampai ke titik memanfaatkan otonominya terhadap cara dengan baik untuk mencapai cita-cita bersama. Bagi pimpinan di level satuan pendidikan, perlu juga melakukan pendampingan ekstra pada guru-guru yang bertekad melepaskan kontrolnya. Mereka butuh dukungan agar merasa aman, tidak sekadar dibiarkan tergantung pada niat baik melakukan perubahan.

Sebagai guru dan kepala sekolah atau madrasah, kita selalu bisa memulai perubahan dengan perlahan. Revolusi yang terlalu cepat pasti menimbulkan ketidaknyamanan dan seringkali tidak menguntungkan dalam jangka panjang. Marmemulai dari satu kelas atau kelompok murid untuk percobaan, saya yakin penularannya akan terjadi dengan cepat dan gerakannya akan terus membesar.

Begitu banyak perubahan cara yang perlu kita upayakan, tradisi baru yang harus kita promosikan - karakter utama yang dibutuhkan di pendidik adalah keberanian, bukan kekakuan. Perubahan di pendidikan akan dan sudah terjadi, terlepas dari apakah kita pro perubahan ataupun anti. Kekuatan kita yang sesungguhnya diuji oleh bagaimana kita beradaptasi. Pesan yang terbukti efektif digunakan untuk membudayakan perubahan cara belajar-mengajar: Guru perlu terus belajar sebagaimana ia ingin muridnya belajar, guru harus terus mengajar sebagaimana dulu ia berharap diajar.