Konten dari Pengguna

Rumus Cinta Mati

Najelaa Shihab

Najelaa Shihabverified-green

Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pasangan. Foto: Gorodenkoff/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pasangan. Foto: Gorodenkoff/shutterstock

Banyak teori untuk belajar tentang cinta, yang kadang membuat kita bertanya apakah orang dengan intelegensi tinggi lebih mahir menguasai formula untuk memelihara cintanya sampai mati. Cinta adalah rasa yang sangat kompleks, tidak pernah hanya tentang orang yang dicintai tetapi tentang subyek yang mencintai. Intelegensi tinggi, menurut riset, membuat proses jatuh cinta jadi lebih banyak komplikasi.

Pengalaman jatuh cinta, seringkali terjadi tiba-tiba, berlawanan dengan proses analisis yang biasanya dilakukan dengan super hati-hati, tanpa terlalu mempertimbangakan rasa. Cinta yang katanya buta, saat didekati dengan skeptisme bahkan curiga, bisa menyelamatkan kita dari kisah buruk yang merugikan, tetapi juga bisa menghambat keintiman karena hubungan yang pada akhirnya hanya sampai di permukaan.

Sampai di sini, mungkin banyak yang mengira punya IQ tinggi, mengurangi kemungkinan kita menemukan cinta yang dinanti. Tunda dulu asumsi di hati.

Riset lain menunjukkan, pengalaman menjaga cinta, butuh kemampuan refleksi tentang apa yang kita alami, empati terhadap apa yang dirasakan pasangan dan juga antisipasi terhadap apa yang masing-masing butuhkan untuk terus menguatkan hubungan. Di sini, justru kecerdasan bisa jadi modal yang menguntungkan.

Kesimpulan saya: relasi bukan tentang rumus yang perlu dihafalkan, apalagi taktik permainan yang perlu dimenangkan, tetapi konsistensi untuk mengerahkan segala daya upaya dalam mengungkapkan dan menerima cinta yang beragam bahasanya. Cinta akan jauh lebih berkelanjutan dan mudah bagi siapapun yang siap belajar (dan beradaptasi) bersama (calon) pasangannya.

Ada lagi aspek dalam diri yang ditemukan pada orang-orang yang merasakan cinta sejati, mereka seringkali justru bisa menikmati malam minggu sendiri, dan bukan melihatnya sebagai suatu tragedi. Ada independensi, ada keyakinan bahwa ia bisa memenuhi kebutuhan emosional diri sendiri.

Yang sering kita salah pahami, mandiri dalam cinta, punya kekhasannya. Berbeda dengan tujuan kemandirian secara personal, mandiri dalam cinta adalah upaya diri untuk mencapai tujuan bersama yang saling berhubungan. Kemandirian dalam berpasangan, tidak muncul dalam bentuk tujuan atau harapan yang tak realistis pada kesempurnaan hubungan. Kemandirian juga bukan berarti menghindari rasa saling membutuhkan. Standar tinggi akan empati dan ekspresi cinta yang menghangatkan hari, jelas bukan tanda “needy”.

Merasa cukup akan apa yang dimiliki, menilai cukup semua yang pasangan lakukan dengan sepenuh hati adalah bukti bahwa kita dengan sengaja tidak memilih kesendirian tetapi juga tidak menuntut kerekatan berlebihan. Hubungan seperti inilah yang menumbuhkan kemandirian perseorangan, sekaligus kemesraan antar pasangan.

Lebih susah dari belajar matematika atau sejarah? Tentunya! :)

Dua opini membutuhkan satu keputusan untuk melakukan sesuatu yang bukan hanya demi kepentingan diri sendiri. Dua pengalaman, mengharuskan kita menunaikan ratusan janji, yang saat ditepati akan jadi fondasi koneksi dan saling menghormati. Puluhan kesalahan, diatribusikan sebagai ketidaksengajaan, kita perlu melihatnya dengan lensa yang penuh ke-positif-an. Ribuan kesempatan percakapan, digunakan untuk berbagi impian, tetapi juga selalu dipenuhi keterusterangan apa yang dibutuhkan secara fisik maupun emosional yang perdebatannya jadi ujian berguna untuk menambah keintiman.

Sesungguhnya, jatuh cinta, apalagi jatuh cinta berkali-kali dan memilih orang yang sama sampai mati, bukan karena pujian yang didapatkan dalam segala kondisi tapi karena ada kebiasaan saling mensyukuri. Mencinta dan dicinta, adalah memilih membangun satu koalisi dengan orang yang sama setiap hari, yang jadi energi, justru di periode terberat (yang pasti hadir!) dalam hidup ini.

Yang layak jadi cita-cita kita semua: I am in love because the love within me grow, endlessly.