Konten dari Pengguna

Semua Murid Semua Guru: Belajar dari Anak

Najelaa Shihab

Najelaa Shihabverified-green

Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses belajar di sekolah. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Proses belajar di sekolah. (Foto: Thinkstock)

Kebanyakan guru adalah individu yang mampu menjalin hubungan baik dengan orang lain. Riset menunjukkan keterampilan membina relasi ini merupakan salah satu karakteristik utama orang yang memilih profesi ini dan salah satu yang paling sering digunakannya dalam pekerjaan.

Sayangnya, kebanyakan kita mempraktikkannya pada sesama orang dewasa; kepada guru lain, kepala sekolah atau orangtua murid. Belum semua guru mampu menjalin hubungan yang kuat dengan anak.

Jalinan hubungan antar manusia, selalu berkait peran. Dalam hubungan belajar-mengajar, guru yang merasa perannya adalah memberikan ilmu pengetahuan dan segala kebenaran dimilikinya, akan memiliki cara mengajar berbeda dengan guru yang merasa yakin bahwa perannya adalah fasilitator proses belajar untuk menggunakan berbagai sumber yang sesuai.

Guru yang berperan sebagai fasilitator akan mencoba menjalin hubungan yang baik dengan sumber-sumber belajar lain, pembicara tamu, tokoh masyarakat, berinteraksi dengan teknologi dan informasi dan seterusnya. Tetapi pemahaman peran inipun, tidak cukup membuat ia mampu belajar dari anak. Di saat kurikulum diatas kertas sudah berubah menjadi lebih berorientasi murid, paradigma belajar dari anak semestinya lebih mudah diimplementasikan. Namun, kurikulum didalam kelas sampai saat ini masih lebih banyak berorientasi pada guru dan orang dewasa.

Pembeda utama guru yang belajar dari anak adalah paradigmanya, bahwa anak hadir di ruang belajar untuk mengendalikan dirinya sendiri dalam proses belajar. Anak terlibat menentukan tujuan, anak mengekspresikan cara yang dipilihnya. Peran awal guru belajar mengenai karakteristik anak sebagai pelajar. Guru yang belajar dari anak, tidak pernah bertanya, apa yang bisa dilakukan oleh anak untuk sekolah, tetapi sebaliknya - apa yang bisa dilakukan sekolah (pendidikan) untuk anak.

Salah satu contoh utama yang paling sering saya berikan adalah bagaimana kepercayaan bahwa anak mau dan mampu belajar begitu tinggi di usia dini; orangtua maupun guru yakin anak bisa berjalan dan berbicara tanpa angka yang jadi sogokan, tanpa instruksi yang membosankan. Tetapi begitu anak belajar membaca, atau belajar matematika, kepanikan seolah menggantikan semua kepercayaan.

Anak dianggap perlu dipacu dengan waktu (ujian atau tahun ajaran) bukan dipacu rasa ingin tahu akan dunianya. Anak dipandang perlu dibiasakan beban penilaian dari luar, bukan ditumbuhkan tanggungjawab menilai perjalanannya sendiri. Mempraktikan belajar dari anak, berarti guru mengenal karakteristik anak dan menyesuaikan dengan kesiapan anak.

Tentu tidak semua guru otomatis bisa menjalankan peran belajar dari anak, hanya dengan percaya pentingnya paradigma ini. Guru butuh pengembangan kapasitas diri dan dukungan lingkungan untuk mampu mempraktikan ini.

Dalam pengalaman saya, kemampuan guru untuk mengobservasi anak dengan detil adalah salah satu faktor kunci. Mampu melihat perkembangan anak dalam berbagai aspek, bukan hanya yang langsung kasat mata dan bisa dibandingkan dengan ukuran angka, membantu kita membuat indikator proses belajar yang beragam dan mengurangi kepanikan. Mampu menemukan pola, mengapa anak melakukan perilaku atau kesalahan tertentu, membuat kita mampu mengidentifikasi masalah dan mendiferensiasi belajar dan mengajar yang berbeda. Guru yang belajar dari anak paham tahap perkembangan dan pembelajaran. Ia punya harapan yang tinggi pada muridnya, yakin bahwa ia mampu mencapai tujuan pembelajaran dan melewati tantangan. Walaupun, dalam titik tertentu kadang kesiapannya belum optimal, guru memberikan waktu dan kesempatan, bukan mematikan harapan dan keyakinan.

Kesulitan utama kita adalah banyak sekali agenda sendiri dalam bentuk tujuan pembelajaran atau peraturan yang ingin kita paksakan. Kita merasa belajar dari anak sama dengan menambah hambatan perjalanan atau beban di peran kita di pendidikan. Padahal, memberikan anak kesempatan didengarkan, membuat anak akan lebih sering mendengarkan kita.

Mendukung keberhasilan anak dengan tujuan yang dipilihnya, akan membuatnya lebih mudah bekerjasama dalam juga mensukseskan tujuan guru dan tujuan bersama. Guru yang belajar dari anak, membuat anak mendapat teladan cara terbaik untuk juga belajar dari guru. Hubungan guru dengan anak menjadi hubungan yang saling menguatkan, bukan direndahkan dengan pertarungan kekuatan.

Anak adalah sekutu utama kita dalam proses belajar-mengajar. Semakin cepat kita mengenal dan memberdayakannya, semakin mudah pencapaian kita bersama. Belajar adalah perjalanan panjang yang bukan untuk menyeragamkan dan menstandarkan. Kalau pendidikan bertujuan menyamaratakan, menjadi sangat mudah menggantikan peran guru dengan mesin dan aplikasi digital.

Kita percaya kekuatan guru adalah kemampuannya untuk belajar dari anak, bukan hanya dari data jawaban ujian, tetapi dari setiap sentuhan dan percakapan. Kita yakin, memilih menjadi guru bukan cuma sekedar tuntutan pekerjaan, tetapi memenuhi panggilan masa depan, yang diwakili oleh anak-anak yang paling membutuhkan dukungan.

Tulisan #GuruBelajar lainnya cek Surat Kabar Guru Belajar edisi 12 di sini

Semua Murid Semua Guru: Belajar dari Anak (1)
zoom-in-whitePerbesar