Semua Murid Semua Guru: Bermain dengan Penuh Kesungguhan

Pendidikan adalah belajar, bergerak, bermakna. Pendidik adalah kita, Semua Murid Semua Guru
Tulisan dari Najelaa Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu bagian yang paling mengherankan saya sebagai pendidik selama ini, betapa kecilnya perhatian orang dewasa pada bermain dan permainan. Saat memilih sekolah, yang selalu ditanyakan adalah jam atau buku pelajaran, bukan lamanya jam istirahat dan bermain.
Saat mengobservasi di rumah, yang selalu diperbandingkan adalah capaian prestasi bukan banyaknya manfaat lewat permainan. Padahal, pendidikan dan main adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Kebahagiaan yang didapatkan lewat bermain dan permainan, tidak bisa tergantikan kepentingannya dalam proses tumbuh kembang manusia segala usia. Salah satu prinsip terpenting mencintai dengan lebih baik dalam keluarga, adalah asyik bermain bersama.
Salah satu prinsip terpenting mencintai dengan lebih baik dalam keluarga, adalah asyik bermain bersama.
Kebahagiaan dari main lengkap maknanya, karenanya dampaknya secara jangka panjang bermanfaat untuk semua. Emosi positif selalu muncul dalam permainan, bisa mengubah mood anak maupun orang tua menjadi lebih baik dalam waktu cepat. Tawa dan canda, punya pengaruh instan pada jiwa dan raga.
Keseruan permainan memunculkan keterlibatan, semua anggota keluarga bergerak dan menunjukkan perhatian--bukan hanya pasif menanti hiburan. Bermain juga selalu menghadirkan tantangan, pilihan kegiatan yang saat berhasil kita selesaikan menghasilkan kepuasan. Karenanya, jangan heran bila bermain menyebabkan kecanduan.
Anak memintanya berulang-ulang, orang tua yang awalnya lupa caranya, tiba-tiba jadi punya berbagai ide yang ingin dicoba. Tanpa disadari, kebiasaan baru dalam keluarga tercipta. Kekuatan hubungan keluarga yang dijalin lewat permainan, selalu melengkapi kelekatan perasaan dan ikatan tanggung jawab.

Sesungguhnya, semua bagian dari prinsip mencintai dengan lebih baik, saling berkaitan. Karenanya, dalam keasyikan bermain bersama, kita perlu selalu mencari cara. Jenis permainan, dengan segala keseruan dan tantangan, perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.
Bermain bukan hanya untuk anak usia dini, fungsinya tetap sama besarnya dalam mencapai tujuan pengasuhan, sampai anak kita berusia belasan, bahkan puluhan. Kesenangan membaca tidak berhenti saat anak tidak perlu dibantu mengeja atau tidak bisa dipangku di sofa, berlanjut terus dengan saling bercerita, menganalisa, dan membuat naskah drama bersama sang remaja.
Dalam permainan, sebetulnya kita juga menunjukkan kepercayaan dan mengingat impian tinggi bagi diri maupun anak sendiri.
Dalam permainan, sebetulnya kita juga menunjukkan kepercayaan dan mengingat impian tinggi bagi diri maupun anak sendiri. Permainan melibatkan berbagai ekspektasi. Ada ambisi yang ingin dicapai, ada kondisi yang menjadi syarat saat menjalani. Permainan papan misalnya, mempraktikkan berbagai strategi, juga mengontrol diri agar tidak curang walau ingin sekali.
Permainan selalu penuh drama. Namun, berbeda dengan emosi sehari-hari yang menantang dikelola oleh orang tua, drama dalam permainan justru harus diterima. Berpura-pura bergantian peran misalnya, selain melatih kerjasama dan saling mendengar dalam keluarga, juga membebaskan imajinasi yang bermanfaat untuk menghadapi dunia nyata.
Permainan juga memberi kesempatan salah dalam situasi yang aman bagi semua. Mencoba mainan baru tanpa takut dimarahi ibu, menghabiskan waktu bersama ayah tanpa khawatir diburu-buru, berinteraksi dengan kakek-nenek dalam situasi tanpa terlalu banyak dinasehati, bersaing dengan sepupu yang tanpa dibandingkan dan dihakimi. Kenyamanan saat permainan, jadi modal untuk ditularkan dalam hubungan keseharian.
Sayangnya, segala manfaat dari bermain dan permainan, belum dipraktikkan di banyak keluarga kita. Kalaupun kita tidak sempurna--belum konsisten melakukannya, belum optimal menjalankannya--kita perlu lebih sering saling berbagi cerita.
Mari terus percaya bahwa pengasuhan adalah urusan bersama, dan merangkul lebih banyak keluarga untuk asyik bermain bersama.

Catatan: tulisan ini dibuat sebagai pengantar untuk buku “Mama Bisa Bikin Playdate Sendiri” dari Productive Mamas
