Pencarian populer

Semua Murid Semua Guru: Kebangkitan yang Berpihak pada Anak

Hari Pendidikan Nasional di Jawa Barat. (Foto: Antara/Agvi Firdaus)

Percakapan tentang anak adalah percakapan yang sering tertinggal saat membicarakan kebangkitan dan pembangunan. Hampir semua orang menganggap anak adalah citizen in waiting, mengabaikan peran aktif mereka di dalam negara, saat ini. Bahkan dalam pembahasan tentang kebijakan dan praktik pendidikan Indonesia pun, pertanyaan tentang apa kepentingan anak sering dilupakan.

Saat ujian, anak dituntut bekerja keras untuk angka yang menjadi capaian sesuai standar yang ditentukan. Dalam pengasuhan, sudut pandang anak seolah hanya relevan saat ia menjadi korban kekerasan.

Tak heran, gerakan perubahan kita, miskin sudut pandang dan pemberdayaan anak. Kita terus mengabaikan potensi 83,9 juta anak Indonesia (33% dari populasi menurut Survei Penduduk 2015), yang semestinya bisa jadi bagian dari kebangkitan nasional.

Sesungguhnya, berbagai bukti perubahan yang digerakkan oleh anak, telah menjadi bagian dari sejarah dunia. Malala Yousfaliza, meraih Nobel Perdamaian di usia 17 tahun atas perlawanannya terhadap Taliban.

Sekelompok anak sekolah menengah di Marjory Stoneman Douglas Florida yang mengalami penembakan massal, menggerakkan March for Our Lives, Jack Andraka menghasilkan riset monumental untuk diagnosa kanker pankreas, Asean Johnson di usia 9 tahun menghentikan kebijakan penutupan sekolah di Chicago. Di Indonesia, salah satu contohnya, Melati dan Isabel Wijsen yang memulai gerakan “Bye Bye Plastic Bag” dari pulau dewata.

Salah satu hal yang paling membahagiakan dalam perjalanan saya setiap hari di pendidikan adalah belajar dari anak, bekerja bersama anak - bukan melakukan sesuatu untuk mereka. Bahkan anak usia 5 tahun di bangku Taman Kanak-Kanak sudah berusaha menjadi penentu keberhasilan kebijakan hemat energi dengan mematikan lampu dan mengawasi yang lebih tua, juga mengkampanyekannya ke rumah dan sekolah di wilayah yang sama.

Anak usia 15 tahun berhasil menganalisa kemasan panganan hasil pertanian dan meningkatkan penjualan sekaligus pemasukan usaha kecil di masyarakat sekitar.

Dunia yang penuh informasi, digitalisasi dan globalisasi, membuka banyak kesempatan menumbuhkan penggerak bahkan sejak dini. Syaratnya, anak-anak didengarkan dengan penuh empati karena percaya bahwa ia punya pemahaman yang berarti.

Kadang saya bertanya, apa yang terjadi pada dunia, bila isinya hanya orang dewasa yang ragu pada kemampuannya untuk berdaya atau tujuan perilakunya hanya masa beberapa tahun kedepan saja.

Anak-anak yang penuh imajinasi dan tidak mudah berkompromi, punya potensi berkontribusi untuk perubahan negeri. Kuncinya, anak-anak yang diberi ruang dan tantangan berkarya, bukan hanya beban atau beasiswa sekolah.

Salah satu peribahasa Afrika yang sangat populer mengatakan; “It takes a village to raise a child”, ungkapan ini tentu benar, kita semua perlu terlibat dalam pengembangan anak, dalam pendidikan. Tapi di Hari Kebangkitan Nasional ini, saya ingin mengajak kita semua percaya, bahwa “It takes a child to raise a village”.

Mari memberi lebih banyak suara kepada anak-anak kita, sesungguhnya asa dan bara untuk bangsa menjadi nyata saat kita berjuang bersama mereka.

#HariKebangkitanNasional

#SemuaMuridSemuaGuru

bit.ly/semuamuridsemuaguru

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Senin,20/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya18:59
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.20