Badut Jalanan dan Masalah Ekonomi Indonesia di Masa Pandemi COVID-19

Seseorang yang aneh sampai-sampai bisa disebut bukan orang dan memiliki wahatsapp yang photo profilenya seekor bebek biru yang sedang tersenyum gembira sembari melambaikan tangan yang menandakan sedang menyambut kepulangan seseorang yang sedang pergi
Tulisan dari Ahmad Najib tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak dapat dipungkiri, adanya wabah COVID-19 membawa banyak dampak negatif terhadap seluruh aspek di Inonesia. Salah satu aspek yang paling terdampak adalah aspek ekonomi. Perekonomian di Indonesia yang sebelum pandemi masih dalam tahap berkembang, saat ini dibuat kacau oleh datangnya wabah virus COVID-19.
Banyak bisnis yang hancur akibat adanya COVID-19. Hal ini tentunya disebabkan akibat kegiatan masyarakat yang dibatasi selama masa pandemi. Tidak hanya bisnis-bisnis kecil yang mengalami kemunduran, tetapi bisnis-bisnis yang diperankan oleh perusahaa-perusahaan besar juga mengalami kerugian yang fantastis. Akibatnya, perusahaan-perusahaan banyak melakukan pemberhentian hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya.
Selain perusahaan dan pebisnis, para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga dibuat frustasi karena minimnya daya beli masyarakat selama masa pandemi COVID-19. Hal ini karena seluruh masyarakat sedang dalam kondisi yang memprihatinkan. Selain itu, adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) membuat tempat mereka berdagang menjadi sepi.
Akibatnya, banyak masyarakat yang kehilangan lapangan pekerjaan yang menjadi tempat mereka mencari nafkah. Mereka bingung dan tidak tahu apalagi pekerjaan yang akan mereka lakukan demi mendapatkan sepeser rupiah. Kemudian masyarakat hanya bisa pasrah dan berasumsi apapun itu pekerjanya, akan mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan rela mengemis di jalanan demi mendapatkan uang. Cara yang mereka pilih juga bermacam-macam. Salah satu yang paling banyak ditemukan adalah profesi badut jalanan.
Sebelum adanya pandemi COVID-19, jarang sekali ditemukan badut-badut terjun langsung di jalanan. Biasanya badut hanya dapat dilihat di tempat hiburan atau tempat wisata saja. Tetapi, setelah datangnya pandemi COVID-19 banyak ditemukan badut-badut di jalanan yang meminta-minta.
Badut-badut jalanan berdandan layaknya badut penghibur pada umumnya yang memakai topeng dan kostum warna-warni yang lucu. Mereka meminta-minta di jalanan dengan pembawaan yang ceria dan lucu serta diiringi musik berirama bahagia. Demi tidak menganggur, badut-badut jalanan rela berjalan jauh kesana kemari dan berjoget riang gembira.
Biasanya, badut-badut jalanan akan mendatangi rumah-rumah warga atau toko yang berada di pinggir jalan dengan gaya berjoget riang dan diiringi musik ceria, lalu menadahkan ember kecil untuk meminta uang. Mereka lebih sering menggunakan lagu anak-anak sebagai pengiring jogetan mereka. Atau, mereka juga biasanya berjoget di trotoar yang dekat dengan lampu merah, lalu mengetuk satu per satu kaca mobil atau menghampiri para pengendara motor untuk meminta uang.
Pada dasarnya, menjadi badut jalanan tidaklah salah dan bukan merupakan sesuatu yang diharamkan. Tetapi, di sisi lain profesi badut jalanan ini tentu mendapat banyak respon dan citra negatif dari masyarakat. Selain karena meminta-minta, profesi badut jalanan juga dinilai dapat menimbulkan tindakan kriminal baru di lingkungan masyarakat.
Ini adalah salah satu bentuk krisis ekonomi di Indonesia yang timbul akibat pandemi COVID-19. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan akhirnya memilih menjadi badut pengemis di jalanan. Hal ini tentu menjadi tanggung jawab besar bagi pemerintah untuk mencari cara agar perekonomian masyarakat Indonesia segera pulih kembali. Pandemi COVID-19 juga harus ditangani dengan serius agar pemerintah dapat lebih mudah dalam memulihkan perekonomian Indonesia. Sehingga nantinya dapat mengurangi masyarakat yang mengemis rupiah di jalanan.
