Konten dari Pengguna

“Hantu” Erros Djarot dan Hal-hal Lainnya: Testimoni Guntur, Laks, Bimantoro, dkk

Najib Azca

Najib Azca

Dosen Sosiologi UGM

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najib Azca tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Suatu hari di bulan Oktober 1999. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia sedang menggelar Sidang Istimewa (SI) sejak tanggal 14 Oktober. Aku berada di sebuah apartemen di Senayan, tak jauh dari Gedung DPR-MPR, tempat berlangsung sidang Istimewa itu.

Ada Erros Djarot, Laksamana Sukardi, dan Zulvan Lindan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) meriung di sana. Ada juga Ricardo Hutauruk alias Dodo, sekretaris pribadi Megawati Soekarnoputri. Seingatku, ada juga Slamet Rahardjo Djarot dan Marsillam Simanjuntak—entah sebagai apa.

Waktu itu baru saja dilangsungkan sesi Laporan Pertanggung Jawaban oleh Pejabat Presiden BJ Habibie—yang ditolak oleh anggota MPR yang bersidang. Akibatnya, pengganti Presiden Suharto yang mengundurkan diri pada Mei 1998 itu memutuskan untuk tidak mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dalam SI-MPR. Sidang pun jadi riuh dan ramai.

Melalui sejumlah akrobat politik, “Poros Tengah” yang dipimpin Amien Rais akhirnya berhasil mendudukkan Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, menjadi Presiden RI periode 1999-2004. Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDIP, yang merupakan pemenang Pemilu 1999 dengan perolehan suara 33% gagal merebut kursi puncak politik itu.

Kerusuhan meledak di sejumlah kota, terutama basis PDIP. Akhirnya, melalui sejumlah proses dan diplomasi politik yang alot, Megawati bersedia dan terpilih sebagai Wakil Presiden. Pelantikan Gus Dur-Mega sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 1999-2004 dilakukan pada 20 Oktober 1999.

Aku menyaksikan peristiwa pelantikan bersejarah itu di layar kaca di apartemen itu sebagai jurnalis muda tabloid DeTAK yang diterbitkan dan dipimpin oleh Erros pasca kejatuhan Suharto pada 1998. Di sana juga aku sempat menyaksikan peran politik di belakang layar yang dimainkan oleh Erros Djarot: menuliskan draft pidato yang akhirnya dibacakan oleh Megawati sesaat setelah dilantik sebagai Wakil Presiden.

Laks, panggilan akrab Laksamana Sukardi, menjadi penghubung antara Erros dengan Mega. Laks dan Zulvan bolak-balik dari apartemen itu ke Gedung DPR-MPR. Draft pidato ditulis oleh Erros lalu dicetak dengan printer sederhana dan dimasukkan ke dalam sebuah map untuk dibaca dan mendapat acc dari sang Matriakh: Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP, partai politik terbesar dalam Pemilu 1999.

Selama ini aku menyimpan saja kenangan terhadap peristiwa itu. Juga ihwal berbagai peran politik di balik layar Erros Djarot yang sempat kuketahui sebagai jurnalis tabloid DeTIK (1993-1994) dan kemudian DeTAK (1998-2000). Peran istimewa sutradara film Tjoet Njak Dhien itu akhirnya dibuka byak oleh Laksamana Sukardi dalam tulisan berjudul “Erros Djarot, the Phantom of the Opera”.

Tulisan itu merupakan salah satu tulisan terpenting dalam buku yang baru saja terbit bertajuk Erros Djarot, Apa Kata Sahabat. Diterbitkan oleh Lingkar Budaya Cerdas pada Agustus 2025, buku setebal 646 halaman itu kuterima persis pada Jumat petang, 5 September lalu.

Gambar buku Erros Djarot. Foto: Dok. Istimewa

Buku itu memuat 72 tulisan dari sahabat Erros Djarot (ED) yang kemudian dibagi menjadi 4 Bab, berdasarkan rentang kurun interaksi dengan ED. Bab 1, mereka yang paling awal kenal dan dekat dg “si kumis”—panggilan akrab ED di sejumlah lingkaran— terutama di masa kecil dan masa remaja.

Di bagian ini termasuk Slamet Rahardjo Djarot (kakak sulung), Guntur Soekarno Putra (anak sulung Bung Karno), Harry Tjan Silalahi (tokoh dan pendiri CSIS), Suko Sudarso (aktivis senior GMNI), Christine Hakim (artis) dan Melanie Morrison (aktivis dan jurnalis).

Nama dan tulisanku ternyata terselip di Bab 2: orang yang mengenal Erros agak belakangan dan berkecimpung di dunia jurnalistik, politik, serta kesenian. Sejumlah nama jurnalis DeTIK yang dulu dipimpin Erros ada di situ: Saifullah Yusuf, M. Thoriq, Yusuf Arifin, AS. Laksana, Hendrajit, Didik Supriyanto, Janoe Arijanto dan Yayan Sopyan.

Oh iya, ada juga Muhaimin Iskandar (sempat jadi staf litbang DeTIK jelang dibredel), Ngatawi Al-Zastrouw (aspri Gus Dur) dan Yenni Wahid (putri Gus Dur yang sempat magang desain di DeTIK). Yang unik, menyelip juga di situ Jenderal Suroyo Bimantoto, mantan Kapolri di masa Presiden Gus Dur dan Megawati.

Di Bab 3 ada sejumlah tokoh politik, aktivis dan budayawan, seperti SBY, Hatta Rajasa, Ganjar Pranowo, Pramono Anung, Zulfan Lindan, Jaya Suprana, Andi Sahrandi, dan Dita Indah Sari. Yang menarik juga ada Jeffrey Winters, professor ilmu politik dan perbandingan pemerintahan di Universitas Northwestern yang rupanya penggemar music Erros dan banyak membantu Erros di kancah internasional. Sedang di Bab 4 ada Amien Rais, Mahfud MD, Anies Baswedan, Sutiyoso, Magnis Suseno, Ferry Joko Juliantoro, Amanda Katili serta Irma Suryani Chaniago. Sungguh spektrum tokoh yang luas dan berwarna-warni.

***

Mantan Menteri BUMN, Laksamana Sukardi usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (10/7). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Kembali ke uraian Laksamana Sukardi, sahabat lama Erros saat berkiprah di PDI (kemudian berganti menjadi PDIP), bersama dengan Kwik Kian Gie, Sophan Sophiaan, dkk. Laks merupakan Bendahara Umum DPP PDIP pada periode awal kepemimpinan Megawati. Latar belakangnya sebagai bankir professional membuatnya cakap mengelola keuangan partai politik. Ia kemudian menjadi Menteri Negeri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada saat Megawati menjadi Presiden tahun 2001-2004.

Dalam tulisannya Laks menggambarkan Erros bagaikan “hantu di panggung opera politik” seperti tertulis pada hal 387:

“Sebenarnya apa yang saya alami dan saksikan, Mas Erros merupakan seorang “sutradara” yang berhasil melahirkan Megawati menjadi pemimpin nasional. Tidaklah berlebihan jika saya mengatakan hal tersebut, karena Mas Erros telah menjadi mentor yang memberikan arahan-arahan politik kepada Mbak Mega. Harus bagaimana, harus bertemu siapa, harus bicara apa, dan kapan waktunya muncul. Tidak hanya itu saja, Mas Erros juga membantu menulis pidato-pidato politik yang spektakuler sehingga membentuk persepsi rakyat bahwa Mbak Mega Adalah seorang pemimpin yang visioner dan menjadi dambaan “wong cilik”.

Tentu, tak banyak yang tahu tentang hal itu kecuali segelintir orang di seputar Mbak Mega. Untuk waktu yang lama Erros tak banyak bercerita kecuali kepada sejumlah teman dekat dan lingkungan terbatas. Kabarnya, sebagian dari cerita itu kini tengah ditulisnya dalam buku Otobiografi yang belum juga selesai ditulis—kabarnya sudah lebih dari 1200 halaman.

Gambar buku Erros Djarot. Foto: Dok. Istimewa

Yang menarik, peran penting Erros dalam perjalanan politik Mega terjegal justru ketika puteri Bung Karno itu sampai di puncak politiknya: terpilih sebagai Wakil Presiden pada 1999 dan kemudian menjadi Presiden pada 2001-2004. Kenapa begitu?

Laks menulis pada halaman 389:

“…saat Mbak Mega menjadi Wakil Presiden. Mas Erros langsung “dicekal” oleh Mas Taufik Kiemas. Mas Erros tidak boleh bertemu dengan Megawati dan akhirnya Megawati mengalami kekalahan dalam pemilihan presiden pada 2004. Tanpa kehadiran Mas Erros, PDIP berubah total dan Mbak Mega terbuai dengan kesibukan dan privilege sebagai presiden, sehingga mengabaikan kebutuhan hadirnya “Si Kumis, the Phantom of the Opera” atau “sutradara di balik layar” yang dibutuhkan untuk memenangkan Pilpres 2004.”

Tentu, pendapat dan analisis Laks ini bisa dibantah dan dipedebatkan. Namun fakta bahwa sejak 2004 hingga 2009 Megawati tidak berhasil meraih kembali posisi Presiden dalam Pilpres sepertinya memberi konfirmasi terhadap analisis tersebut.

Peran penting Erros di balik tampilnya Megawati, seorang ibu rumah tangga biasa, dalam politik Indonesia juga dikonfirmasi oleh Guntur Soekarno Putera, anak sulung pasangan Soekarno dan Fatmawati. Dalam tulisan pendek namun lugas, sosok yang acap dipanggil Mas Tok ini menulis:

“Dengan kami sekeluarga, Erros sudah dianggap bagian dari keluarga Bung Karno, terutama dengan Ibu Fatmawati hubungan Erros sudah seperti anak sendiri. Beberapa dekade yang lalu, saya memang pernah memintanya agar dia mendampingi adik saya, Megawati, yang akan maju sebagai calon Ketua Umum PDI (Partai Demokrasi Indonesia). Mengapa saya meminta kepadanya, padahal masih banyak kader yang lain? Karena saya yakin akan kemampuan Erros dalam berpolitik dengan segala macam manuver-manuvernya.”

Yang lebih mengejutkan, Guntur menceritakan bahwa saat Megawati terpilih sebagai Presiden Kelima RI, dirinya mengusulkan kepada Mega agar Erros diangkat dan ditunjuk sebagai Menteri Sekretaris Negara. Namun, seperti kita tahu, ternyata Megawati justru memilih Bambang Kesowo sebagai Menteri Sekretaris Negara. Menurut Laks, keputusan itu mengikuti saran dari Moerdiono, mantan Mensesneg dalam kabinet Presiden Soeharto (halaman 386). Mengapa Mega mengambil keputusan itu hingga kini masih menjadi misteri….

Kesaksian menarik lainnya disampaikan oleh Jenderal Bimantoro, mantan Kapolri pada 2000-2001. Ia menjabat sebagai Kapolwiltabes Surabaya pada 1993-1996 pada saat berlangsung Konferensi Luar Biasa (KLB) PDI di Asrama Haji Sukolilo yang menghasilkan Megawati terpilih sebagai Ketua Umum PDI—meski kemudian tidak diakui oleh pemerintah.

Dalam tulisannya, Bimantoro menjelaskan secara detail bagaimana Erros secara cerdik memainkan sejumlah peran politik akrobatik (termasuk melalui kontak dengan anak-anak Presiden Soeharto) sehingga Megawati bisa terpilih meski tidak dikehendaki oleh pemerintah pusat.

Kesaksian lain dituliskan oleh Didik Supriyanto, jurnalis DeTIK yang waktu itu ditugaskan meliput acara. Mantan Pemimpin Redaksi Majalah UGM Balairung itu ditugaskan meliput di bawah koordinasi Budiono Dharsono, Redaktur Eksekutif tabloid DeTIK bersama dengan jurnalis senior asal Surabaya Muhammad Anis. Didik, yang di kemudian hari menjadi Sekjen Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 1999-2001 dan Kepala Sekolah Jurnalisme AJI (2012-2014), membuat tulisan menarik mengenai kiprah Erros di PDI dalam artikel berjudul “Ketua Umum Defacto Partai Demokrasi Indonesia”.

***

Erros Djarot ekspresikan kecintaan kepada Indonesia lewat lagu Indonesiaku. Foto: Dok. Istimewa

Selain dimensi politik, bagian paling menarik dari buku menurutku mengulas dimensi personal biografis dan spiritual dari Erros. Hal yang subtil dan tak mudah diungkap, tentunya.

Tulisan terbaik dan terkuat dibuat oleh Slamet Rahardjo Djarot, kakak sulung dan sekaligus sahabat terdekat Erros, yang menulis artikel berjudul “Mr. Erros, Where is Slamet? Mr. Slamet, Where is Erros?” menceritakan secara detail perjalanan dan pengalaman masa kecil mereka berdua ketika bapak dan ibu mereka bercerai dan kemudian Slamet dan Erros nderek Mbah Kakung dari jalur bapak, yaitu Kiai Sjamsiar, putera dari Kiai Sudjak yang mengasuh sebuah pesantren di Lempuyangan, Yogyakarta.

Menurut penulusuran Ngatawi Al-Zastrouw (2025: 298-290), Kiai Sudjak merupakan kiai tasawuf yang berteman dekat dengan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Penulisan mantan asisten pribadi Gus Dur itu bahkan menemukan sejumlah sumber menyebutkan bahwa leluhur Erros merupakan Bani Alawiyyin dengan fam Alaydrus. Namun keluarga Erros tidak pernah membanggakan diri dan bahkan cenderung menutup nasab leluhurnya karena takut terjebak dalam sikap riya’ dan cenderung memilih bersikap tawadhu’.

Begitulah: Slamet dan Erros tumbuh bagai anak kembar yang diasuh di bawah ajaran spiritual tasawuf Jawa. Tugas Slamet Adalah menimba air untuk mengisi padasan atau tempat wudhu, sedang tugas Erros adalah menyiramkan air itu di halaman rumah. Slamet kecil pernah protes pada mbah kakung dan meminta bertukar peran dengan Erros; ia menyiram dan Erros menimba air. Tapi sang mbah kakung menolak protes itu: “Nggak bisa. Kamu kerjanya menimba. Tahu artinya nimba? Erros itu nyiram, dia bertugas supaya airnya rata”.

Slamet kecil hingga kini tetap tak mengerti persis apa maknanya. Tapi baginya, dia dan Erros memang memiliki fungsi dan tugas berbeda yang saling melengkapi. Seperti ditulis dalam penutup tulisannya (Djarot 2025: 14): “…saya jadi teringat pelajaran dari mbah kakung, bahwa saya ini penimba atau digger, sementara Erros itu penyiram atau feeder. Itu bedanya. Jadi kami memang seperti anak kembar. Kami tak pernah bertengkar.” Maka Slamet terkesima ketika membaca puisi Sapadi Djoko Damono yang berjudul Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari.

Lebih lanjut Slamet menulis:

“Coba Simak bait ini: matahari di belakangku dan kami tidak pernah bertengkar tentang siapa yang menciptakan bayangan. Itu sama seperti saya dan Erros. Bagus saya adalah bagus dia, jelek dia berarti jelek saya. Jadi memang sepertinya sama dengan pertanyaan: “Mr. Erros, Where is Slamet? Mr. Slamet, Where is Erros?” Itulah jawabannya soal kami berdua.”

Bagiku, pertanyaan dan sekaligus pernyataan itu terdengar sebagai postulat tasawuf yang filosofis. Entah, apakah hal-hal seperti ini juga termasuk menjadi bagian dari naskah otobiografis yang sedang ditulis Mas Erros.

Gambar buku Erros Djarot. Foto: Dok. Istimewa