Konten dari Pengguna

Membaca Mitsuo Nakamura: Peneliti yang Menjadi ‘Duta’ Islam Indonesia

Najib Azca

Najib Azca

Dosen Sosiologi UGM

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najib Azca tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berselfie dengan Prof Nakamura. Dok; istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Berselfie dengan Prof Nakamura. Dok; istimewa

Membaca buku setebal 700 halaman itu bagai membaca jejak panjang seorang peneliti tekun yang belakangan jadi ‘duta’ Indonesia. Begitulah Mitsuo Nakamura, guru besar antropologi di Universitas Chiba Jepang yang kini berumur 92–dan tetap enerjik berkarya. Dalam buku itu terekam jejak karyanya “Mengamati Islam Indonesia” sejak 1971 hingga 2023.

Ia datang ke Jogja pada 1970 sebagai mahasiswa doktoral Universitas Cornell untuk meneliti masyarakat muslim perkotaan di Kota Gede. Belakangan fokusnya bergeser menjadi studi ttg gerakan Muhammadiyah yang diterbitkan sebagai magnum opus berjudul The Cresent Arises over the Banyan Tree: A study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanesse Town oleh UGM Press pada 1983.

Gara-gara bertemu dan berkenalan dengan Gus Dur yang membaca dan mengapresiasi disertasinya, ia tertarik juga untuk meneliti tentang NU. Begitulah pada 1979 ia pertama kali menghadiri Muktamar NU ke-26 di Semarang—dan terus mengikuti perkembangannya hingga kini.

Kunjungan dan observasinya membuahkan sebuah artikel bertajuk Tradisionalisme Radikal: Catatan Muktamar Semarang 1979. Artikel ini kemudian diterbitkan dalam buku editan Greg Fealy dan Greg Barton berjudul Nahdlatul Ulama, Traditional Islam and Modernity in Indonesia oleh Monash Asia Institute pada 1996.

Buku itu dialihbahasan dan diterbitkan oleh penerbit LKiS pada 1997 dg judul Tradisionalisme Radikal: Persinggungan Nahdlatul Ulama-Negara dg kata pengantar oleh KH. Abdurrahman Wahid.

Dalam buku itu juga ada tulisan lain Nakamura bertajuk Krisis Kepemimpinan NU dan Pencarian Identitas Awal 1980an: Dari Muktamar Semarang 1979 hingga Muktamar Situbondo 1984.

Kedua tulisan tersebut diterbitkan kembali dalam buku ini.

Yang menarik, kendati awalnya mengkaji Muhammadiyah, Nakamura belakangan mengkaji NU dengan simpati dan empati yang sama kuatnya. Ia mampu melampaui bias peneliti asing yang umumnya melihat NU dengan mata terpicing: sebagai organisasi kolot & oportunis. Seperti terlihat pada judul tulisannya ia justru melihat NU sebagai organisasi Islam yg kritis dan bahkan bercorak ‘radikal’ terhadap negara.

Namun ia juga mampu menangkap spirit akomodatif NU yg belakangan terwujud dalam sikapnya menerima kebijakan ‘Asas Tunggal Pancasila’ oleh negara pada Muktamar Situbondo 1984. Dalam sebuah wawancara panjang dengan majalah Panji Masyarakat pada 1984, Nakamura mengapresiasi langkah itu sebagai pendekatan strategis NU terhadap isu ‘perdamaian sosial’.

Observasinya terhadap perkembangan terkini NU terlihat pada artikel nomor 60 berjudul NU Menyambut Era Baru dengan “Gus Dur Baru” yang terbit tahun 2022. Meski terhalang hadir karena pandemi COVID19 ia tetap cermat mengamati NU termasuk terhadap sosok pemimpin baru NU: Yahya Cholil Staquf yg dia beri julukan sebagai “Gus Dur Baru”.

Demikianlah catatan ringkas terhadap buku baru yang berisi 61 tulisan Nakamura sejak 1971 hingga 2023. Sekaligus sebagai apresiasi kepada Bung Kuss Indarto yg telah merekam paparanku dalam diskusi buku yang digelar di kampus UII pada 23 September 2025.

video youtube embed