Konten dari Pengguna

Serangan Sastra pada Kaum Milenial

Najiibah

Najiibah

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najiibah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay.

Seiring dengan perkembangan dunia teknologi, sastra mulai dilupakan saat ini. Kebosanan yang menjadi faktor utama saat kaum milenial mulai melupakan sastra sehingga media sosial yang saat ini menjadi primadona untuk kaum milenial. Perlu adanya serangan sastra berupa gerakan agar kebosanan hilang dan sastra dapat terus diingat dan dilestarikan dalam masa apapun.

Gerakan-gerakan sastra yang baru memungkinkan adanya ketertarikan kaum milenial untuk mencintai dan melestarikan sastra. Gerakan-gerakan itu dimulai dengan adanya dorongan dan semangat dari sekolah dan guru sebagai pembimbing untuk menciptakan cara baru dan memberikan media kepada siswa dalam belajar sastra. Gerakan baru yang dimaksud bisa berupa mengadakan seminar sastra, pameran sastra, lomba yang bertemakan sastra yang dapat diselenggarakan oleh sekolah.

Pertama, seminar sastra. Seminar sastra bisa menjadi salah satu pilihan untuk memberi gerakan baru saat belajar sastra. Seminar sastra dapat dilakukan dengan mengundang atau menghadirkan pembicara sebagai narasumber yang berpengalaman dan mengetahui seluk-beluk sastra, mengenalkan sastra mulai dari sejarah sastra, perkembangan sastra, sampai pada sastra yang kekinian. Hal ini diharapkan agar menambah pengetahuan anak-anak kaum milenial saat ini akan pentingnya dan senangnya belajar sastra yang selama ini mereka anggap sebagai kegiatan yang membosankan.

Kedua, pameran sastra. Pameran sastra dapat dibuat dengan menghadirkan kreativitas siswa atau kaum milenial dengan membuat suatu karya sastra yang dapat dipamerkan dalam acara tersebut. Para pembuat karya harus membuat karya, seperti puisi, prosa, dan drama. Selanjutnya, panitia mengumpulkan hasil karya tersebut. Pada hari pameran dilaksanakan, para pembuat karya menampilkan karya sastra yang dibuatnya dan setiap orang yang berkunjung ke pameran akan melihat penampilan yang dibawakan.

Ketiga, lomba sastra. Tidak jauh berbeda dengan pameran sastra, lomba sastra dapat dibuat untuk melatih kreativitas siswa dalam membuat suatu karya. Lomba sastra dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu lomba pembacaan puisi, lomba pembacaan prosa, serta lomba menampilkan sebuah drama. Lomba pembacaan puisi dan prosa dapat dilakukan secara individu dan menjadi perwakilan dari masing-masing kelas yang ada di sekolah, sedangkan sebuah drama dapat dimainkan berkelompok dari masing-masing kelas. Lomba sastra dilaksanakan dengan adanya penilaian dari juri. Panitia dapat meminta kepada guru sastra untuk menjadi juri dalam penilaian lomba tersebut. Juri dapat menilai lomba dengan objektif dengan aspek-aspek penilaian yang terdapat pada karya sastra.

Ketiga gerakan baru itulah yang dapat dijadikan acuan agar kaum milenial semakin tertarik dan ikut melestarikan sastra.