Konten dari Pengguna

Dasbhara, Jiwa Korsa, dan Cara Polwan Membunuh Ego demi Seragam Coklat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najla Salsabila Muthi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau kamu pernah lewat jalanan kota terus melihat barisan Polisi Wanita (Polwan) berdiri tegak, rapi, dengan tatapan lurus ke depan seolah-olah gak punya beban beban hidup apalagi tunggakan Pinjol, ketahuilah satu hal: aura sekeren itu gak didapatkan dari filter TikTok atau latihan semalam ala Bandung Bondowoso.

Di balik kerapian yang kepalanya sejajar dan jarak antar-bahu yang presisi itu, ada masa lalu bernama Dasbhara (Pendidikan Dasar Bhayangkara). Sebuah fase di mana status "manusia sipil yang hobi ngeluh di Twitter dan kalau capek dikit bilang burnout" dirampas secara paksa, lalu di-reboot jadi insan Bhayangkara yang tahan banting.

Bagi orang awam, melihat foto siswa Polwan yang berjejer rapi di lapangan latihan mungkin cuma kelihatan estetis dan cool. Tapi bagi yang menjalani? Wah, itu adalah kawah candradimuka. Tempat di mana fisik digembleng, mental diacak-acak, dan ego pribadi dibantai sampai tak berbekas.

https://lemdiklat.polri.go.id/web/uploads/images/202507/image_870x_688a10d48c389.jpg

Menghancurkan Main Character Syndrome

Di era sekarang, hampir semua orang pengin jadi main character. Pengin menonjol, pengin paling dilihat, dan paling enggan disalahkan. Nah, pas masuk Dasbhara, paham individualisme begitu adalah dosa besar yang dosa jariahnya ditanggung seangkatan.

Masa-masa awal pendidikan kepolisian ini sebenarnya adalah proyek pembersihan ego. Kamu tidak bisa lagi mikir, "Gue capek, gue mau istirahat sendiri ah." Di lapangan, logika sipil itu musnah. Kalau satu orang melakukan kesalahan kecil—misal lupa bawa barang atau gerakan barisnya sumbang—yang merasakan imbasnya ya satu peleton.

Di sinilah jiwa korsa (esprit de corps) itu dipaksa lahir. Jiwa korsa di dunia kepolisian bukan sekadar "solidaritas tongkrongan" yang cuma ramai kalau ada yang ngajak patungan WFC atau ghibah. Ini tentang rasa senasib sepenanggungan tingkat dewa.

Ketika kaki sudah pegal, keringat mengucur deras, dan pelatih mulai teriak-teriak memberikan instruksi, pilihan yang tersisa cuma dua: egois lalu bikin satu barisan kena hukuman bareng, atau merapatkan barisan dan saling tarik kawan sampai garis finish. Di titik ini, istilah main character resmi berganti jadi full teamwork.

Bukan Cuma Physical Attack, Tapi Soal Pengendalian Diri

Banyak yang mengira pendidikan dasar kepolisian itu cuma urusan lari keliling lapangan, push-up sampai bumi bergetar, dan teriakan pelatih. Padahal, pelajaran paling terselubung ada pada pengendalian emosi.

Seorang Polwan nantinya gak cuma bertugas menghadapi dokumen di ruangan ber-AC, tapi diterjunkan langsung ke tengah masyarakat yang dinamikanya sangat liar. Ada warga yang panik, ada yang emosional, ada penjahat betulan, bahkan ada yang provokatif. Kalau selama Dasbhara mereka gak dilatih buat tetap tenang di bawah tekanan (stay cool under pressure), bisa-bisa pas dinas malah balik ngajak gelut warga.

Gemblengan ketat selama Dasbhara inilah yang justru membentuk keseimbangan ajaib: menciptakan ketegasan tanpa menghilangkan empati. Mereka ditempa jadi pribadi yang keras terhadap rasa menyerah, tapi lembut dan responsif ketika melayani warga.

Srikandi yang Lahir dari Keringat dan Encok

Pada akhirnya, Dasbhara dan jiwa korsa adalah paket kombo yang membentuk karakter dasar seorang Polwan. Masa-masa pendidikan memang penuh keringat, pegal-pegal, dan mungkin sedikit umpatan dalam hati tiap kali disuruh lari siang-siang. Tapi dari situlah fondasi itu berdiri.

Foto barisan siswa Polwan yang rapi itu bukan cuma jepretan kamera yang bagus demi konten. Itu adalah bukti visual dari puluhan manusia yang berhasil membunuh egonya masing-masing demi satu tujuan: menjadi pelayan masyarakat yang tangguh dan terpercaya.

Sebab di dunia nyata, menjadi pengayom itu butuh lebih dari sekadar seragam gagah—butuh mental yang sudah selesai dengan urusan dirinya sendiri. Dan biasanya, mental sekuat itu cuma bisa dibentuk kalau kamu sudah pernah merasakan senasib sepenanggungan di atas rumput lapangan Dasbhara.