Mengapa Kita Mudah Mengingat Trauma Daripada Kebahagiaan?

Mahasiswa Psikologi, Universitas Brawijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Najla Rezkita Ayudya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita merasa bahwa kenangan buruk atau pengalaman traumatis jauh lebih sulit dilupakan dibandingkan momen-momen bahagia? Hal ini bukanlah kebetulan. Ada alasan ilmiah dan psikologis di balik mengapa otak manusia lebih cenderung menyimpan pengalaman negatif daripada yang positif. Trauma memiliki dampak mendalam yang memengaruhi keseimbangan mental dan emosional seseorang, menjadikannya lebih melekat dalam ingatan dibandingkan kebahagiaan.
Apa Itu Trauma dan Mengapa Begitu Kuat?
Trauma adalah respons emosional terhadap kejadian yang sangat menyakitkan, mengejutkan, atau mengancam. Pengalaman traumatis dapat berasal dari berbagai sumber, baik fisik maupun psikologis. Beberapa contoh yang sering menjadi pemicu trauma meliputi pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kecelakaan serius, bencana alam, penyakit kronis, atau kehilangan orang tercinta. Bahkan, seseorang yang tidak mengalami kejadian tersebut secara langsung, tetapi hanya menyaksikannya, juga dapat mengalami trauma.
Trauma memiliki kekuatan untuk memengaruhi otak karena kejadian tersebut melibatkan sistem saraf dan respons tubuh terhadap stres. Saat mengalami peristiwa traumatis, otak kita mengaktifkan mekanisme bertahan hidup, seperti melibatkan amigdala (pusat pengatur emosi) dan hipokampus (bagian otak yang bertugas menyimpan ingatan). Aktivasi ini menyebabkan trauma menjadi sangat kuat dan mendalam, sulit dilupakan, dan terus muncul dalam bentuk kenangan atau kilas balik.
Dominasi Ingatan Negatif dalam Otak
Penelitian menunjukkan bahwa otak manusia lebih mudah menyimpan ingatan negatif dibandingkan ingatan positif. Diperkirakan sekitar 80 persen dari memori manusia terdiri dari pengalaman buruk atau kenangan negatif, sementara hanya sekitar 20 persen yang berupa kenangan positif. Hal ini terkait dengan evolusi manusia, di mana kemampuan untuk mengingat pengalaman negatif membantu nenek moyang kita bertahan hidup. Ingatan tentang bahaya—seperti serangan hewan liar atau kondisi lingkungan berbahaya—berfungsi sebagai mekanisme perlindungan agar kita dapat menghindari situasi serupa di masa depan.
Namun, di era modern, mekanisme ini sering kali menjadi tidak proporsional. Banyak situasi yang tidak mengancam nyawa, seperti kegagalan pekerjaan, kritik sosial, atau peristiwa kecil yang mengecewakan, tetap meninggalkan bekas negatif yang kuat pada ingatan.
Gejala Trauma dan Dampaknya
Individu yang mengalami trauma biasanya menunjukkan berbagai gejala, baik secara fisik maupun emosional. Beberapa di antaranya meliputi:
1. Ingatan yang menyakitkan : Kenangan traumatis sering kali kembali tanpa diminta, terutama ketika seseorang dihadapkan pada hal-hal yang memicu ingatan tersebut.
2. Mimpi buruk berulang : Kejadian traumatis dapat muncul kembali dalam mimpi, mengganggu tidur dan meningkatkan tingkat stres.
3. Respons emosional yang berlebihan : Ketakutan, kecemasan, atau rasa tertekan sering kali muncul akibat pengalaman traumatis.
4. Hipersensitivitas : Trauma dapat membuat seseorang menjadi sangat sensitif terhadap situasi atau benda tertentu yang terkait dengan kejadian traumatis.
Secara kognitif, trauma juga dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir jernih atau mengatasi masalah secara efektif. Hal ini sering kali menyebabkan penurunan kualitas hidup dan hubungan interpersonal.
Mengapa Kebahagiaan Lebih Sulit Diingat?
Sebaliknya, kenangan bahagia cenderung lebih singkat dan kurang melekat dibandingkan trauma. Kebahagiaan sering kali tidak melibatkan ancaman yang memicu sistem bertahan hidup dalam otak kita. Akibatnya, kebahagiaan tidak mendapatkan "prioritas" yang sama dalam penyimpanan memori.
Selain itu, banyak orang cenderung lebih fokus pada masalah atau pengalaman negatif dalam kehidupan mereka. Pola pikir ini, yang dikenal sebagai bias negatif, membuat kita lebih memperhatikan kekurangan atau kegagalan daripada keberhasilan dan kebahagiaan. Bias negatif diperkuat oleh tekanan sosial, seperti tuntutan untuk selalu produktif atau memenuhi standar tertentu, yang membuat kita lebih sering mengingat kegagalan daripada keberhasilan.
Bagaimana Mengatasi Dampak Trauma?
Meski trauma sulit dilupakan, bukan berarti seseorang tidak dapat memulihkan diri. Beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi dampak trauma dan memperkuat kenangan positif:
1. Terapi Psikologis : Konseling atau terapi seperti terapi kognitif-perilaku (CBT) atau terapi EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) terbukti efektif untuk mengatasi trauma.
2. Latihan Mindfulness : Teknik seperti meditasi atau latihan pernapasan dapat membantu seseorang lebih fokus pada saat ini dan mengurangi kilas balik traumatis.
3. Membangun Kebiasaan Positif : Aktif menulis jurnal syukur atau merefleksikan momen bahagia dapat memperkuat ingatan positif dan mengurangi bias negatif.
4. Dukungan Sosial : Berbagi pengalaman dengan orang-orang yang dipercaya dapat membantu mengurangi rasa isolasi dan meningkatkan perasaan diterima.
Kesimpulan
Trauma lebih mudah diingat daripada kebahagiaan karena melibatkan respons biologis yang kuat dan mendalam, yang berakar pada mekanisme bertahan hidup manusia. Meskipun begitu, pemahaman akan cara kerja otak ini dapat membantu kita mengelola trauma dan mengarahkan perhatian pada kenangan bahagia. Dengan strategi yang tepat, seseorang dapat memperkuat ingatan positif dan melangkah maju dengan lebih percaya diri, meskipun telah melewati pengalaman traumatis.
Menghargai kebahagiaan mungkin membutuhkan usaha lebih, tetapi setiap langkah kecil menuju keseimbangan mental adalah bagian penting dari perjalanan hidup kita.
Referensi
Khafifah, N. (2024, June 29). Psikolog: Otak manusia 80 persen lebih bisa mengingat kenangan buruk. Kumparan. https://kumparan.com/kumparanmom/psikolog-otak-manusia-80-persen-lebih-bisa-mengingat-kenangan-buruk-2322WTDstzV/full
Kusuma, C. T. (2019, April 23). Terus-Terusan ingat hal buruk? Ini dia fakta alasan emosi negatif lebih diingat! - Universitas Ciputra. Universitas Ciputra. https://www.ciputra.ac.id/psy/terus-terusan-ingat-hal-buruk-ini-dia-fakta-alasan-emosi-negatif-lebih-diingat/
Library, B. (2017). BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Trauma 2.1.1 Definisi Trauma. http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/RS1_2017_1_801_Bab2.pdf
