Ketika Hutan Berbicara, Tugas Kita adalah Menjaganya

Mahasiswa FIKOM Universitas Padjadjaran
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Najlaa Chairinna Hyndrawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hutan merupakan sebuah anugerah dari tuhan yang diberikan kepada manusia. Di bawah atap hijaunya yang lebat, hutan menyimpan sejuta kehidupan. Dari flora yang sedang menari-nari mengikuti hembusan angin, hingga fauna liar yang saling bergantung. Namun, hutan tidak hanya sekedar tempat tinggal bagi para flora dan fauna. Lebih dari itu, hutan adalah paru-paru dunia, penghasil oksigen yang menopang keberlangsungan hidup manusia. Jika kita menyadarinya, setiap tarikan nafas kita adalah pemberian dari hutan. Namun, apakah kita menyadari betapa berharganya mereka?
Hutan memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan planet kita. Mereka menyerap karbon dioksida dimana gas rumah kaca utama yang menjadi penyebab pemanasan global serta mengeluarkan oksigen yang kita perlukan. Selain itu, hutan juga mengendalikan iklim, memastikan ketersediaan air bersih, melindungi tanah dari erosi, dan menjadi sumber makanan serta obat-obatan bagi manusia. Data yang disajikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa lebih dari 80% keanekaragaman hayati di daratan tergantung pada keberlangsungan hutan. Setiap spesies, mulai dari serangga terkecil hingga predator terbesar, memiliki peran spesifik yang menjaga keseimbangan ekosistem.
Namun, kenyataan pahitnya adalah, ternyata hutan kita kini berada di tepi kehancuran. Deforestasi, baik yang sah maupun ilegal, terus menggerogoti luas hutan di seluruh dunia. Di Indonesia, negara dengan hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, angka kehilangan hutan setiap tahunnya masih sangat mencemaskan. Dalam artikelnya, Ade Sudaryat menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, termasuk hutan dan sungai. Ia menegaskan bahwa mencintai lingkungan merupakan bagian dari akhlak mulia. Sampah dan limbah yang mencemari sungai merupakan bentuk dari ketidakpedulian terhadap lingkungan hidup, yang mencerminkan belum terinternalisasinya nilai spiritual dalam tindakan sehari-hari. Kesadaran spiritual dan religius perlu diwujudkan dalam bentuk nyata, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga sungai, dan melindungi hutan, karena semua itu adalah bagian dari ciptaan Tuhan.
Tak hanya itu, perubahan iklim memperburuk situasi ini. Suhu global yang meningkat, pola curah hujan yang tak menentu, dan periode kekeringan yang berkepanjangan menyebabkan banyak hutan mengalami tekanan ekologi. Pohon-pohon tua tumbang, tanah menjadi kering, dan spesies endemik kehilangan habitatnya. Kita tidak lagi berbicara mengenai kemungkinan. Bencana ekologis ini sudah terjadi dan terus berlangsung di depan mata kita. Tapi, apakah kita hanya akan menjadi saksi bisu dari kehancuran ini?
Sebagai manusia, kita memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan. Langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran. Entang Sastraatmadja dalam tulisannya menyoroti bahwa keberhasilan perlindungan hutan tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan masyarakat secara aktif. Ia menyampaikan bahwa Perhutanan Sosial adalah strategi penting yang menyatukan kepentingan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Namun, tantangannya masih besar, termasuk rendahnya kemampuan masyarakat dalam mengelola lahan yang diberikan, serta lemahnya pendampingan dari pemerintah. Untuk itu, diperlukan pendekatan holistik dan dukungan nyata dari berbagai pihak agar program ini benar-benar berhasil menjaga keberlangsungan hutan. Karena bagaimana mungkin seseorang akan peduli pada sesuatu yang tak pernah ia pahami nilainya?
Penting juga untuk mengubah pola konsumsi kita. Pilih produk yang bersertifikat ramah lingkungan, hindari barang-barang yang diketahui berkontribusi terhadap deforestasi, dan dorong perusahaan untuk menerapkan praktik bisnis berkelanjutan. Kita bisa memilih untuk menggunakan kertas daur ulang, atau mendukung gerakan penanaman pohon. Setiap keputusan kecil, jika dilakukan oleh jutaan orang, bisa menciptakan gelombang perubahan besar.
Selain itu, komunikasi lingkungan menjadi senjata yang sangat efektif dalam perjuangan melawan kerusakan alam. Dalam bukunya Dinamika Komunikasi Lingkungan, Yosal Iriantara menekankan pentingnya komunikasi yang tidak hanya menyampaikan data, tetapi juga membangun koneksi emosional dengan audiens. Visualisasi dampak deforestasi, kisah nyata tentang suku-suku yang kehilangan tanah nenek moyang mereka, atau dokumentasi tentang satwa liar yang terpaksa meninggalkan habitatnya, semuanya jauh lebih menyentuh daripada hanya angka statistik. Gerakan ini diperkuat oleh media sosial, yang kini menjadi alat kampanye paling efektif. Hashtag seperti #SaveOurForest bukan hanya sebuah tren, tetapi suara kita yang menggema melintasi batas negara. Setiap unggahan, setiap kisah, setiap petisi yang ditandatangani, adalah bagian dari perjuangan besar untuk menyelamatkan inti dunia kita.
Tidak bisa disangkal, menjaga hutan juga berarti menjaga kebudayaan. Banyak komunitas adat di Indonesia yang memandang hutan sebagai lebih dari sekedar sumber ekonomi, tetapi bagian dari identitas mereka. Di Papua, Kalimantan, hingga Sumatera, hutan adalah ruang sakral di mana nilai-nilai kehidupan diturunkan dari generasi ke generasi. Ketika hutan lenyap, bukan hanya pohon-pohon yang hilang, tetapi juga cerita, lagu, dan doa yang terjalin dalam alam tersebut.
Teknologi pun membawa harapan baru. Penggunaan satelit, drone, dan kecerdasan buatan dimana untuk memantau perubahan hutan secara langsung, memungkinkan kita untuk bertindak lebih cepat dalam mencegah kerusakan. Namun, semua kemajuan ini akan sia-sia jika tidak didukung oleh kemauan politik dan keberanian untuk bertindak.
Kita tidak bisa menunggu pemerintah atau organisasi besar untuk bertindak lebih dahulu. Perubahan sejati lahir dari akar rumput, dari komunitas kecil yang berani menjaga hutan mereka dengan tangan mereka sendiri. Di beberapa wilayah Jawa Barat, misalnya, program agroforestri telah berhasil menghidupkan kembali hutan yang rusak, serta memberikan sumber penghidupan alternatif bagi masyarakat setempat. Ini membuktikan bahwa dengan pendekatan berbasis masyarakat, perubahan bisa berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi. Lalu, bagaimana dengan kita yang tinggal jauh dari hutan? Apakah kita terbebas dari tanggung jawab? Tentu tidak. Karena setiap plastik sekali pakai yang kita buang, setiap kendaraan berbahan bakar fosil yang kita gunakan, setiap konsumsi berlebihan yang kita lakukan, semuanya berdampak pada perubahan iklim yang pada akhirnya merusak hutan. Kita lebih terhubung dengan hutan daripada yang kita bayangkan.
Sebagai manusia modern, kita memiliki dua pilihan, menjadi generasi yang diingat sebagai penyelamat bumi, atau menjadi generasi yang membiarkan dunia ini hancur. Pilihan itu ada di tangan kita, dalam aksi-aksi kecil yang kita ambil setiap hari. Menanam satu pohon, berbicara tentang pentingnya hutan di komunitas kita, memilih produk yang etis, atau sekadar mengajar orang-orang disekitar kita untuk mencintai alam, semuanya adalah bentuk perlawanan terhadap kehancuran. Karena sejatinya, menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi pohon. Ini tentang menjaga udara yang kita hirup, air yang kita konsumsi, makanan yang kita santap, dan kehidupan yang kita jalani. Ini tentang memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa merasakan kesegaran udara hutan, mendengar kicauan burung liar, dan menatap langit biru yang bersih.
Mari kita berhenti melihat hutan sebagai sesuatu yang asing dan jauh. Mari kita mengakui bahwa kita dan hutan adalah satu kesatuan. Setiap hembusan nafas kita berasal dari sana. Setiap detakan jantung kita bergantung padanya. Hutan adalah pusat kehidupan. Menjaga hutan berarti menjaga diri kita sendiri.
Melindungi hutan artinya melestarikan harapan. Harapan bagi generasi mendatang untuk berkembang di dunia yang masih dipenuhi keajaiban alam. Harapan untuk spesies-spesies yang kini terancam agar tetap bertahan hidup. Harapan bahwa planet ini masih dapat pulih, selama kita mau berjuang bersama. Setiap langkah kecil, sekecil apapun, akan berarti besar jika dilakukan dengan konsisten dan penuh kasih. Kita mungkin tidak dapat menghentikan semua kerusakan dalam semalam, tetapi kita bisa memulai hari ini, dengan satu pilihan, satu tindakan, dan satu komitmen. Karena pada akhirnya, planet ini bukan hanya warisan nenek moyang kita, tetapi amanah untuk generasi yang akan datang. Mari kita pelihara amanah itu dengan sepenuh hati.
Daftar Pustaka
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (t.t.). Keanekaragaman hayati untuk keberlanjutan kehidupan manusia. Perpustakaan Emil Salim. Diambil 29 April 2025, dari http://perpustakaan.menlhk.go.id/pustaka/home/index.php?page=ebook&code=ka&vie w=yes&id=1#:~:text=Keanekaragaman%20hayati%20lebih%20dari%20sekedar,keanek aragaman%20hayati%20yang%20sangat%20besar
Sastraatmadja, E. (2022, Juni 29). Selamatkan Perhutanan Sosial. TandaMata BDG, 11. https://tandamatabdg.wordpress.com/wp-content/uploads/2022/07/12206291.jpg
Satgas PPK DAS Citarum. (2022, Maret 21). Hari Hutan Sedunia, Ingatkan Pentingnya Peran Hutan. Citarum Harum Juara. https://citarumharum.jabarprov.go.id/hari-hutan-sedunia-ingatkan-pentingnya-peran-hut an/
Sudaryat, A. (2022, November 2). Teologi Hutan, Sungai, dan Sampah. TandaMata BDG,11. https://tandamatabdg.wordpress.com/wp-content/uploads/2022/11/12211022.jpg
Wahyudin, U., Bakti, I., & Ardianti, D. (2024). Dinamika Komunikasi Lingkungan. Prenada Media . https://www.google.co.id/books/edition/Dinamika_Komunikasi_Lingkungan/glU0EQA AQBAJhl=id&gbpv=1&dq=komunikasi+lingkungan&pg=PA1&printsec=frontcover
