Hewan Kurban Dijadikan Kendaraan Menuju Taman Surga

Saya seorang Mahasiswi smester 2 dengan prodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullab Jakarta
Tulisan dari Najla khaizurana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Idul Adha adalah salah satu hari raya yang dirayakan setahun sekali sama halnya seperti Idul Fitri. Hari raya yang juga dipandang sebagai hari suci bagi umat Muslim. Hari Raya Idul Adha adalah hari di mana para muslim yang sekiranya mampu wajib menunaikan ibadahnya yaitu memberli hewan kurban, karena hal ini dianggap esensial dalam tradisi agama Islam yang tertuang di dalam kitab suci Al-Qur’an, salah satunya terdapat dalam Q.S Al Kaultsar : 2 yakni berisikan mengenai perintah shalat dan berkurban. Ibadah kurban dengan bentuk penyembelihan hewan ternak ini (domba, kambing, sapi, kerbau, dan unta) yang kita kenal mempunyao hubungan dengan kisah nyata penyembelihan Nabi Ismail oleh ayah kandungnya Nabi Ibrahim yang kemudian dengan kehendak Allah SW, Ismail diganti dengan seekor binatang sembelihan yang besar. Hal ini juga telah digambarkan oleh Allah SWT lewat surat Ash-Shaffaat ayat 102-107.
Berkurban melibatkan pengorbanan materi dalam bentuk hewan yang memiliki nilai ekonomi. Dengan melakukan pengorbanan ini, umat Muslim belajar tentang pentingnya mengorbankan sebagian dari apa yang mereka miliki untuk kepentingan orang lain. Hal ini dapat membentuk karakter yang lebih dermawan dan peduli terhadap sesama. Salah satu tujuan berkurban adalah untuk berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Daging hewan kurban dapat didistribusikan kepada fakir miskin, yatim piatu, dan masyarakat yang kurang mampu. Hal ini membantu memperkuat tali persaudaraan dan solidaritas sosial dalam masyarakat. Berkurban adalah wujud syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Dengan menyembelih hewan kurban, umat Muslim mengakui bahwa segala sesuatu yang dimiliki adalah karunia Allah, dan mereka bersyukur atas nikmat-Nya. erkurban juga merupakan penghormatan dan mengikuti jejak Nabi Ibrahim (as) yang diperintahkan oleh Allah untuk mengorbankan anaknya. Kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba sebagai pengorbanan yang lebih baik. Melalui berkurban, umat Muslim mengingat perjuangan dan kesabaran Nabi Ibrahim (as) dalam mengikuti perintah Allah.
Praktik kurban memiliki akar yang kuat dalam ketaatan kepada kehendak Tuhan. Melalui kurban, manusia menunjukkan pengorbanan dan ketaatan mereka kepada Tuhan. Dalam berbagai tradisi agama, hewan kurban dipilih dengan hati-hati, dengan kualitas fisik dan spiritual yang diutamakan. Dalam melakukan kurban, manusia menyerahkan sesuatu yang berharga bagi mereka sebagai tanda kesetiaan dan ketaatan mereka kepada Tuhan. Tindakan ini menjadi jembatan untuk mencapai surga, tempat di mana keberkahan dan kebahagiaan abadi menanti.
Hewan kurban juga memiliki peran penting dalam penyucian dan pemurnian manusia. Dalam banyak agama, hewan kurban dipandang sebagai perantara antara dunia manusia yang terbatas dan dunia roh yang suci. Ketika hewan dikurbankan dengan niat yang tulus dan dalam ketaatan kepada Tuhan, kehadiran-Nya dipercaya akan menyucikan dan memurnikan manusia dari dosa-dosa mereka. Hewan kurban menjadi sarana untuk membersihkan diri secara spiritual, sehingga manusia dapat meningkatkan hubungan mereka dengan Tuhan dan menuju kehidupan surga yang lebih dekat dengan-Nya.
Selain aspek spiritual, praktik kurban juga mencerminkan kebijaksanaan dan kemanusiaan. Dalam masyarakat yang berkomitmen untuk melakukan kurban, hewan-hewan yang dikurbankan dipilih dengan penuh perhatian. Mereka diberi perawatan yang baik, dipelihara dengan baik, dan diberi makan yang cukup. Selain itu, ketika hewan dikurbankan, dagingnya biasanya didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan, termasuk kaum miskin dan orang-orang yang kurang beruntung. Hal ini mengajarkan nilai-nilai berbagi, solidaritas, dan perhatian terhadap sesama manusia, yang pada akhirnya akan membawa mereka menuju surga dalam kehidupan akhirat.
Melakukan kurban juga melibatkan pengendalian diri dan pengorbanan diri. Dalam mengurbankan hewan, manusia menunjukkan kemampuan mereka untuk mengendalikan nafsu duniawi dan menyerahkan kehendak mereka kepada Tuhan. Praktik ini mengajarkan manusia untuk melepaskan keinginan duniawi yang sementara demi kebahagiaan yang lebih abadi di surga. Pengorbanan ini membantu manusia mencapai kedamaian batin, memurnikan hati mereka, dan meningkatkan hubungan mereka dengan Tuhan.
Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai hukumnya, ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ada pula yang mengatakan sunah mu’akadah. Jika dijabarkan, kedua pendapat yang berbeda ini masing-masing memiliki dasar yang sama kuatnya. Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasihatkan, “... selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berkurban. Karena dengan berkurban akan lebih memenangkan hati dan melepaskan tanggungan wallahu a’lam” (Baits, 2008).
Penting untuk dicatat bahwa dalam Islam, tidak ada konsep bahwa hewan kurban itu sendiri adalah "kendaraan surga" atau memiliki kemampuan untuk membawa seseorang ke surga. Kendaraan surga biasanya mengacu pada perbuatan baik, amal, dan ketakwaan yang dilakukan oleh individu yang dapat membantu mereka mencapai surga menurut ajaran Islam.
Hewan kurban memiliki arti penting dalam konteks perayaan dan ibadah, dan dagingnya juga dibagikan kepada yang membutuhkan untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Ini adalah tindakan pengorbanan dan kepedulian sosial yang ditekankan dalam Islam, dan dengan melakukan ini, umat Muslim berharap untuk mendapatkan pahala dan keberkahan dari Allah.
Jadi, meskipun hewan kurban memiliki nilai keagamaan yang tinggi dalam Islam, tidak ada istilah yang lazim menggambarkannya sebagai "kendaraan surga". Istilah tersebut lebih cocok untuk menggambarkan perbuatan baik dan amal saleh yang dapat membawa seseorang menuju surga menurut keyakinan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Syahriar, Muhammad. (2016). Representasi Makna Qurban dalam Budaya Populer: Membaca Konsumerisme Melalui Analisis Semiotika Berthes Iklan Cetak PKPU Kurbanmu Kendaraanmu. Universitas Telkom.
Suhaeri. (1995). Tentang Kurban (Studi Riwayat dan Hikmahnya). Buku Al-Qalam.
Mulyana, Abdullah. (2016). Qurban: Wujud Kedekatan Seorang Hamba Dengan Tuhannya. Universitas Pendidikan Indonesia.
