Konten dari Pengguna

Di Balik Anonimitas Media Sosial

Najma Adena

Najma Adena

Mahasiswa Universitas Airlangga

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najma Adena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi media sosial Facebook dan Instagram. Foto: Koshiro K/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi media sosial Facebook dan Instagram. Foto: Koshiro K/Shutterstock

Di tengah mudahnya interaksi tanpa harus menggunakan identitas asli yang ditawarkan oleh media sosial, timbul sebuah pertanyaan: apakah anonimitas tersebut membawa risiko yang sama besarnya dengan manfaat yang diberikan?

Membuat akun media sosial bukanlah sebuah hal yang sulit. Cukup dengan mendaftarkan e-mail atau nomor telepon dan membuat kata sandi saja, seseorang sudah bisa dengan mudah memiliki akun media sosial di berbagai platform, seperti Instagram, Twitter, Tiktok, dan Facebook.

Nama pengguna atau username yang didaftarkan untuk membuat sebuah akun tidak harus sama dengan nama pemilik akun di dunia nyata. Tidak diperlukan sebuah tanda pengenal resmi atau suatu bukti yang konkret mengenai identitas pemilik akun, semua orang bisa mencantumkan identitas baru dan palsu yang hanya dibuat-buat untuk membangun citra di dunia maya saja.

Ketentuan tersebut tentu saja menimbulkan dampak-dampak tertentu bagi para pengguna media sosial, baik dampak baik maupun dampak buruk.

Dampak baik dari anonimitas yang ditawarkan oleh media sosial tersebut adalah setiap orang dapat berinteraksi satu sama lain tanpa harus membocorkan identitas asli mereka. Banyak orang-orang yang ingin sejenak melepaskan penat dunia nyata dan “berpura-pura” menjadi orang baru di dunia maya tanpa harus terbebani oleh identitas asli mereka. Hal ini memberikan lebih banyak kebebasan bagi setiap orang untuk berekspresi dan bersosialisasi di media sosial.

Akan tetapi, kebebasan yang diberikan oleh anonimitas ini juga dapat melahirkan banyak perkara baru. Banyak orang yang terlena dengan identitas palsu mereka di media sosial ketika berinteraksi dengan pengguna lain dan merasa bahwa mereka bisa mengunggah apa saja di media sosial tanpa rasa takut sebab identitas asli mereka dilindungi di balik identitas palsu.

Rasa aman yang berlebihan ini membuat banyak pengguna dengan seenaknya menggunakan media sosial untuk hal-hal yang bersifat negatif, seperti melakukan cyberbullying dan menyebarkan berita hoaks di akun mereka.

Mudahnya mencantumkan identitas palsu saat membuat akun juga menimbulkan adanya faker atau seseorang yang berusaha meniru dan berpura-pura menjadi orang lain di akun media sosialnya. Para faker yang dengan sengaja mencantumkan nama dan foto orang lain pada profil mereka tentu saja merugikan orang tersebut karena telah mencuri identitasnya dan mengatasnamakan mereka atas segala sesuatu yang diunggah pada akun tersebut. Hal ini seringkali berujung pada kasus pencemaran nama baik dan penipuan.

Belajar dari peristiwa merugikan yang telah terjadi, sudah seharusnya para pengguna media sosial menjadi lebih bijak lagi dalam bersosialisasi di dunia maya. Perilaku selektif dan waspada sangat perlu diterapkan dalam menggunakan media sosial apa pun.

Para penghuni dunia maya tidak boleh cepat percaya dengan segala sesuatu yang diunggah di platform media sosial, apalagi jika akun yang mengunggah sebuah berita adalah akun anonim atau yang biasa disebut dengan akun “bodong”.

Para pengguna media sosial juga harus bijak ketika berkenalan dengan orang baru di dunia maya. Apabila identitas yang dicantumkan mencurigakan dan postingan yang diunggah bersifat merugikan, lebih baik tidak dengan serta-merta mempercayai akun tersebut.

Pengecekan ulang perlu dilakukan agar tidak terjadi penyebaran berita hoaks dan penipuan yang tidak diinginkan. Maka dari itu, pintarlah menggunakan media sosial agar interaksi dunia maya tidak berujung sial.