Pertumbuhan Pariwisata yang Belum Sepenuhnya Merata

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Najma Malika Fatimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pariwisata Pangandaran dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Infrastruktur mulai diperbaiki, destinasi wisata semakin beragam, dan promosi melalui media sosial semakin aktif dilakukan. Sekilas, semua ini menggambarkan kemajuan yang menjanjikan. Namun, di balik keramaian tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendalam: apakah perkembangan ini benar-benar dirasakan oleh semua pihak?
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, ditemukan bahwa kondisi di lapangan tidak selalu mencerminkan gambaran yang terlihat secara langsung. Terdapat kesenjangan antara perkembangan yang tampak dan pengalaman nyata yang dirasakan oleh masyarakat.
Salah satu narasumber, I.T (50) melihat bahwa Pangandaran memang mengalami peningkatan dari segi jumlah destinasi dan kunjungan wisatawan. Namun, hal ini belum sepenuhnya diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia dan sinergi antar pihak. Ia menyebutkan bahwa “pariwisata memang berkembang, tapi masih terkendala SDM, sampah, parkir, dan sinergi.” Ia juga menekankan bahwa program pemerintah sebenarnya sudah ada, tetapi “belum konsisten dan belum efektif,” terutama karena sosialisasi yang masih lemah. Akibatnya, banyak masyarakat yang tidak memahami kebijakan yang dibuat.
Perspektif yang berbeda disampaikan oleh narasumber lain, E. (66) Ia menilai bahwa perkembangan pariwisata belum sepenuhnya memberikan dampak yang adil. Menurutnya, “pariwisata berkembang, tetapi manfaatnya belum merata dan masyarakat lokal cenderung tersisih.” Kondisi ini diperparah dengan adanya dominasi pendatang dalam sektor usaha, serta sistem yang dinilai kurang transparan. Selain itu, komunikasi antara pihak pengelola dan masyarakat dinilai sangat minim. “Informasi tidak merata dan cenderung satu arah,” ujarnya. Hal ini membuat masyarakat tidak hanya kurang memahami kebijakan, tetapi juga tidak merasa dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Dari sisi lain, D. (30) mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi cukup kompleks, terutama karena ketergantungan pada musim. Ia mengatakan bahwa “usaha berjalan cukup lama, tapi terkendala sifat musiman dan cuaca.” Pendapatan yang tidak menentu membuat banyak pihak harus terus beradaptasi. Di sisi lain, dukungan yang ada dirasa belum maksimal. Ia bahkan menyebut bahwa program yang ada “belum dirasakan,” dan komunikasi yang terjalin “masih minim dan belum terstruktur.” Kondisi ini membuat banyak pihak harus berjalan sendiri tanpa arahan yang jelas.
Sementara itu, N.S. (24) dan S.I. (23) melihat Pangandaran dengan sudut pandang yang lebih optimis. Mereka menilai bahwa daerah ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang, terutama dengan dukungan media sosial sebagai alat promosi. Namun, mereka juga tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang ada. Menurut mereka, “Pangandaran punya potensi besar dan terus berkembang, tapi pengelolaan, SDM, dan fasilitas belum optimal.” Mereka juga menyoroti bahwa harga yang tidak stabil, kualitas pelayanan yang belum merata, serta komunikasi yang masih lemah menjadi tantangan yang perlu segera dibenahi.
Jika dilihat secara keseluruhan, benang merah dari berbagai perspektif ini terletak pada satu hal: komunikasi yang belum berjalan secara efektif dan inklusif. Informasi sering kali tidak sampai secara merata, masyarakat tidak dilibatkan secara aktif, dan ruang dialog masih sangat terbatas. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi belum berfungsi sebagai alat pemberdayaan, melainkan masih sebatas penyampaian informasi dari atas ke bawah.
Padahal, dalam konteks pengembangan yang berkelanjutan, komunikasi seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kepentingan. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima kebijakan, tetapi juga sebagai pihak yang memiliki suara dan peran dalam menentukan arah pembangunan. Tanpa adanya komunikasi yang partisipatif, sulit untuk menciptakan kolaborasi yang kuat. Pada akhirnya, perkembangan yang terjadi tidak bisa hanya diukur dari jumlah wisatawan atau pembangunan infrastruktur semata. Lebih dari itu, penting untuk melihat sejauh mana manfaatnya dirasakan secara adil oleh seluruh pihak.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pertumbuhan yang ada berisiko hanya menjadi kemajuan di permukaan. Sebaliknya, dengan komunikasi yang lebih terbuka, partisipatif, dan inklusif, Pangandaran memiliki peluang besar untuk berkembang tidak hanya sebagai destinasi wisata unggulan, tetapi juga sebagai ruang yang adil bagi semua pihak.
