Kumparan Logo

BEI Serius Tanggapi Wacana RI Jadi Standalone Market, Siap Klarifikasi ke MSCI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi dalam sesi bersama wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (18/9/2026).  Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi dalam sesi bersama wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Bursa Efek Indonesia (BEI) menanggapi secara serius soal pengumuman MSCI yang membuka konsultasi terkait proposal reklasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market turun menjadi Standalone Market.

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengatakan akan segera meminta waktu kepada MSCI untuk mengklarifikasi berbagai hal yang masih menjadi perhatian lembaga penyedia indeks global tersebut.

“Kami dari Bursa Efek Indonesia tentu menanggapi begini dengan sangat serius gitu, ya. Dan kami akan segera meminta waktu kepada MSCI untuk mengklarifikasi concern mereka dari mereka yang masih ada seperti apa,” ucap Iding kepada wartawan di Bursa Efek Indonesia, Jumat (16/10).

Iding menyebut, BEI telah melakukan berbagai upaya reformasi pasar modal, terutama dalam meningkatkan transparansi dan integritas, serta memperkuat likuiditas. Dari sisi transparansi, BEI juga telah menurunkan batas pengungkapan kepemilikan saham dari sebelumnya 5 persen menjadi 1 persen.

Pengunjung memotret layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

“Kemudian granularity data tipe investor dari 9 menjadi 39. Dan high shareholding concentration juga kami publish dengan beberapa kali perbaikan,” ucap Iding.

Iding melanjutkan, perbaikan pertama dilakukan dengan mempertimbangkan price impact ratio, sedangkan perbaikan berikutnya dilakukan dengan memperluas cakupan saham yang masuk dalam penghitungan.

“Kemudian yang kedua kita perlu perluas universe-nya. Jadi dari minimum 10 triliun saham minimum 10 triliun menjadi 5 triliun,” sebut Iding.

Kata Iding, berbagai perubahan itu merupakan bagian dari upaya perbaikan berkelanjutan dalam reformasi pasar modal Indonesia.

Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

“Nah, itu semua kami komunikasikan dengan MSCI dan juga investor global,” tutur Iding.

Adapun MSCI akan mengumumkan keputusan akhirnya paling lambat akhir Juni 2027 dan dapat memberikan pembaruan sementara mengenai masukan pelaku pasar selama periode konsultasi.

“Dalam Tinjauan Klasifikasi Pasar Juni 2026, MSCI melaporkan bahwa pelaku pasar telah menyampaikan kekhawatiran signifikan terkait kelayakan investasi (investability) pasar saham Indonesia, termasuk struktur kepemilikan saham yang masih tidak transparan dan dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi,” tulis keterangan resmi MSCI dikutip, Jumat (16/10).

Menurut MSCI, meskipun otoritas Indonesia telah mengumumkan berbagai reformasi, antara lain peningkatan pengungkapan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, pengungkapan klasifikasi investor yang lebih terperinci, pelaporan Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi (High Shareholding Concentration/HSC), dan peta jalan menuju persyaratan free float minimum sebesar 15 persen, investor institusional menekankan perlunya implementasi yang konsisten serta bukti dampak material yang berkelanjutan dari pengumuman tersebut.