Kumparan Logo

Harga Telur Jepang Cetak Rekor Tertinggi, Supermarket Rela Rugi Jual Murah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi telur di supermarket Jepang. Foto: Hiroshi-Mori-Stock/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi telur di supermarket Jepang. Foto: Hiroshi-Mori-Stock/Shutterstock

Harga telur di Jepang masih berada di level tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, meski selama ini dikenal sebagai komoditas dengan harga yang relatif stabil.

Kenaikan biaya produksi, termasuk harga pakan ternak yang meningkat akibat ketegangan di Timur Tengah ini menjadi penyebab utamanya. Potensi wabah flu burung dengan tingkat patogenisitas tinggi juga mengancam kenaikan harga lebih lanjut. Kondisi itu membuat pelaku industri semakin khawatir menjelang musim dingin, ketika permintaan telur mencapai puncaknya selama musim Natal.

Di supermarket Akidai Sekimachi di Distrik Nerima, Tokyo, satu karton berisi 10 butir telur ukuran sedang dijual seharga 268 yen atau 289 yen (setara Rp 32.685, dengan kurs Rp 113,10 per yen) termasuk pajak pada 5 Oktober. Seorang pelanggan berusia 40-an mengatakan dirinya mengurangi pembelian telur karena harganya terus naik.

“Saya dulu membeli telur setidaknya sekali seminggu, tetapi belakangan harganya menjadi sangat mahal sehingga saya tidak lagi membelinya sesering dulu,” ujarnya, dikutip dari The Japan News, Selasa (13/10).

Supermarket itu menawarkan promosi khusus setiap Minggu dengan menjual satu karton berisi 10 butir telur hanya seharga 88 yen (setara Rp 9.954), termasuk pajak. Namun, diskon tersebut harus dibayar dengan kerugian.

“Kami merugi dari penjualan telur sepanjang tahun. Ini memang sulit, tetapi kami bisa bertahan dengan memangkas biaya iklan dan menyesuaikan biaya tenaga kerja,” kata Presiden supermarket tersebut, Hiromochi Akiba.

Menurut Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, harga eceran rata-rata satu karton berisi 10 butir telur berbagai ukuran mencapai 309 yen (setara Rp 34.952) dalam survei terhadap 470 toko di seluruh Jepang yang dilakukan pada 7–9 September. Angka ini menyamai rekor harga tertinggi yang pernah tercatat.

Kenaikan harga pakan ternak impor menjadi salah satu faktor utama yang membuat harga telur tetap tinggi.

Federasi Nasional Asosiasi Koperasi Pertanian Jepang memutuskan menaikkan harga pasokan pakan ternak rata-rata sekitar 3.200 yen (setara Rp 361.965) per ton untuk periode Oktober–Desember. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan memburuknya ketegangan di Timur Tengah dan pelemahan yen di antara sejumlah faktor lainnya. Organisasi itu juga meninjau harga setiap tiga bulan, dan kenaikan terbaru menandai kenaikan harga selama empat kuartal berturut-turut.

Pelaku industri pun mewaspadai kemungkinan wabah flu burung pada musim ini yang dapat menyebabkan kelangkaan telur dan mendorong kenaikan harga lebih lanjut.

Jepang sendiri telah mengalami wabah flu burung selama enam musim berturut-turut sejak 2020. Pada musim 2022, sebanyak 17,71 juta ekor unggas dimusnahkan, menjadi jumlah tertinggi yang pernah tercatat, fenomena yang dikenal sebagai egg shock, ketika sejumlah pelaku usaha terpaksa menghentikan penjualan atau menghentikan produksi berbagai produk berbahan dasar telur.

Kemudian, organisasi produsen dan perusahaan swasta bekerja sama untuk menstabilkan pasokan serta meningkatkan efisiensi distribusi. Mereka tengah menjajaki cara memperluas penggunaan telur beku yang dapat disimpan dalam jangka waktu lama, termasuk mekanisme pembagian biaya fasilitas penyimpanan. Kelompok tersebut berencana merangkum rekomendasi pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027.

Kewpie Corp, salah satu pengguna telur industri terbesar di Jepang, mengonsumsi sekitar 250.000 ton telur setiap tahun. Perusahaan ini telah melakukan diversifikasi wilayah pengadaan dan pemasok telur. Sejak 2023, Kewpie juga membeli telur impor dari Brasil, bahkan ketika pasokan dalam negeri berada dalam kondisi stabil.

Sementara Ifuji Sangyo Co, produsen utama produk telur cair, menetapkan target meningkatkan volume penjualan tahunan produk telur cair, termasuk produk beku, dari sekitar 67.000 ton menjadi 80.000 ton pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2031.

Pencegahan wabah flu burung akan menjadi faktor penting untuk memastikan pasokan telur tetap stabil. Kementerian Pertanian Jepang tengah mempertimbangkan penerapan vaksinasi untuk mencegah penyakit tersebut.

Mantan profesor di Tokyo University of Agriculture, Seiji Nobuoka, mengatakan peternak unggas memiliki keterbatasan dalam mengatasi risiko wabah hanya dengan mengandalkan langkah-langkah biosekuriti.

“Langkah-langkah yang efektif harus diupayakan,” kata Nobuoka, merujuk pada pembahasan mengenai penerapan vaksinasi untuk mencegah flu burung.