Kumparan Logo

Iran Tawarkan Buka Selat Hormuz Selama Sepekan, Tunggu Persetujuan AS

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, 14 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer
zoom-in-whitePerbesar
Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, 14 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan telah mengajukan kesepakatan kepada Amerika Serikat (AS) yang memungkinkan Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu satu pekan.

Katanya, hal itu dapat dilakukan jika persyaratan yang diperlukan terpenuhi. Ia menyebut persyaratan tersebut telah tercantum dalam nota kesepahaman atau MoU yang ditandatangani pada Juni.

“Pilihan sekarang berada di tangan Amerika Serikat,” katanya, seraya menambahkan rencana tersebut telah disampaikan kepada AS melalui Qatar, dikutip dari BBC pada Sabtu (26/9).

Seorang pejabat AS mengatakan kepada BBC bahwa pembicaraan positif sedang berlangsung melalui para mediator, termasuk mengenai masalah nuklir. Meski AS belum menyampaikan tanggapan resmi atas proposal tersebut, Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS melaporkan Presiden AS Donald Trump telah menolak kesepakatan itu.

Menurut laporan itu, Trump secara pribadi skeptis bahwa Iran akan memenuhi tuntutannya dan telah mengatakan kepada stafnya bahwa ia melihat kemungkinan dilakukannya kembali kampanye serangan udara.

AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan menyerang Israel dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk serta negara-negara Arab di Teluk yang menjadi sekutu AS. Iran juga memblokir Selat Hormuz.

Sebelum perang dan penutupan selat, sekitar 20 persen minyak dunia dan gas alam cair (LNG) yang digunakan secara global melewati Selat Hormuz. Penutupan jalur ini menyebabkan harga energi berfluktuasi tajam.

Di sisi lain, situasi ini juga meningkatkan tekanan terhadap Trump untuk mencari cara mengakhiri konflik, terutama ketika AS bersiap menghadapi pemilihan anggota Kongres pada November.

“Jika persyaratan yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali dan jalur pelayaran normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari,” kata Araghchi kepada wartawan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbicara dalam konferensi pers bersama Menlu Turki di Teheran (30/11/2025). Foto: Atta Kenare/AFP

Ia tidak menjelaskan secara spesifik langkah apa yang diinginkan Iran dari AS. “Tindakan yang harus dilakukan Amerika Serikat bukanlah hal baru. Semuanya sudah tercantum dalam MoU,” tambahnya.

“Saya dapat mengatakan kepada Anda bahwa jika pihak AS serius untuk mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz, semuanya sudah siap,” lanjut Araghchi.

Kemudian, seorang pejabat AS mengatakan kepada BBC bahwa AS berada dalam posisi yang sangat kuat dengan menguasai Selat Hormuz, sehingga tidak terburu-buru.

Dalam wawancara dengan CBS News, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan proses gencatan senjata akan dimulai sejak hari mereka menerimanya.

“Kami sebelumnya telah mencapai kesepakatan berdasarkan MOU yang ditandatangani di Pakistan, jika AS setuju untuk melanjutkan dengan cara tersebut, semuanya akan kembali seperti sebelumnya,” tambah Pezeshkian.

Ia juga mengatakan Iran kini akan mengizinkan inspektur nuklir PBB masuk ke negaranya.

“Jika mereka ingin datang dan melakukan inspeksi, kami dapat mencapai kesepakatan dan persetujuan mengenai topik khusus tersebut dalam negosiasi,” ucap Pezeshkian, menanggapi tudingan bahwa Iran sedang berupaya mengembangkan senjata nuklir.

MoU antara AS dan Iran yang ditandatangani pada 18 Juni dirancang untuk mewujudkan gencatan senjata dan membuka kembali sebagian Selat Hormuz.

Perjanjian 14 poin itu menyatakan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Perjanjian tersebut juga menyebut AS, Iran, dan sekutunya akan menghentikan operasi militer di semua front, serta memuat sejumlah ketentuan, termasuk penghentian blokade laut oleh AS dan keringanan sanksi.

Perjanjian itu juga menyatakan Iran akan melakukan upaya terbaik untuk memastikan jalur yang aman bagi kapal-kapal komersial melalui selat tersebut serta melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan pelayaran di masa depan.

Namun, kesepakatan tersebut runtuh tak lama kemudian setelah kedua pihak kembali melancarkan serangan. Iran sendiri telah menyerang kapal-kapal yang menurut mereka berupaya melintasi Selat Hormuz tanpa izin.

Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Sabtu (18/4/2026). Foto: STR/ REUTERS

Berbarengan dengan itu, AS menyerang sejumlah situs Iran di selat tersebut serta kapal tanker Iran di lepas pantai negara itu. AS juga mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang menyebabkan gangguan besar terhadap perekonomian Iran.

Trump kemudian mengeklaim AS telah berhasil mengeluarkan minyak melalui Selat Hormuz.

Data pelayaran menunjukkan rata-rata 10 hari terakhir sekitar 18 kapal melintas setiap hari. Namun, perusahaan data Kpler menyatakan jumlah kapal yang melintas setiap harinya sempat turun hingga hanya sembilan kapal pada hari-hari tertentu.

Sementara itu, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran baru-baru ini meningkatkan serangan untuk mengganggu ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah di sisi lain Semenanjung Arab.

Houthi merebut sejumlah wilayah strategis di pesisir Laut Merah dalam serangan cepat pada bulan ini, termasuk pelabuhan Mokha yang menghadap ke Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur sempit strategis bagi pelayaran global.

Situasi semakin memburuk akibat serangan Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Media AS melaporkan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah meminta dukungan militer dari Trump.

Pada Sabtu (26/9), koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengatakan telah mencegat dua rudal balistik dan sejumlah drone yang diluncurkan Houthi menuju Arab Saudi.

Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pekan ini, Trump mengatakan ia meyakini kesepakatan dengan Iran yang selama ini belum berhasil dicapai akan terwujud setelah pemilihan umum November.

“Akankah tercapai kesepakatan dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menjadi negara yang jauh lebih besar daripada sebelumnya?” kata Trump.

“Atau haruskah saya melenyapkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk kembali membunuh dan menghancurkan manusia serta negara? Haruskah saya mendorong mereka ke neraka?” lanjutnya.

Sementara pada Jumat (25/9), Araghchi mengatakan Iran tidak menerima paksaan, ancaman, atau intimidasi dan menambahkan bahwa perdamaian tidak dapat dibangun melalui ancaman untuk melenyapkan.