Kumparan Logo

Wall Street Melemah, Pasar Khawatir The Fed Naikkan Suku Bunga

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, New York City. Foto: Brendan McDermid/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, New York City. Foto: Brendan McDermid/REUTERS

Saham-saham utama di Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Kamis (10/9) setelah data harga produsen untuk Agustus rilis dan lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan depan. Kenaikan imbal hasil Treasury juga membuat saham menjadi kurang menarik.

Dikutip dari Reuters, Jumat (11/9), indeks S&P 500 turun 0,58 persen menjadi 7.591,75 poin pada akhir perdagangan. Nasdaq turun 0,65 persen menjadi 26.081,73 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,60 persen menjadi 52.064,10 poin.

Saham-saham perusahaan chip berkapitalisasi besar mengalami tekanan. Nvidia turun 2,3 persen, sementara Micron Technology melemah 4,7 persen. Keduanya turut membebani S&P 500. Di sisi lain, Apple melonjak 3,6 persen, sehari setelah meluncurkan iPhone seharga USD 1.999.

Dengan jalur pasokan melalui Selat Hormuz dan Laut Merah sama-sama terganggu akibat perang AS-Israel dengan Iran, harga minyak mentah Brent melonjak 6 persen menjadi USD 107 per barel. Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam rapat kebijakannya pada Rabu (16/9).

Imbal hasil surat utang Treasury AS bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun. Sementara itu, imbal hasil Treasury bertenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari 19 tahun dan imbal hasil tenor dua tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.

“Imbal hasil naik di sisi jangka pendek kurva karena The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Imbal hasil juga naik di sisi jangka panjang kurva karena masalah utang dan defisit, serta inflasi yang masih sulit turun,” kata analis strategi investasi di Baird, Ross Mayfield.

“Imbal hasil yang lebih tinggi merupakan sentimen negatif bagi pasar saham. Kondisi tersebut menurunkan valuasi dan membuat biaya operasional bisnis menjadi lebih mahal, serta meningkatkan biaya yang harus ditanggung konsumen untuk menjalani kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Data pada Kamis (10/9) menunjukkan indeks harga produsen atau producer price index (PPI) AS meningkat sesuai dengan ekspektasi pada Agustus secara bulanan, di tengah pemulihan harga produk energi. Investor akan mencermati data inflasi konsumen atau consumer price index (CPI) Agustus yang akan dirilis pada Jumat (11/9).

S&P 500 telah turun 2 persen dalam empat sesi perdagangan terakhir, mencatat penurunan empat hari terdalam sejak Juni.

Federal Reserve. Foto: Shutterstock

Sembilan dari 11 indeks sektor S&P 500 melemah. Penurunan terbesar terjadi pada sektor material yang turun 1,45 persen, disusul sektor teknologi informasi yang melemah 0,91 persen.

Volume perdagangan di bursa AS relatif tinggi, dengan 15,1 miliar saham berpindah tangan, dibandingkan rata-rata 14,9 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan sebelumnya.

Para trader kini melihat peluang sebesar 70 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pekan depan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, angka tersebut meningkat dari sekitar 64 persen sebelum laporan data Kamis (10/9).

Setelah mengalami penurunan baru-baru ini, indeks S&P 500 kini berada hampir 3 persen di bawah rekor penutupan tertingginya pada 13 Agustus. Meski demikian, indeks tersebut masih mencatat kenaikan 11 persen sepanjang 2026.

Penurunan S&P 500 baru-baru ini, ditambah prospek laba yang kuat, membuat indeks acuan tersebut diperdagangkan pada valuasi 19 kali estimasi laba. Level tersebut merupakan yang termurah sejak April 2025, ketika pengumuman tarif “Liberation Day” oleh Presiden AS Donald Trump memicu gejolak di pasar global.

Dalam perdagangan Kamis (10/9), saham Macy’s turun 4,7 persen. Operator department store yang tengah mengalami kesulitan tersebut menaikkan proyeksi tahunannya, tetapi kenaikannya dinilai belum cukup untuk menarik minat investor.

Saham American Eagle Outfitters anjlok 14 persen ke level terendah sejak Oktober. Perusahaan pakaian ini mempertahankan proyeksi penjualan toko yang sama untuk setahun penuh di tengah belanja konsumen untuk kebutuhan non-esensial yang masih bergejolak.

Jumlah saham yang turun di dalam indeks S&P 500 lebih banyak dibandingkan saham yang naik dengan rasio 2 banding 1.

S&P 500 mencatat delapan rekor tertinggi baru dan 28 rekor terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatat 44 rekor tertinggi baru dan 215 rekor terendah baru.