Konten dari Pengguna

Taman Literasi: Estetik untuk Kamera, Bukan untuk Membaca?

Najmatul Ulya

Najmatul Ulya

Mahasiswi ilmu komunikasi universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najmatul Ulya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi Penulis

Pertama kali saya tahu mengenai Taman Literasi Martha Christina Tiahahu itu dari Instagram. Banyak pengguna yang upload foto duduk cantik sambil membawa buku, dengan latar taman modern yang estetik banget. Awalnya saya pikir, “Wah, keren juga Jakarta sekarang punya taman baca yang sekeren ini.” Jadi saya mutusin buat datang langsung kesini.

Setelah sampai sana, saya harus akui bahwa tempatnya memang sebagus itu. Rapi, luas, desainnya yang modern, ada ruang baca yang sejuk, bahkan tersedia banyak tempat kopi dan makanan cemilan. Tapi setelah duduk di sana sekitar satu jam, saya jadi mikir, “Kok yang baca buku lumayan sedikit, ya?”

Mayoritas pengunjung disana sibuk ambil foto-foto sambil menikmati makanan yang mereka beli, walaupun nggak salah juga karena Taman publik memang buat siapa saja. Tapi rasanya sedikit ironis ketika taman yang awalnya untuk memajukan literasi, justru lebih populer sebagai spot foto estetik.

Saya sendiri datang ke sana dengan niat untuk membaca, atau setidaknya membuka buku sambil menikmati suasana. Tapi setelah melihat-lihat sekitar, saya malah nggak jadi baca. Bukan karena suasananya bising, tapi lebih karena auranya memang lebih terasa kayak tempat nongkrong santai daripada ruang baca. Akhirnya saya cuma duduk sambil scroll TikTok, ikut hanyut dalam vibe santainya taman itu.

Saya pikir, Ini bukan sepenuhnya salah taman atau pengunjung tapi lebih terhadap budaya kita yang emang belum terbiasa sama konsep ruang baca yang santai tapi serius. Karena kita udah biasa lihat perpustakaan itu tempat yang sepi dan kaku. Begitu disodorkan versi taman modern, kita malah bingung mau ngapain di sana yang akhirnya lebih banyak foto-foto.

Kalau boleh jujur, saya ngerasa taman ini punya potensi yang besar asal didukung dengan kegiatan literasi yang nyata. Bayangin kalau emang ada sesi baca puisi mingguan, bedah buku, atau ruang diskusi terbuka. Mungkin orang-orang jadi lebih terbiasa untuk baca bareng, bukan cuma datang untuk membuat konten.

Buat saya pribadi, Taman Literasi ini seperti ruang yang masih mencari jati diri. Mau dijadikan jadi tempat baca? Bisa banget. Tapi kalau ujung-ujungnya cuma jadi tempat nongkrong, ya menurut saya sayang juga.

Dan, Literasi itu nggak harus selalu serius dan sunyi. Tapi juga butuh makna. Dan saya harap, taman ini pelan-pelan bisa menjadi tempat yang bukan cuma bikin kita ingin foto, tapi juga ingin berpikir.