Konten dari Pengguna

Fecal Microbiota Transplant (FMT) Terapi "Menjijikkan" Ternyata Revolusioner

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari najmi hasna saniyyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada terapi medis yang, jika dijelaskan dalam satu kalimat kepada orang awam, hampir selalu memicu reaksi yang sama yakni ekspresi jijik, lalu tawa skeptis, lalu pertanyaan "itu serius?" Ya, serius. Transplantasi mikrobiota feses atau dalam dunia medis dikenal sebagai Fecal Microbiota Transplantation (FMT) adalah prosedur yang melibatkan pemindahan feses dari donor sehat ke saluran pencernaan pasien. Dan terlepas dari betapa tidak nyamannya kalimat itu terdengar, ini adalah salah satu terobosan medis paling signifikan dalam dua dekade terakhir.

Ilustrasi Fecal Microbiota Transplant (FMT).Photo by Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Fecal Microbiota Transplant (FMT).Photo by Gemini AI

Angka efektivitasnya untuk kondisi tertentu bahkan mengalahkan antibiotik obat yang selama ini dianggap senjata utama dalam melawan infeksi bakteri.

Mengapa Usus Kita Adalah Ekosistem yang Perlu Diselamatkan?

Tubuh manusia adalah rumah bagi sekitar 38 triliun mikroorganisme sebagian besar bermukim di saluran pencernaan. Komunitas mikroba ini, yang dikenal sebagai mikrobioma usus, bukan sekadar penumpang pasif. Mereka membantu mencerna makanan, memproduksi vitamin, melatih sistem imun, bahkan berkomunikasi dengan otak melalui jalur yang disebut sumbu usus-otak (gut-brain axis).

Ketika keseimbangan ekosistem ini terganggu misalnya akibat penggunaan antibiotik yang masif atau infeksi berat kondisi yang disebut disbiosis terjadi. Bakteri jahat yang biasanya ditekan oleh komunitas bakteri sehat kini bebas berkembang biak tanpa hambatan. Inilah yang menjadi akar dari berbagai penyakit yang selama ini sulit diobati.

Dari Praktik Kuno ke Terapi Modern

Yang mengejutkan, konsep ini bukan penemuan baru. Dokter Tiongkok pada abad ke-4 Masehi sudah menggunakan "sup feses" yang mereka sebut "sup kuning" untuk mengobati diare berat dan keracunan makanan. Di dunia kedokteran modern, FMT pertama kali dilaporkan dalam literatur ilmiah Barat pada 1958 oleh Dr. Ben Eiseman dari Colorado, yang menggunakannya untuk mengobati kolitis pseudomembran yang mematikan.

Namun popularitasnya meledak baru pada 2013, ketika sebuah uji klinis acak yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine membuktikan bahwa FMT jauh lebih efektif dibandingkan antibiotik standar untuk mengatasi infeksi Clostridioides difficile (CDI) yang berulang dengan tingkat keberhasilan mencapai 90%, dibandingkan hanya sekitar 25–31% untuk antibiotik vankomisin.

Bagaimana Prosedurnya Dilakukan?

Proses FMT dimulai jauh sebelum prosedurnya sendiri seleksi donor yang sangat ketat. Calon donor menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium untuk memastikan tidak membawa patogen berbahaya, parasit, virus hepatitis, HIV, dan berbagai infeksi lainnya. Feses yang terpilih kemudian diproses dalam kondisi steril dicampur dengan larutan salin, disaring, dan disiapkan dalam bentuk yang bisa diberikan kepada pasien.

Cara pemberiannya terus berkembang. Awalnya hanya melalui kolonoskopi atau enema, tetapi kini tersedia dalam bentuk kapsul yang bisa ditelan sebuah inovasi yang secara dramatis meningkatkan penerimaan pasien terhadap terapi ini. Isi kapsulnya adalah feses yang sudah diproses, dikeringkan, dan dikapsulkan sehingga tidak terasa dan tidak berbau. Bagi banyak pasien, mengetahui apa yang mereka telan tetap menantang secara psikologis tetapi hasilnya seringkali berbicara lebih keras dari keengganan awal.

Melampaui Usus Potensi yang Sedang Dieksplorasi

Jika manfaat FMT hanya sebatas infeksi usus, mungkin ia tidak akan menarik perhatian sebesar ini. Yang membuat komunitas ilmiah benar-benar bersemangat adalah potensinya yang jauh melampaui saluran pencernaan.

Penelitian yang dipublikasikan di ScienceDirect (2025) menunjukkan bahwa FMT dari donor bertubuh kurus dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan memperbaiki metabolisme glukosa pada pasien dengan sindrom metabolik. Studi lain menemukan efek positif FMT pada pasien dengan penyakit hati berlemak non-alkoholik (NAFLD). Bahkan, penelitian terbaru membuka kemungkinan bahwa FMT bisa memiliki dampak pada kondisi neurologis seperti depresi, kecemasan, dan penyakit Parkinson melalui jalur komunikasi usus-otak yang kini semakin dipahami mekanismenya.

Batas yang Perlu Dijaga

Antusiasme ilmiah terhadap FMT harus diimbangi dengan kehati-hatian yang proporsional. Pada 2019, FDA melaporkan dua kasus serius di mana pasien yang menerima FMT tertular bakteri resistan antibiotik dari donor salah satunya meninggal dunia. Insiden ini memperkuat mengapa seleksi donor yang ketat dan regulasi yang jelas bukan sekadar formalitas, melainkan komponen keselamatan yang tidak bisa dikompromikan.

Cleveland Clinic Journal of Medicine menyimpulkan bahwa saat ini FMT harus dipandang sebagai terapi yang sudah tervalidasi untuk infeksi CDI yang rekuren, sementara untuk kondisi lain, para klinisi perlu tetap optimis tetapi dengan kehati-hatian yang didasarkan pada bukti.