Farmasi Gen Z: Mengubah Paradigma Obat lewat Narasi Digital dan Budaya Viral

Mahasiswa Farmasi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Najwa Haifa Siti Shakila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendahuluan
Pernah kepikiran nggak sih, kalau sekarang orang mencari informasi tentang obat itu bukan dari brosur atau dokter saja, tapi dari TikTok, Instagram, bahkan YouTube? Atau jika ingin mengetahui cara ngatasin jerawat, banyak yang langsung buka Reels atau nonton review skincare dari influencer? Ini bukan lagi soal masa depan, tapi kenyataan yang sudah kejadian sekarang. Generasi Z, mereka yang lahir sekitar tahun 1997 sampai 2012, memang tumbuh bareng bersama perkembangan teknologi. Internet, media sosial, dan smartphone sudah seperti bagian dari hidup sehari-hari. seperti yang dibahas juga sama Nurlaila, C., et al. (2024), Gen Z ini bisa dibilang generasi yang lahir di tengah dunia yang serba digital. Dan makin ke sini, teknologi tidak hanya memudahkan urusan rumah atau kerjaan, tapi juga ngerombak banyak hal termasuk dunia kesehatan dan farmasi. Dulu, informasi soal obat tuh rasanya hanya bisa diakses lewat dokter, apoteker, atau brosur obat yang bahasanya super formal dan bikin ngantuk. Tapi sekarang? Semuanya udah berubah drastis.
Narasi Digital dan Edukasi Obat
Gen Z, yang udah terbiasa banget sama konten digital, jadi makin aktif bukan hanya untuk mencari tahu soal obat, tapi juga untuk ngebahas dan nyebarin info itu dengan cara mereka sendiri. Kayak yang dijelasin sama Mustofa, R. A. B., et al. (2024) ; Juanta, P., et al. (2025). promosi kesehatan lewat digital tuh sekarang udah jadi cara paling efektif buat ngasih info ke publik. Teknologi digital juga bener-bener ngebantu banget di bidang farmasi. Dulu kesannya farmasi itu kerjanya di labolatorium yang super tradisional. Tapi sekarang, dengan adanya otomatisasi, AI, sampai blockchain, pengembangan obat jadi makin canggih dan efisien. Sistem digital juga membantu untuk pengawasan pemakaian obat, meganalisis data, sampai memberi saran terapi. Prastiyo, A., et al. (2024) juga bilang kalau digitalisasi bener-bener nge-push kemajuan di dunia farmasi dan kesehatan. Nah, Gen Z sendiri itu seperti “digital native” dimana sejak kecil sudah main internet, scrolling media sosial, dan bisa dapet info apapun cuma dari genggaman tangan. TikTok, Instagram, YouTube, dan X nggak cuma buat hiburan, tapi jadi sumber utama info, termasuk soal kesehatan.
Pergesaran Otoritas Informasi dan Dampak Influencer
Salah satu yang paling kelihatan adalah pergeseran siapa yang dipercaya. Dulu, info kesehatan itu sakral banget, cuma boleh dari dokter atau tenaga medis. Tapi sekarang? Influencer dan content creator justru sering lebih didengar. Mereka bisa memberikan informasi yang susah dalam bentuk video lucu, cerita pribadi, atau konten yang relatable. Padahal, kadang isinya belum tentu akurat. Tapi karena penyampaiannya enak dan mudah dimengerti, jadi lebih dipercaya. Seperti yang dijelaskan di penelitian Mirzaei, A., et al. (2021), sekarang internet itu udah jadi sumber utama buat cari info kesehatan. Ditambah lagi, algoritma medsos juga berperan besar. Sistem seperti TikTok atau Instagram itu akan terus menampilkan konten yang mirip sama yang kita suka atau sering tonton. Jadi kalau kita sering lihat video tentang skincare, ya yang muncul terus ya soal skincare. Ini disebut filter bubble atau echo chamber yang mana kita terjebak di lingkaran info yang itu-itu saja. Wulandari, et al. (2021) juga bilang algoritma ini bikin kita cuma mendengar pendapat yang sesuai sama apa yang udah kita percaya, yang bisa jadi bahaya juga kalau infonya salah. Maka dari itu Gen Z, edukasi soal obat itu sudah tidak bisa disajikan dalam bentuk brosur panjang yang isinya teks semua. Mereka lebih suka sesuatu yang singkat, visual, personal, dan gampang di-share. TikTok 60 detik yang pakai animasi buat menjelaskan cara kerja insulin bisa jauh lebih efektif dibanding artikel panjang di jurnal medis. Wajayanti, et al. (2022); Li, B., et al. (2024) menyoroti kalau personalisasi dan visualisasi dalam konten media sosial punya pengaruh besar terhadap kredibilitas informasi. Tapi, juga tetap ada sisi gelapnya. Karena saking cepatnya info nyebar, misinformasi juga jadi mudah viral. Misalnya soal obat herbal yang katanya bisa menyembuhkan semua penyakit — padahal tidak ada bukti ilmiahnya. Penelitian Do Nascimento, et al. (2022) juga mengangkat soal ini. Banyak orang jadi percaya begitu saja, bahkan sampai mendiagnosa dan minum obat sendiri tanpa konsultasi. Itu bahaya banget. Kita juga pernah lihat tren-tren aneh, seperti diet ekstrem atau life hack kesehatan yang sebenarnya nggak masuk akal.
Adaptasi Informasi Farmasi dan Industri Kesehatan
Gen Z juga punya kebiasaan unik dimana Sebelum ke dokter atau apotek, mereka biasanya sudah melakukan riset terlebih dahulu lewat forum, media sosial, atau Google. Ini membuat layanan seperti e-farmasi dan telefarmasi makin berkembang. Sekarang kita bisa upload resep, konsultasi via chat, lalu obatnya bisa langsung dikirim ke rumah. Praktis banget, kan? Tapi di balik kemudahan itu, risiko misinformasi makin besar. Gen Z sering kesulitan membedakan mana info yang valid dan mana yang hanya viral. Ini menunjukan bahwa pentingnya digital health literacy, kemampuan buat memeriksa kebenaran informasi kesehatan yang kita konsumsi. Karena itu, tenaga kesehatan dan industri farmasi perlu sekali di adaptasi. Tidak bisa lagi mengandalkan metode komunikasi yang kaku dan satu arah. Sekarang saatnya membuat konten yang singkat, visual, jujur, dan mudah dibagikan. Dan sekarang sudah banyak juga dokter dan farmasis yang aktif di media sosial untuk memberi edukasi yang bener. Konten mereka bisa jadi penyeimbang untuk melawan misinformasi. Hal ini juga dibahas sama Huynh, G., et al. (2021) soal pentingnya peran apoteker di media sosial. Intinya, Gen Z sudah mengubah cara kita mengakses informasi farmasi dan kesehatan. Mereka memimpin perubahan lewat platform digital, membuat layanan farmasi jadi lebih cepat dan personal. Tapi perubahan ini juga membawa tantangan baru, terutama soal validitas informasi. Kita butuh literasi digital yang lebih kuat dan kerja sama antara semua pihak yaitu institusi kesehatan, industri farmasi, dan content creator agar masyarakat tetap mendapatkan info yang akurat dan aman. Karena di era digital ini, narasi bisa jadi senjata, tapi juga bisa jadi boomerang.
REFERENSI
Do Nascimento, I. J. B., Pizarro, A. B., Almeida, J. M., Azzopardi-Muscat, N., Gonçalves, M. A., Björklund, M., & Novillo-Ortiz, D. (2022). Infodemics and health misinformation: a systematic review of reviews. Bulletin of the World Health Organization, 100(9), 544. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9421549/. Diakses pada 7 Juli 2025.
Huynh, G., Pham, T., Yu, C., Vuong, M., & Tso, L. (2021). The emerging role of pharmacists as social media influencers. Pharmacy Times. https://www.pharmacytimes.com/view/the-emerging-role-of-pharmacists-as-social-media-influencers. Diakses pada 6 Juli 2025.
Juanta, P., Lim, O., Ferry, F., & Wijaya, D. (2025). Pengaruh Konten Media Sosial Edukasi Kesehatan terhadap Perubahan Perilaku Hidup Sehat pada Generasi Z. INSOLOGI: Jurnal Sains Dan Teknologi, 4(1), 1-14. https://doi.org/10.55123/insologi.v4i1.4830. Diakses pada 6 Juli 2025.
Li, B., Liu, M., Liu, J., Zhang, Y., Yang, W., & Xie, L. (2024). Quality assessment of health science-related short videos on TikTok: a scoping review. International Journal of Medical Informatics, 105426. https://doi.org/10.1016/j.ijmedinf.2024.105426. Diakses pada 6 Juli 2025.
Mirzaei, A., Aslani, P., Luca, E. J., & Schneider, C. R. (2021). Predictors of health information–seeking behavior: systematic literature review and network analysis. Journal of medical Internet research, 23(7), e21680. https://preprints.jmir.org/preprint/21680. Diakses pada 6 Juli 2025.
Mustofa, R. A. B., & Sani, M. (2024). Efektivitas promosi kesehatan melalui media sosial dalam mendorong perilaku hidup sehat pada remaja. Sosial Simbiosis: Jurnal Integrasi Ilmu Sosial Dan Politik, 1(3), 212-223. https://doi.org/10.62383/sosial.v1i3.484. Diakses pada 6 Juli 2025.
Nurlaila, C., Aini, Q., Setyawati, S., & Laksana, A. (2024). Dinamika Perilaku Gen Z Sebagai Generasi Internet. Konsensus: Jurnal Ilmu Pertahanan, Hukum dan Ilmu Komunikasi, 1(6), 95-102. https://doi.org/10.62383/konsensus.v1i6.464. Diakses pada 5 Juli 2025.
Prastiyo, A., & Hati, A. K. (2024). Pelatihan digitalisasi farmasi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) PC Kota Salatiga. Abdi Makarti, 3(2), 111-121. http://dx.doi.org/10.52353/abdimakarti.v3i2.722. Diakses pada 7 Juli 2025.
Wijayanti, R. P., Handayani, P. W., & Azzahro, F. (2022). Intention to seek health information on social media in Indonesia. Procedia Computer Science, 197, 118-125. https://doi.org/10.1016/j.procs.2021.12.125. Diakses pada 7 Juli 2025.
Wulandari, V., Rullyana, G., & Ardiansah, A. (2021). Pengaruh algoritma filter bubble dan echo chamber terhadap perilaku penggunaan internet. Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 17(1), 98-111. https://doi.org/10.22146/bip.v17i1.423. Diakses pada 6 Juli 2025
Najwa Haifa Siti Shakial, Mahasiswa farmasi UIN jakarta
