Ketika Sekolah Menuntut Semua Anak Berlari dengan Kecepatan yang Sama

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Najwa Lutfiyah Ahmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan ada tiga puluh siswa di dalam satu kelas. Guru menjelaskan materi dengan metode yang sama selama satu jam. Di akhir pelajaran, hanya sebagian siswa yang benar-benar memahami materi, sementara yang lain masih kebingungan. Apakah masalahnya terletak pada kemampuan siswa, atau justru pada cara sekolah mengajar?
Saat ini, banyak sekolah masih menerapkan metode pembelajaran yang cenderung seragam di dalam kelas. Salah satu metode yang paling sering digunakan adalah ceramah. Guru menjadi pusat proses pembelajaran. Guru menyampaikan materi dengan cara ceramah di kelas. Sebagian besar waktu, siswa hanya duduk, mendengarkan, dan mencatat. Bagi sebagian siswa, cara penyampaian materi melalui ceramah cukup efektif. Beberapa siswa diam mendengarkan, memerhatikan, dan dapat langsung memahami dengan cepat.
Gambaran tersebut sejalan dengan berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi Indonesia. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 dari OECD menunjukkan bahwa hanya 25% siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai setidaknya Level 2 dalam kemampuan membaca, jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 74%. Temuan ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum memperoleh hasil belajar yang optimal, sehingga pembelajaran perlu mampu mengakomodasi kebutuhan belajar yang beragam.
Setiap Siswa Memiliki Cara Belajar yang Berbeda
Salah satu hal yang perlu dipahami dalam proses pembelajaran adalah bahwa tidak semua siswa memiliki cara belajar dan kecepatan pemahaman yang sama. Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Dalam psikologi pendidikan, perbedaan cara belajar tersebut dikenal melalui konsep tipologi belajar. Apa itu tipologi belajar?
Tipologi belajar adalah pengelompokan jenis-jenis belajar berdasarkan cara seseorang menerima, memahami, dan menggunakan informasi dalam proses pembelajaran. Salah satu klasifikasi gaya belajar yang paling dikenal adalah VARK. VARK terdiri atas Visual, Auditori, Read/Write, dan Kinestetik.
Gaya belajar VARK ini menunjukkan bahwa setiap siswa memiliki preferensi belajar yang berbeda-beda. Ada siswa yang dapat dengan mudah memahami materi dengan menggunakan mind mapping, catatan berwarna, dan gambar. Itu merupakan contoh gaya belajar Visual.
Sementara itu, siswa dengan gaya belajar Auditori lebih mudah memahami materi melalui penjelasan lisan, diskusi, atau mendengarkan rekaman pembelajaran. Kemudian, siswa dengan gaya belajar Read/Write lebih mudah memahami materi melalui kegiatan membaca buku, membuat rangkuman, atau menulis kembali poin-poin penting. Ada pula siswa yang lebih mudah memahami materi melalui praktik langsung, percobaan (trial and error), atau kegiatan praktikum, misalnya saat pelajaran sains. Cara belajar tersebut merupakan contoh gaya belajar Kinestetik. Menariknya, banyak orang memiliki lebih dari satu gaya belajar.
Mengapa Satu Metode Mengajar Tidak Selalu Efektif?
Jadi, dapat dipahami bahwa dalam satu kelas, tidak mungkin semua siswa memiliki cara belajar yang sama. Oleh karena itu, sekolah tidak dapat hanya bergantung pada satu metode pembelajaran, contohnya ceramah. Ceramah mungkin efektif untuk siswa dengan gaya belajar Auditori. Siswa dengan gaya belajar tersebut akan lebih cepat memahami materi dari mendengarkan penjelasan. Contohnya mendengarkan guru menjelaskan materi di kelas, menonton video pembelajaran dan mendengarkan podcast.
Namun, bagaimana dengan siswa lain yang memiliki cara belajar yang berbeda? Siswa yang cenderung memiliki gaya belajar Visual biasanya lebih terbantu dengan gambar atau diagram. Siswa dengan gaya belajar Read/Write mungkin akan sulit fokus karena mereka lebih cepat memahami materi dengan membaca atau menulis teks panjang. Siswa dengan gaya belajar Kinestetik akan cepat bosan jika hanya diam dan mendengarkan guru.
Perbedaan setiap siswa tidak hanya terlihat dari cara mereka belajar. Ada yang memahami materi lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang percaya diri berbicara di depan kelas, sementara yang lain lebih nyaman belajar secara mandiri. Perbedaan inilah yang seharusnya dipahami sekolah sebelum menerapkan pembelajaran yang sama kepada semua siswa.
Ketika pembelajaran di sekolah masih cenderung menggunakan pendekatan yang sama, kebutuhan belajar sebagian siswa bisa saja belum terpenuhi. Oleh karena itu, sekolah perlu memodifikasi pembelajaran agar dapat mengakomodasi berbagai cara belajar yang dimiliki siswa.
Menyesuaikan Pembelajaran dengan Kebutuhan Siswa
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memodifikasi proses pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Modifikasi tersebut dapat dilakukan melalui konten, proses, maupun produk pembelajaran. Guru dapat memodifikasi konten belajar yang disajikan dengan menyesuaikan berbagai gaya belajar. Contohnya, suatu materi dapat diberikan melalui media berupa teks untuk siswa dengan gaya belajar Read/Write. Lalu materi tersebut juga disajikan dengan bentuk video yang menampilkan suara dan gambar visual untuk siswa dengan gaya belajar Auditori dan Visual. Kemudian, materi juga dapat diberikan dengan objek tambahan seperti balok susun untuk memahami matematika untuk siswa dengan gaya belajar Kinestetik.
Selain memodifikasi konten, guru juga dapat memodifikasi proses pembelajaran. Guru dapat memodifikasi aktivitas di dalam kelas seperti kerja kelompok, observasi, atau simulasi. Contohnya, Guru dapat mengombinasikan diskusi kelompok, simulasi, eksperimen sederhana, tutor sebaya, atau presentasi sehingga setiap siswa memiliki kesempatan belajar dengan cara yang paling sesuai bagi dirinya.
Tidak hanya itu, hasil belajar siswa juga dapat disesuaikan melalui modifikasi produk. Produk yang dimaksud adalah hasil belajar siswa. Guru dapat meminta siswa mengumpulkan hasil belajar mereka dalam bentuk yang sesuai dengan gaya belajar mereka. Contohnya, materi yang sama boleh dikumpulkan dalam bentuk teks panjang untuk siswa dengan gaya belajar Read/Write, video untuk siswa dengan gaya belajar Auditori, poster untuk siswa dengan gaya belajar Visual, dan model 3D untuk siswa dengan gaya belajar Kinestetik. Dengan begitu, siswa dapat mengekspresikan ide mereka melalui bentuk produk yang dikumpulkan kepada guru. Guru juga dapat memperoleh gambaran mengenai kecenderungan cara belajar siswa sehingga pembelajaran berikutnya dapat dirancang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pendidikan yang Menghargai Perbedaan
Apabila pembelajaran mulai disesuaikan dengan kebutuhan siswa, kesempatan setiap anak untuk memahami materi juga akan semakin besar. Siswa tidak hanya lebih mudah menerima informasi, tetapi juga lebih termotivasi untuk belajar.
Perbedaan cara belajar bukanlah hambatan, melainkan bagian dari keberagaman yang selalu ada di setiap ruang kelas. Ketika guru mampu menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswanya, proses belajar tidak lagi hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada bagaimana setiap anak benar-benar memahami dan mengembangkan potensinya.
Tidak semua anak akan sampai di garis akhir dengan langkah yang sama. Ada yang membutuhkan penjelasan lebih banyak, ada yang baru memahami setelah mencoba secara langsung, dan ada yang berkembang ketika diberi kesempatan untuk belajar dengan caranya sendiri. Pendidikan seharusnya memberi ruang bagi perbedaan itu, bukan justru mengabaikannya.
Sekolah seharusnya tidak memaksa semua anak berlari dengan kecepatan yang sama. Tugas pendidikan bukan menciptakan siswa yang seragam, melainkan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang adil untuk bertumbuh, belajar, dan mencapai tujuan belajar mereka dengan cara terbaiknya masing-masing.
