Konten dari Pengguna

Les, Buku, dan Cara Bicara: Modal Tak Terlihat yang Menentukan Nasib di Sekolah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAJWA NABILA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua anak duduk di kelas yang sama, diajar guru yang sama, mengerjakan soal yang sama. Satu percaya diri, lancar bicara, cepat paham. Satunya lagi pendiam, ragu setiap kali menjawab, dan sering tertinggal. Kebanyakan dari kita langsung menyimpulkan: yang pertama pintar, yang kedua kurang rajin.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu (1930-2002) tidak sepakat dengan kesimpulan secepat itu. Menurutnya, selisih di kelas sering berasal dari bekal yang dibawa anak dari rumah. Bakat dan usaha hanya sebagian ceritanya.

Sumber : pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : pexels

Sekolah dan anggapan bahwa ia adil

Banyak orang percaya sekolah adalah arena yang adil. Semua anak belajar di ruang yang sama, diuji dengan cara yang sama, lalu yang terbaik naik. Bourdieu meragukan itu. Bersama Jean-Claude Passeron, dalam Reproduction in Education, Society and Culture (1970), ia berpendapat bahwa sekolah ikut mereproduksi ketimpangan sosial. Aturan mainnya kelihatan netral, padahal lebih cocok dengan kebiasaan kelompok tertentu.

Tiga konsep Bourdieu

Modal budaya adalah pengetahuan, selera, kebiasaan, dan cara berbahasa yang dihargai sekolah. Anak yang sejak kecil dibacakan buku, akrab dengan kosakata akademis, atau pernah diajak ke museum sudah fasih dengan bahasa sekolah sebelum hari pertama. Bourdieu membedakan tiga bentuknya: yang menyatu dalam diri (kebiasaan dan cara bicara), yang berwujud benda (buku, alat belajar), dan yang dilembagakan (ijazah dan gelar).

Habitus adalah pola pikir dan kebiasaan yang tertanam dari keluarga dan lingkungan, dan bekerja tanpa disadari. Anak yang dibesarkan untuk berani berpendapat akan nyaman di kelas diskusi. Anak yang diajar untuk patuh dan tidak membantah mudah dicap pasif, padahal ia hanya membawa habitus lain.

Kekerasan simbolik lebih sulit dikenali karena halus. Ketika cara bicara dan selera kelas menengah dianggap standar “yang baik”, anak dari latar lain diam-diam dinilai kurang. Anak itu sendiri bisa ikut percaya bahwa ia memang kurang pintar, tanpa tahu bahwa ukurannya tidak setara sejak awal.

Modal tak terlihat di sekolah kita

Di Indonesia, bentuknya mudah ditemukan. Anak yang orang tuanya mampu membayar les punya keunggulan saat ujian dan seleksi sekolah favorit. Rumah yang punya rak buku, internet stabil, dan orang tua yang bisa menemani mengerjakan PR memberi keuntungan yang jarang dihitung. Kefasihan berbahasa Indonesia baku, atau bahasa asing, sering dibaca sebagai tanda cerdas, padahal itu hasil paparan sejak kecil. Anak yang di rumah berbahasa daerah bisa dianggap kurang cakap. Ada pula orang tua yang paham seluk-beluk pendaftaran, beasiswa, dan jalur masuk, sehingga anaknya punya jalan pintas yang tidak tercatat di rapor.

Akibatnya, nilai di rapor tampak seperti hasil kerja keras individu. Sebagian di antaranya sebenarnya warisan keluarga yang diubah sekolah menjadi “prestasi”.

Bukan takdir

Bourdieu tidak bilang nasib anak sudah ditentukan. Banyak anak dari keluarga sederhana berhasil menembus batas. Hanya saja mereka biasanya harus berusaha jauh lebih keras, dan itu alasan untuk melihat mereka sebagai orang yang berjuang, bukan bukti bahwa sistem sudah adil.

Teorinya juga sering dikritik karena terlalu menekankan reproduksi dan kurang memberi ruang bagi pilihan individu atau kebijakan yang bisa mengubah keadaan. Kritik itu masuk akal. Tetap saja, pengamatan dasarnya bertahan: titik awal anak tidak sama.

Lalu apa yang bisa dilakukan

Guru bisa mulai dari hal kecil, misalnya tidak langsung menganggap murid yang diam sebagai murid yang kurang mampu. Anak yang jarang mengangkat tangan mungkin hanya belum pernah diajari bahwa bertanya itu boleh.

Sekolah bisa menghidupkan perpustakaan, membuka bimbingan belajar gratis, dan mendampingi murid yang tidak punya buku atau internet di rumah. Pembuat kebijakan perlu bertanya apakah seleksi dan penilaian benar-benar mengukur kemampuan, atau cuma mengukur siapa yang punya akses lebih dulu.

Untuk kita yang bukan guru atau pejabat, ada satu kebiasaan yang gampang dicoba. Saat melihat anak berprestasi atau tertinggal, tanyakan dulu bekal apa yang sudah ia bawa dan bekal apa yang belum pernah ia dapat.

Sekolah sering dibayangkan sebagai tangga yang sama untuk semua. Kenyataannya, anak-anak mulai menaikinya dari anak tangga yang berbeda. Itu tidak mengurangi usaha anak yang juara, tetapi rapor jelas tidak menceritakan semuanya. Jadi, lain kali kita memuji juara kelas, apa saja yang ikut mengantarnya ke sana?