Pengaruh Al-Qur’an terhadap Bahasa dan Sastra Arab

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Najwa Qurrotaayun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan kamu hidup di Jazirah Arab sebelum Islam datang. Tradisi di sana hidup lewat lisan, dan cara terbaik mengabadikan sejarah, adat, serta kebanggaan kabilah adalah lewat syair. Karena itulah syair dijuluki diwan al-Arab, catatan hidup bangsa Arab. Lalu Islam datang dan banyak hal berubah. Salah satu yang paling terasa adalah pengaruh Al-Qur’an terhadap bahasa dan sastra Arab, yang perlahan menggeser arah sastra Arab itu sendiri.
Pengaruh Al-Qur’an terhadap Perkembangan Bahasa Arab
Al-Qur’an turun bertahap selama sekitar 23 tahun. Bagi orang Arab yang sangat menghargai kefasihan, bahasanya terasa lain dari apa pun yang pernah mereka dengar. Ada beberapa hal yang membuatnya begitu istimewa.
Pertama, pilihan katanya sangat tepat. Lihat QS. Hud: 44 saat banjir besar berakhir. Hanya lewat kata qudhiya (diselesaikan) dan istawat (berlabuh), suasana akhir peristiwa itu langsung tergambar.
Kedua, ringkas tapi padat. Seruan semut di QS. An-Naml: 18 memuat panggilan, peringatan, larangan, sampai permohonan uzur, semuanya dalam satu kalimat pendek.
Ketiga, gambarannya hidup. Amal orang kafir diibaratkan abu yang ditiup angin kencang pada hari berbadai (QS. Ibrahim: 18), sehingga makna yang abstrak terasa seperti bisa dilihat mata.
Pengaruhnya pada jiwa pun begitu kuat sampai kaum musyrik menuduhnya sihir. Mutunya juga seragam dari awal sampai akhir, tidak seperti ucapan manusia yang mudah timpang. Wajar kalau Al-Qur’an menjadi standar kefasihan baru bagi para penutur, penyair, dan penulis masa itu.
Pengaruh Al-Qur’an terhadap Perkembangan Sastra Arab
Bukan hanya bahasanya, tema sastranya ikut berubah. Dulu syair berisi kebanggaan kabilah dan celaan terhadap lawan. Setelah Al-Qur’an turun, arahnya bergeser ke keimanan, akhlak, dan dakwah. Muncul syair dakwah, jihad, dan pembelaan terhadap Islam, sementara rayuan cabul, celaan kesukuan, dan syair khamar ditinggalkan.
Contoh yang paling dikenal adalah Hassan bin Tsabit, penyair Rasulullah. Ia tidak lagi membuka syairnya dengan menangisi puing-puing perkemahan seperti kebiasaan penyair Jahiliah, dan syairnya banyak dipengaruhi gaya serta kosakata Al-Qur’an.
Prosa juga ikut berkembang. Pidato yang dulu sering untuk kepentingan kabilah kini dipakai untuk dakwah dan membina masyarakat. Surat Nabi Muhammad SAW kepada Heraklius, misalnya, berisi ajakan bertauhid dan bersandar pada ayat Al-Qur’an. Turunnya wahyu juga menumbuhkan kebiasaan menulis dan mencatat di kalangan kaum Muslimin.
Kenapa Sastra Arab Bisa Berubah Sejauh Itu?
Perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Sebelum Islam, semangat kabilah membuat syair menjadi alat kebanggaan sekaligus celaan. Setelah Islam menegakkan persaudaraan dan menjadikan takwa sebagai ukuran kemuliaan (QS. Al-Hujurat: 10 dan 13), syair tak lagi punya alasan kuat untuk melayani kabilah.
Menariknya, Islam tidak menolak syair begitu saja. Ukurannya adalah isi: syair yang mengajak pada akhlak dan kebenaran diterima, yang bertentangan dengan agama ditolak. Karena itu sebagian tradisi lama tetap bertahan, hanya arahnya yang baru. Wahyu pertama, Iqra’ (QS. Al-‘Alaq: 1), juga mendorong orang Arab membaca dan menulis, sehingga ilmu baru tumbuh dan bahasa Arab makin kaya.
Jadi, Apa Intinya?
Singkatnya, Al-Qur’an mengubah cara orang Arab berbahasa dan bersastra. Katanya jadi lebih tepat, maknanya lebih ringkas, gambarannya lebih hidup, dan tema sastra bergeser dari kabilah ke dakwah dan pembinaan masyarakat. Tapi perubahan ini tidak memutus tradisi sebelumnya. Beberapa tema lama tetap hidup, hanya dengan arah dan nilai yang baru.
Sumber: Muhammad Ahmad Abdurrahman, Al-Adab al-‘Arabi fi ‘Ashr Shadr al-Islam (1442 H/2021 M), Syathri, Hanafi Mahmud Mushthafa, dan Jabir, Mushthafa Ahmad Abdullah. Tarikh al-Adab al Jahili li Thullab al-Firqah al-Ula.
Penulis: Najwa Qurrota A’yun, Rizka Fadhila, Mohammad Far’i, Ghazalah Firdausyah, Muhammad Hirzy Humaidi
Afiliasi: Program Studi Dirasat Islamiyah, Fakultas Dirasat Islamiyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
