Hijrah di Tengah Sorotan: Cadar, Tidak Sekadar Kain Penutup
Tulisan dari Najwa Syarifah Farmasi UII tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Empat tahun saya menyimpan niat, tetapi belum pernah benar-benar berani mencoba. Cadar bukanlah sesuatu yang asing bagi saya, tetapi untuk memakainya di luar rumah? Belum pernah.
Bukan karena saya tidak ingin, melainkan karena belum siap menghadapi dunia yang terkadang lebih cepat menilai daripada memahami. Selama empat tahun, niat itu hanya berdiam di hati, tumbuh perlahan kadang menguat, kadang meredup karena lingkungan yang belum sepenuhnya ramah terhadap pilihan ini.
Kalimat seperti, “Ngapain sih pakai cadar? Emangnya kamu ustadzah?” atau, “Nanti susah cari kerja loh” sudah terlalu sering saya dengar. Padahal, hati ini sudah lama merindukan kenyamanan dalam balutan syariat.
Lingkungan Baru, Keberanian Baru
Segalanya berubah ketika saya mulai kuliah di salah satu universitas Islam di Yogyakarta, tepatnya di Universitas Islam Indonesia, jurusan Farmasi.
Di hari-hari awal perkuliahan, saya dibuat kagum oleh banyak teman yang mengenakan cadar dengan tenang, tanpa ragu. Mereka cerdas, aktif, dan justru sangat dihormati. Dari situ saya menyadari: ini bukan soal kain di wajah, melainkan tentang keberanian menepati janji yang lama terpatri dalam hati.
Untuk pertama kalinya, saya merasa bahwa niat ini bukanlah sesuatu yang aneh. Saya tidak lagi merasa seperti makhluk asing. Justru sebaliknya, lingkungan ini menjadi pelukan hangat bagi niat yang selama ini saya jaga diam-diam.
Saya pun bertanya pada diri sendiri, “Najwa, kalau bukan sekarang, kapan lagi?”
Cadar: Lebih dari Sekadar Penutup
Cadar bukan simbol kesempurnaan, apalagi klaim bahwa saya lebih baik dari orang lain. Cadar adalah bentuk kehati-hatian, rasa ingin menjaga diri secara utuh baik lahir maupun batin.
Saya teringat sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang sejak lama mengetuk hati saya berkali-kali:
“Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin supaya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)
Dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bentuk kasih sayang dan perlindungan Allah kepada para perempuan Muslim agar tidak disakiti, tidak diganggu, dan tetap terjaga kehormatannya. Meskipun cadar tidak disebut secara eksplisit, makna perlindungan dan identitas keislaman sangat jelas di dalamnya. Dan saya ingin menjadi bagian dari perempuan yang menjaga itu.
Niat yang Terus Dijaga
Selama empat tahun, saya hanya mampu mengagumi dari kejauhan para perempuan yang telah lebih dahulu mengenakan cadar. Sambil terus meyakinkan diri, “Saya juga bisa, nanti.”
Namun, niat itu tidak pernah benar-benar padam. Bahkan saat saya belum berani melangkah, saya terus memantaskan diri pelan-pelan. Memperbaiki cara berpakaian, menjaga pandangan, mengatur sikap. Saya tahu, cadar bukan hanya soal penampilan luar, tapi juga soal proses menjadi pribadi yang lebih baik dari dalam.
Seperti sabda Nabi ﷺ:
“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Kini, ketika saya akhirnya mantap untuk memakainya, bukan karena saya sudah sempurna. Tetapi karena saya tidak ingin terus menunda kebaikan hanya karena takut penilaian manusia.
Tidak Semua Akan Mengerti, dan Itu Tidak Apa-apa
Ada masa di mana saya berharap semua orang akan mengerti alasan di balik pilihan saya. Tapi nyatanya, tidak semua orang akan paham. Bahkan dari kalangan terdekat sekalipun, ada yang bertanya sinis, ada yang diam tapi memandang aneh, dan ada pula yang menasihati agar saya tidak terlalu “nekat”.
Awalnya itu menyakitkan. Tapi lambat laun saya belajar: tidak semua perjuangan harus dijelaskan panjang lebar, dan tidak semua penolakan harus ditanggapi. Kadang, cukup dengan tetap istiqamah. Biarkan waktu dan sikap kita yang berbicara.
Bermula dari Lingkungan yang Mendukung
Allah sungguh Maha Baik. Ia tidak hanya memberi hidayah, tetapi juga menciptakan waktu dan tempat yang tepat untuk menerima hidayah itu.
Dulu, saya sering merasa sendiri dalam keinginan ini. Tapi kini, saya dikelilingi oleh orang-orang yang justru menguatkan. Teman-teman saya di kampus tidak hanya mengenakan cadar, tapi juga membuktikan bahwa cadar bukanlah penghalang untuk aktif, berprestasi, bahkan menjadi inspirasi bagi orang lain.
Saya pun sadar, terkadang bukan niat kita yang lemah tapi lingkungannya yang belum mendukung. Dan saat Allah mengganti lingkungan itu, keberanian pun tumbuh dengan sendirinya.
Ini Bukan Akhir, Tapi Awal Perjalanan
Mengenakan cadar bukanlah titik akhir dari proses hijrah saya. Justru ini adalah langkah awal menuju perjalanan panjang memperbaiki diri.
Saya masih belajar, masih penuh kekurangan. Tapi kini saya melangkah dengan lebih tenang, karena niat itu tak lagi hanya saya simpan, melainkan telah saya jalani.
Bagi kamu yang masih menyimpan niat dalam diam, saya memahami rasanya. Percayalah, kamu tidak sendiri. Jangan takut berbeda. Jangan takut dinilai. Karena ridha Allah jauh lebih berharga dibanding validasi dunia.
“Siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)
Jangan tunda langkah baik hanya karena takut sorotan. Karena pada akhirnya, yang menilai paling adil dan paling memahami… hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Najwa Syarifah, Mahasiswi Sarjana Farmasi UII.

