Konten dari Pengguna

Qawwam dan Ummu Madrasat al-Ula: Membangun Rumah yang Kokoh Menuju Surga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najwa Syarifah Farmasi UII tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Ilustrasi Gambar: https://chatgpt.com/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Ilustrasi Gambar: https://chatgpt.com/

Menikah: Menyatukan Dua Jiwa, Membangun Satu Jalan

Menikah bukan sekadar ritual mengikat cinta di pelaminan. Ia adalah permulaan dari misi besar: merajut rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah sebagai jalan meraih surga.

Dalam Islam, akad nikah bukan perjanjian ringan, melainkan mitsaqan ghalizha yaitu perjanjian kokoh yang diikat dengan nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Suami dan istri tak hanya sekadar teman tidur atau teman makan, tetapi sahabat jiwa yang saling menuntun di jalan takwa.

Dalam Al-Qur’an, suami disebut sebagai qawwam yaitu pemimpin, pelindung, dan penanggung jawab. Istri digambarkan sebagai ummu madrasat al-ula yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ketika peran ini dipahami dan dijalankan dengan ikhlas, rumah tangga akan kokoh, tenteram, dan melahirkan generasi berakhlak mulia.

Setiap pasangan hendaknya sadar, perjalanan rumah tangga ibarat mendayung di lautan luas. Terkadang tenang, kadang bergelombang, tak jarang badai pun menghadang. Namun, ketika dua hati saling berpegang pada Allah, kapal kecil ini akan selamat hingga dermaga surga.

Qawwam: Pemimpin yang Bijak, Pelindung yang Lembut

Sebagai qawwam, seorang suami memikul amanah besar. Ia harus mampu memimpin bukan dengan tangan besi, tetapi dengan cinta dan kebijaksanaan. Pemimpin rumah tangga bertanggung jawab atas keselamatan agama, akhlak, dan kesejahteraan keluarga.

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan peran lelaki sebagai qawwam, pemimpin yang bertanggung jawab atas arah dan keselamatan keluarganya. Namun, kepemimpinan ini bukan berarti otoriter atau semena-mena. Qawwam sejati memimpin dengan hikmah, melindungi dengan kasih, mendidik dengan teladan.

Sebagai qawwam, seorang suami memikul amanah besar. Ia harus mampu memimpin bukan dengan tangan besi, tetapi dengan cinta dan kebijaksanaan. Ia mengatur nafkah lahir batin, menjaga akidah keluarga, dan membimbing istri serta anak-anak dengan lembut. Ia menjadi tempat pulang paling aman bagi hati yang lelah. Pemimpin rumah tangga bertanggung jawab atas keselamatan agama, akhlak, dan kesejahteraan keluarga.

Bahkan Rasulullah ﷺ mencontohkan: Beliau memperbaiki sandal sendiri, menjahit pakaian robek, dan tidak pernah mencela makanan di rumah. Inilah teladan qawwam yang ideal: kuat dalam prinsip, lembut dalam perlakuan.

Menjadi qawwam berarti peka pada kebutuhan istri, mengayomi anak-anak, serta menuntun keluarga mendekat kepada Allah. Jika seorang suami hanya menuntut tanpa membimbing, rumah tangga akan rapuh. Karena itu, belajarlah menjadi imam yang dicintai, bukan ditakuti.

Ummu Madrasat al-Ula: Ibu, Sekolah Pertama Generasi Emas

Sejak dahulu, para ulama sepakat: ibu adalah sekolah pertama. Ibu adalah madrasah pertama dan utama. Setiap perkataan, sikap, dan kebiasaan seorang ibu akan membentuk kepribadian anak. Dari rahim seorang ibu, lahir para ulama, mujahid, dan pemimpin. Pendidikan di rumah jauh lebih kuat daripada sekadar sekolah formal. Oleh sebab itu, seorang istri dituntut untuk terus belajar, berakhlak baik, dan bijak mengelola hati. Dari tutur lembut seorang ibu, tertanam adab dan budi pekerti anak-anaknya.

Ibu yang salehah adalah pilar keluarga saleh. Maka, seorang istri hendaknya senantiasa meng-upgrade ilmu, mempercantik akhlak, menata hati agar selalu lembut dan sabar. Mendidik anak bukan sekadar menyuapi makan, tetapi menanamkan tauhid, membiasakan akhlak mulia, dan menuntun hati mereka mencintai Al-Qur’an.

Mendidik anak bukan hanya membatasi perilaku, tetapi menanamkan nilai tauhid, kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab. Di sinilah rumah tangga menjadi taman surga kecil: tempat tumbuhnya benih-benih insan bertakwa. Rumah yang di dalamnya terdengar lantunan ayat suci, zikir, dan doa, insya Allah akan terhindar dari bisikan setan. Karena itu, jadilah ummu madrasat al-ula yang penuh cinta, cerdas, dan berakhlak mulia.

Komunikasi: Jembatan Hati dalam Rumah Tangga

Tidak sedikit rumah tangga goyah bukan karena kekurangan harta, melainkan miskin komunikasi. Salah paham yang dibiarkan tanpa klarifikasi berubah menjadi jurang yang memisahkan hati.

Suami dan istri harus membiasakan diskusi terbuka. Ungkapkan perasaan tanpa saling menyalahkan. Belajar mendengar dengan sabar dan menanggapi dengan empati.

Gunakan kata-kata lembut meski sedang berbeda pendapat. Seringlah saling bertanya: “Apa yang bisa aku bantu hari ini?” atau “Bagaimana perasaanmu?” Kalimat sederhana semacam ini mampu mencairkan hati yang penat.

Komunikasi yang sehat membuat masalah terasa ringan, dan cinta semakin subur meski usia pernikahan bertambah.

Pasangan yang mampu saling mendengar, saling menghargai, dan saling mendukung akan bertahan melewati badai masalah. Suami harus belajar mendengar tanpa menghakimi. Istri pun perlu menata kata agar menyejukkan, bukan melukai.

Jangan biarkan prasangka tumbuh subur. Diskusikan setiap masalah dengan kepala dingin. Ketika terjadi perbedaan pendapat, jangan saling membentak, tetapi carilah titik temu. Rumah tangga yang komunikatif ibarat benteng yang tahan gempa: goyah boleh, roboh tidak.

Menghiasi Rumah dengan Ibadah

Rumah tangga harus dihidupkan dengan ibadah. Rumah tangga tanpa zikir dan doa ibarat rumah tanpa pondasi. Perbanyak salat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, mendengar kajian, dan saling mendoakan menjadikan rumah tangga seperti taman surga di dunia. Tumbuhkan suasana keimanan agar setan tidak mudah merusak ketenangan.

Biasakan saling mengingatkan dalam kebaikan. Suami menuntun istri dan anak-anak, istri mendukung dan menguatkan suami. Anak-anak yang terbiasa mendengar doa dan nasihat orang tua akan tumbuh dengan hati yang lunak, mudah menerima kebaikan.

Ibadah keluarga bukan hanya di atas sajadah, tetapi juga dalam hal kecil: menyiapkan makan dengan niat ibadah, membersihkan rumah dengan niat menenangkan hati suami, atau menahan amarah agar rumah tangga tetap damai.

Ajarkan anak untuk cinta masjid, rajin berdoa, dan dekat dengan Al-Qur’an sejak dini. Tidak perlu menunggu anak besar. Bahkan sejak dalam kandungan, bacaan Al-Qur’an ibu adalah gizi rohani pertama.

Merawat Cinta, Menjaga Kepercayaan

Cinta dalam rumah tangga tidak selamanya berbunga manis. Ia harus dirawat setiap hari. Saling memuji, mengucap terima kasih meski untuk hal kecil, atau sekadar duduk berdua di akhir hari sambil bercerita adalah pupuk bagi cinta.

Hindari membuka aib pasangan kepada orang lain. Apapun masalahnya, diskusikan berdua. Jika perlu pihak ketiga, carilah penasihat terpercaya, bukan orang yang hanya menambah bumbu gosip.

Bersyukurlah dengan kelebihan pasangan, dan berlapang hatilah menerima kekurangannya. Karena suami dan istri adalah tim: saling menambal celah, saling menutupi aib, saling menjaga rahasia.

Bersama Menuju Surga

Pernikahan bukan hanya tentang berdua di dunia. Ia adalah perjalanan panjang hingga ke surga. Suami sebagai qawwam dan istri sebagai ummu madrasat al-ula harus saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Semoga setiap rumah tangga yang dibangun di atas iman, cinta, dan tanggung jawab menjadi pondasi kuat bagi lahirnya generasi shaleh. Jadikan rumah kita surga sebelum surga yang abadi.

Mari bersama kita jaga rumah tangga, jadikan setiap peluh dan lelah sebagai persembahan untuk Allah SWT. Karena pada akhirnya, rumah kokoh yang kita bangun hari ini adalah jalan menuju surga-Nya kelak.

Semoga artikel ini menjadi pengingat manis bagi siapa pun yang sedang merancang pernikahan ataupun tengah menapaki tahun-tahun rumah tangga. Kita semua sedang belajar. Tak ada yang sempurna, tetapi dengan saling mendukung, kita bisa saling menyempurnakan. Qawwam dan ummu madrasat al-ula adalah dua pilar yang tak terpisahkan. Bersama-sama, keduanya melahirkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Salam hangat untuk setiap pasangan pejuang rumah tangga. Semoga Allah meridai setiap niat baik dan menguatkan langkah kita sampai surga. Amin.

Najwa Syarifah, Mahasiswi Sarjana Farmasi UII.