Konten dari Pengguna

Resensi Ayahku (Bukan) Pembohong: Ketulusan di Antara Kebohongan dan Kebenaran

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nakku Gumilang Pijar Merdeka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul Buku: Ayahku (Bukan) Pembohong

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Sabak Grip Nusantara

Tahun / Cetakan: Cetakan ketiga, Januari 2023

ISBN: 9786238829651

Tebal Halaman: 300 halaman

Ukuran Buku: 20 cm

Percetakan: PT Gramedia, Jakarta

Cover Buku Ayahku (Bukan) Pembohong (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pendahuluan

Setiap orang tua memiliki cara tersendiri dalam mendidik, membesarkan, dan menyampaikan kasih sayang kepada buah hatinya. Ada yang menunjukkannya lewat tindakan nyata yang tegas, ada yang memanjakan dengan materi, dan ada pula yang memilih menyelipkan nilai-nilai kehidupan melalui cerita atau nasihat bertutur. Namun, kerap kali cara-cara tersebut sulit dipahami oleh anak yang masih belia, hingga tidak jarang menimbulkan kesalahpahaman seiring bertambahnya usia. Berangkat dari realita hubungan orang tua dan anak yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, Tere Liye menghadirkan sebuah karya fiksi yang emosional melalui novel berjudul Ayahku Bukan Pembohong. Melalui kisah ini, pembaca diajak menyelami dinamika hubungan keluarga yang sarat akan kasih sayang, kesalahpahaman, keraguan, hingga pencarian kebenaran. Ayahku Bukan Pembohong berhasil menyajikan narasi yang mengunggah emosi tentang bagaimana sosok ayah membentuk masa depan anaknya lewat cerita-cerita ajaib yang ia wariskan.

Alur Cerita

Kisah berfokus pada dinamika hubungan antara Dam dan ayahnya dari masa kanak-kanak hingga ia dewasa. Sejak kecil, Dam dibesarkan dalam buaian cerita-cerita luar biasa yang dituturkan oleh sang ayah—mulai dari persahabatan eratnya dengan pemain bola legendaris dunia, petualangan bersama Suku Penguasa Angin yang menaungi layang-layang raksasa, perjalanan menembus Lembah Bukhara yang misterius, hingga perburuan buah Apel Emas yang sangat langka. Di mata Dam muda, sang ayah adalah pahlawan tanpa tanding; sosok pria yang jujur, penuh prinsip, hebat, serta dipenuhi kepribadian yang tangguh dan jumawa. Hubungan mereka begitu erat, diikat oleh rasa kagum dan kepolosan Dam yang mempercayai seluruh petualangan tersebut tanpa ragu sedikit pun.

Namun, bagi kita sebagai pembaca, cerita-cerita ajaib yang dituturkan sang ayah sejak awal justru memicu rasa curiga. Batas antara kenyataan logis dan dongeng fantasi terasa terlampau kabur, membuat kita menyimpulkan bahwa kisah-kisah itu terlalu fiktif untuk benar-benar terjadi di dunia nyata, suatu hal yang sangat berbeda dengan pemikiran Dam kecil saat itu.

Keretakan hubungan mereka baru benar-benar bermula ketika Dam beranjak remaja dan melanjutkan sekolah di sebuah akademi berasrama tempat ayahnya dulu menimba ilmu. Di perpustakaan akademi tersebut, Dam secara tidak sengaja menemukan sekumpulan buku yang tampak seperti buku dongeng yang berisi sebagian besar kisah ajaib ayahnya persis hingga ke detail-detailnya. Penemuan buku rekaan itu perlahan meruntuhkan seluruh rasa percaya Dam, melahirkan rasa tertipu yang amat mendalam, dan perlahan-lahan meretakkan hubungannya dengan sang ayah hingga ia tumbuh dewasa.

Seiring bertambahnya usia, kejengkelan Dam semakin memuncak karena sang ayah terus menceritakan kisah-kisah tersebut dan menolak mengaku berbohong meskipun telah dikonfrontasi secara langsung. Rasa kesal Dam berubah menjadi ketakutan ketika ia melihat ayahnya mulai menceritakan dongeng-dongeng itu kepada anak-anak Dam. Puncak dari kemarahan Dam terjadi pada momen yang sangat krusial: saat sang ibu berada dalam kondisi sekarat di rumah sakit, sang ayah justru kembali menceritakan kisah masa lalu dan awal pertemuan mereka yang lagi-lagi terdengar terlampau fiktif dan tidak masuk akal bagi Dam.

Tak lama setelah kepedihan atas meninggalnya sang ibu, kondisi kesehatan sang ayah pun terus merosot hingga akhirnya menyusul berpulang, sebelum mereka sempat memperbaiki hubungan secara utuh. Namun tepat pada hari pemakaman sang ayah, sebuah penyingkapan luar biasa terjadi. Tokoh-tokoh nyata dari cerita ajaib ayahnya melangkah hadir satu per satu untuk memberikan penghormatan terakhir. Pembuktian mengejutkan di pemakaman ini seketika meruntuhkan prasangka Dam selama bertahun-tahun, sekaligus menegaskan bahwa seluruh cerita ajaib yang ia anggap kebohongan ternyata benar-benar nyata.

Kelebihan dan Kekurangan

Hal mendasar yang menurut saya perlu dipahami dari buku ini adalah bahwa narasinya tidak sedang bercerita tentang konflik hubungan antara Dam dan ayahnya semata. Lebih jauh dari itu, novel ini mengisahkan perjalanan tumbuh kembang seorang anak serta bagaimana peran, nilai-nilai, dan teladan orang tua bekerja membentuk pribadi Dam, membangun prinsip hidup, kerja keras, dan integritasnya bahkan mungkin tanpa pernah disadari oleh Dam sendiri sepanjang proses pembentukan itu. Menurut saya, bahkan jika sang ayah berbohong, pesan-pesan yang ia sampaikan melalui cerita-ceritanya yang ajaib itu bukanlah sesuatu yang negatif

Daya tarik utama yang paling menonjol dari novel ini terletak pada pengemasan bagian akhirnya yang disajikan dengan cara sangat luar biasa. Menurut saya, plot twist yang dihadirkan sebenarnya tidaklah terlampau bombastis, rumit, atau unpredictable bagi beberapa pembaca yang jeli. Namun, cara Tere Liye mengeksekusi penyingkapan tersebut sanggup membalikkan serta mengubah total sudut pandang kita terhadap keseluruhan jalinan cerita dari awal, menciptakan sebuah penutup yang terasa manis sekaligus pahit secara bersamaan.

Keunggulan lain yang tak kalah mengagumkan adalah bagaimana setiap subplot dalam buku ini dirajut dengan rapi. Saya sangat terkesan dengan bagaimana cerita-cerita sampingan tidak ada yang terbuang sia-sia; setiap alur kecil mengambil bagian penting dalam merangsang perkembangan karakter Dam dan memperkuat pesan utama cerita.

Berbicara soal kelemahan, sebenarnya tidak ada celah atau kekurangan mayor yang sangat mengganggu ketika membaca buku ini. Menurut pandangan saya, hal yang mungkin paling dapat memicu kebingungan pembaca adalah alurnya yang bergerak maju dan mundur untuk merangkai masa lalu dan masa kini. Namun, sisanya tidak ada kelemahan penulisan lain yang sampai mengurangi keasyikan atau mempengaruhi kenyamanan ketika menikmati kisahnya.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, novel Ayahku Bukan Pembohong berhasil menyajikan sebuah pembelajaran moral yang begitu reflektif mengenai penerimaan, pemaknaan, dan kompleksitas hubungan dalam keluarga. Melalui dinamika emosional antara Dam dan ayahnya, buku ini menyadarkan kita bahwa persepsi seorang anak sering kali terbatas oleh ego dan logika yang sempit, hingga membuat kita kerap terburu-buru menghakimi niat baik orang tua kita sendiri.

Keputusasaan, rasa marah, dan penyesalan yang dialami Dam menjadi cermin bagi siapa saja yang sedang menapaki pendewasaan diri. Buku ini mengajak pembaca untuk berdamai dengan masa lalu serta menghargai setiap detik keberadaan orang tua sebelum penyesalan datang terlambat. Terkadang sebagai seorang anak kita tidak selalu tahu dan paham tentang apa yang sudah mereka lalui. Mereka selalu tampak seperti penuh keajaiban dan kadang bisa tampak menyebalkan. Namun satu yang pasti adalah mereka selalu menginginkan yang terbaik bagi kita.