"700 Ribu per Kg!" Membaca Slip Tongue Prabowo dari Kacamata Psikolinguistik

Master's graduate in Applied Linguistics/ Yogyakarta State University / Researcher
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari N Kurniadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susana dari Kabupaten Bogor, dia bekerja sebagai buruh harian. Mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram”
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto ini sempat membuat publik terhenyak dan ruang media sosial menjadi riuh. Tentu saja, logika dasar kita tahu bahwa angka yang dimaksud sang presiden seharusnya adalah 700 rupiah per kilogram. Momen keseleo lidah (slip of the tongue) ini dengan cepat menyebar, menjadi bahan perbincangan, bahkan meme di berbagai platform.
Di panggung politik yang panas, momen seperti ini rentan digoreng menjadi komoditas. Sebagian mungkin buru-buru menghakiminya sebagai tanda menurunnya konsentrasi. Namun, sebelum kita terjebak dalam bias politik, mari kita mundur sejenak dan membedah fenomena ini dari kacamata sains.
Dalam ilmu psikolinguistik, insiden “700 ribu” ini bukanlah sesuatu yang bermuatan politis, melainkan sekadar “kemacetan lalu lintas” mekanis di dalam otak manusia.
Pakar linguistik terkemuka dari University of California, Los Angeles (UCLA), mendiang Victoria Fromkin, terkenal dengan pandangannya bahwa keseleo lidah bukanlah kesalahan yang acak (random). Menurut Fromkin, slip of the tongue adalah "jendela untuk melihat bagaimana otak memproses bahasa". Melalui kajiannya mengenai berbagai bentuk kesalahan ujaran, Fromkin menunjukkan bahwa kesalahan ketika berbicara dapat memberikan gambaran mengenai proses mental yang terlibat dalam produksi bahasa. Kesalahan tersebut tidak selalu terjadi secara sembarangan.
Otak kita bekerja dengan sistem pengarsipan yang sangat terstruktur saat memproduksi ujaran. Secara psikolinguistik, kekeliruan ‘700 ribu’ alih-alih ‘700 rupiah’ dapat dibaca sebagai bentuk lexical substitution, yakni ketika unsur leksikal yang muncul tidak sesuai dengan yang dimaksudkan pembicara..
Kesalahan ini terjadi ketika otak secara keliru mengambil sebuah kata dari "laci" memori kosakata, tetapi hebatnya, kata yang salah tersebut biasanya masih berada dalam satu kategori makna atau fungsi yang berdekatan dengan kata yang sebenarnya diincar.
Pertanyaan menariknya: Mengapa kata "ribu" yang muncul menyela, dan bukan kata lain seperti "gram" atau "meter"?
Secara psikolinguistik, slipt tongues datas merupakan kekeliruan dalam pemilihan unsur leksikal ketika pembicara menyusun ujaran secara spontan. Hal ini dikarenakan Manusia memiliki apa yang dalam psikolinguistik disebut sebagai mental lexicon, yaitu representasi pengetahuan mengenai kata-kata yang tersimpan dalam sistem kognitif. Ketika berbicara, sejumlah kandidat leksikal dapat diaktifkan dan harus dipilih dengan sangat cepat sesuai dengan konteks yang hendak disampaikan.
Ketika beliau membahas konsep "gaji", "upah", atau "kesejahteraan", otak secara otomatis mengaktifkan jaringan kosakata yang berkaitan dengan nominal uang dalam jumlah besar. Saat angka "700" diucapkan, secara refleks dan mekanis, memori kerjanya (working memory) melengkapinya dengan kata ‘ribu’. Otak terpeleset sepersekian detik dan mengabaikan fakta logis di ujung kalimat bahwa konteks pembicaraannya adalah upah mengupas bawang merah per kilogram.
Fenomena linguistik ini juga tidak bisa dilepaskan dari gaya orasi khas sang Jenderal. Prabowo dikenal sebagai orator ulung yang sering keluar dari teks naskah pidato formal untuk berbicara secara berapi-api, lugas, dan spontan kepada audiensnya.
Pakar psikolinguistik asal Belanda, Willem Levelt, dalam model produksi bahasanya menjelaskan bahwa berbicara spontan membutuhkan sinkronisasi kilat antara konseptualisasi ide, pemilihan kata, dan instruksi motorik ke otot mulut.
Saat berpidato tanpa teks di depan ribuan pasang mata, beban kognitif (cognitive load) seorang presiden sangatlah tinggi. Saat otak harus memproses emosi nasionalisme, mengatur intonasi suara lantang, dan merangkai kata secara real-time, probabilitas terjadinya glitch atau error dalam artikulasi menjadi jauh lebih besar dibandingkan jika ia sekadar membaca naskah dengan kepala tertunduk.
Celah Manusiawi di Balik Podium Kepresidenan
Pada akhirnya, slip tongue "700 ribu per kg" tidak cukup untuk digunakan sebagai dasar menilai kapasitas komunikasi seseorang secara keseluruhan. Satu kesalahan ujaran adalah data tentang satu peristiwa bahasa, bukan vonis terhadap kapasitas kognitif seseorang.
Di balik citra militer yang tegas, suara yang menggelegar, dan setelan jas kenegaraan yang kaku, ketidaksempurnaan artikulasi ini justru mendobrak batas birokrasi. Momen keseleo lidah ini memperlihatkan satu hal yang pasti. Di balik podium kepresidenan yang megah, berdiri seorang manusia biasa yang otaknya bekerja persis seperti kita semua.
