Konten dari Pengguna

Ketika Pemimpin Bicara, Publik Belajar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari N Kurniadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kata "Ndasmu" menuai sorotan publik (foto: ilustrasi).
zoom-in-whitePerbesar
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kata "Ndasmu" menuai sorotan publik (foto: ilustrasi).

Bahasa pemimpin bukan sekadar persoalan pilihan kata, tetapi juga bagian dari keteladanan komunikasi yang dapat membentuk budaya berbahasa generasi berikutnya.

Seorang anak tidak belajar bahasa hanya dari buku pelajaran. Ia belajar dari apa yang didengarnya setiap hari: dari orang tua, guru, teman, media sosial, televisi, hingga figur publik. Karena itu, ketika seorang pemimpin berbicara di hadapan masyarakat, yang berlangsung bukan sekadar proses penyampaian pesan. Publik juga sedang mengamati bagaimana seorang yang memiliki otoritas menggunakan bahasa.

Di sinilah bahasa pemimpin menjadi penting.

Dalam perspektif linguistik, bahasa tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi. Bahasa juga membawa norma sosial. Melalui bahasa, seseorang belajar bagaimana menyapa, mengkritik, menyatakan ketidaksetujuan, menunjukkan penghormatan, atau merespons perbedaan.

Dengan kata lain, yang dipelajari dari sebuah ujaran bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana sesuatu dikatakan.

Karena itu, persoalan bahasa pemimpin tidak cukup dilihat dari apakah sebuah kata tergolong sopan atau tidak. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: siapa yang mengucapkannya, kepada siapa, dalam konteks apa, dan bagaimana masyarakat kemudian memaknainya?

Dalam kajian pragmatik, sebuah ujaran tidak pernah berdiri sendiri. Konteks, hubungan sosial, posisi penutur, dan tujuan komunikasi ikut menentukan maknanya. Ujaran yang sama dapat menghasilkan respons berbeda ketika disampaikan oleh seorang pemimpin, guru, orang tua, atau seorang anak.

Di sini pula relasi kuasa bekerja.

Seorang pemimpin memiliki ruang pengaruh yang lebih luas. Ucapannya dapat diberitakan, dipotong menjadi video pendek, menjadi kutipan di media sosial, kemudian berulang kali dikonsumsi publik. Bagi sebagian orang, terutama generasi muda, bahasa tersebut dapat menjadi salah satu referensi tentang bagaimana seseorang yang memiliki otoritas berbicara.

Bukan berarti setiap ucapan pemimpin akan otomatis ditiru. Masyarakat tetap memiliki kemampuan untuk menilai, mengkritik, dan menolak sebuah gaya komunikasi. Namun, semakin besar pengaruh seorang penutur, semakin besar pula tanggung jawab komunikasinya.

Pemimpin tentu tidak harus selalu menggunakan bahasa yang kaku dan formal. Ketegasan tetap diperlukan. Kritik juga merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis. Bahasa publik bahkan seharusnya dapat dibuat lebih sederhana, dekat, dan mudah dipahami.

Yang penting adalah menjaga agar ketegasan tidak kehilangan kesantunan dan keberanian tidak kehilangan penghormatan.

Sebab pendidikan bahasa tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ia juga berlangsung di ruang publik.

Guru mengajarkan anak bagaimana berbicara dengan baik. Tetapi masyarakat juga memperlihatkan contoh melalui cara para tokohnya berkomunikasi.

Ketika pemimpin bicara, publik memang sedang mendengar. Tetapi generasi berikutnya mungkin sedang belajar.

Karena itu, setiap kata yang keluar dari ruang kekuasaan bukan hanya pesan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi bagian dari budaya komunikasi yang diwariskan kepada generasi berikutnya.