Konten dari Pengguna

Mengapa Lowongan Kerja di Indonesia Jarang Mencantumkan Besaran Gaji?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari N Kurniadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu informasi yang sering hilang dalam lowongan pekerjaan di Indonesia, Yup. besaran gaji!

Sebuah perusahaan dapat menjelaskan posisi yang dibutuhkan, kualifikasi pendidikan, pengalaman kerja, kemampuan yang harus dimiliki, hingga berbagai tanggung jawab yang akan dijalankan. Namun ketika sampai pada informasi mengenai gaji, yang muncul justru kalimat seperti “gaji kompetitif”, “menarik”, “sesuai pengalaman”, atau “akan dibicarakan saat interview”.

Pertanyaannya sederhana. Mengapa angka gaji tidak dicantumkan sejak awal?

Bagi perusahaan, besaran gaji memang merupakan bagian dari strategi bisnis. Ada pertimbangan mengenai anggaran, pengalaman, kompetensi, dan struktur organisasi. Namun bagi pencari kerja, gaji juga merupakan informasi penting untuk menentukan apakah sebuah pekerjaan layak dilamar atau tidak.

Di sinilah persoalan transparansi muncul.

Ilustrasi melamar pekerjaan (sumber: Koleksi Pribadi)

Dalam proses rekrutmen, perusahaan meminta pelamar memberikan banyak informasi. Pendidikan, pengalaman, kemampuan, portofolio, bahkan ekspektasi gaji harus disampaikan. Pelamar diminta terbuka mengenai dirinya, sementara perusahaan sering kali tidak terbuka mengenai kompensasi yang disediakan.

Pelamar akhirnya berada dalam posisi yang kurang memiliki informasi.

Tidak jarang seseorang harus mengirim lamaran, mengikuti tes, menghadiri wawancara, bahkan melewati beberapa tahap seleksi sebelum mengetahui berapa sebenarnya gaji yang ditawarkan. Jika pada akhirnya angka tersebut jauh dari ekspektasi, waktu dan tenaga yang telah dikeluarkan menjadi sia-sia.

Istilah “gaji kompetitif” juga menarik untuk dipertanyakan. Kompetitif menurut siapa? dan kompetitif untuk siapa?

Bagi perusahaan, gaji Rp6 juta mungkin dianggap kompetitif. Bagi seseorang dengan pengalaman lima tahun, angka tersebut mungkin tidak sesuai. Tanpa rentang gaji, pencari kerja tidak memiliki dasar untuk menilai apakah sebuah posisi sesuai dengan kebutuhannya.

Lebih jauh lagi, ketidaktransparanan gaji dapat memengaruhi proses negosiasi.

Ketika perusahaan bertanya, “Berapa ekspektasi gaji Anda?”, pelamar harus memberikan angka berdasarkan informasi yang terbatas. Jika terlalu tinggi, ada risiko dianggap tidak sesuai anggaran. Jika terlalu rendah, ada kemungkinan seseorang mendapatkan kompensasi di bawah nilai yang sebenarnya dapat dinegosiasikan.

Padahal, perusahaan sebenarnya mengetahui berapa anggaran yang telah disiapkan untuk posisi tersebut.

Karena itu, mencantumkan rentang gaji bukan berarti perusahaan harus memberikan nominal yang sama kepada setiap kandidat. Perbedaan pengalaman, kompetensi, tanggung jawab, dan performa tetap dapat menjadi dasar penentuan gaji.

Perusahaan cukup memberikan gambaran, misalnya Rp6–8 juta per bulan, dengan keterangan bahwa angka akhir bergantung pada pengalaman dan hasil negosiasi.

Transparansi seperti ini justru dapat menghemat waktu kedua belah pihak.

Pencari kerja dengan ekspektasi Rp12 juta dapat memilih tidak melamar posisi dengan rentang Rp5–7 juta. Sebaliknya, kandidat yang merasa sesuai dengan rentang tersebut dapat mengikuti proses seleksi dengan ekspektasi yang lebih realistis.

Dengan demikian, perusahaan mendapatkan kandidat yang lebih relevan, sementara pencari kerja tidak perlu mengikuti proses panjang untuk pekerjaan yang sejak awal tidak sesuai.

Gaji memang bukan satu-satunya pertimbangan seseorang dalam memilih pekerjaan. Lingkungan kerja, kesempatan berkembang, jenjang karier, fleksibilitas, dan reputasi perusahaan juga penting.

Namun, mengatakan bahwa gaji bukan satu-satunya pertimbangan bukan berarti gaji tidak penting.

Bagi sebagian besar pekerja, pekerjaan merupakan sumber utama penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu, mengetahui kisaran kompensasi sejak awal merupakan informasi yang wajar.

Sudah waktunya lowongan kerja di Indonesia bergerak menuju proses rekrutmen yang lebih transparan. Tidak harus selalu mencantumkan satu angka pasti, tetapi setidaknya memberikan rentang gaji dan komponen kompensasi secara jelas.

Sebab, jika perusahaan berhak memilih kandidat yang sesuai dengan kebutuhannya, pencari kerja juga berhak mengetahui apa yang sebenarnya ditawarkan.

Pada intinya, transparansi gaji bukan sekadar soal angka.

Ini soal menghargai waktu, informasi, dan posisi tawar pencari kerja.