Konten dari Pengguna

Briket Bonggol Jagung Hasil KKN UNS: Solusi Limbah Jadi Cuan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadhil Hakim Muchlis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN 267 UNS melakukan Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Produksi Arang Dari Bonggol Jagung (Briket) Sebagai Produk Unggulan Desa Kerjo Lor, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Dok. Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa KKN 267 UNS melakukan Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Produksi Arang Dari Bonggol Jagung (Briket) Sebagai Produk Unggulan Desa Kerjo Lor, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Dok. Pribadi.

WONOGIRI - Kelompok KKN 267 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sukses menggelar program pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Wonogiri. Mereka melatih warga lokal untuk memanfaatkan limbah bonggol jagung menjadi briket arang yang bernilai ekonomis.Kegiatan pelatihan ini berlangsung di Dusun Jatimerto, Desa Kerjo Lor, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Program ini diinisiasi karena melihat melimpahnya limbah pertanian berupa bonggol jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh warga setempat. Melalui inovasi briket ini, mahasiswa KKN (UNS) berharap bisa mengurangi limbah sekaligus menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat Desa Kerjo Lor.

Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya bonggol jagung yang belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah yang biasanya dibuang atau dibiarkan menumpuk tersebut memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif.

"Sebelumnya saya tidak tahu mas, kalau limbah bonggol jagung dapat dimanfaatkan menjadi briket, berkat mas KKN saya menjadi tahu bahwa dari briket itu tidak cuma dari batok kelapa saja, tetapi bisa dari bahan bonggol jagung," Ucap Ibu RT 01 Dusun Jatimerto.

Briket merupakan bahan bakar padat yang dibuat dari bahan yang mengandung karbon, kemudian dipadatkan sehingga menghasilkan bentuk yang lebih praktis untuk digunakan. Briket dapat menjadi alternatif bahan bakar karena mudah disimpan, lebih praktis dalam penggunaannya, serta dapat memanfaatkan bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.

Melalui pelatihan ini, diberikan penjelasan mengenai pengertian dan manfaat briket, alat dan bahan yang digunakan, langkah-langkah pembuatan, serta praktik pembuatan briket secara langsung. Alat dan bahan yang digunakan pun sederhana, seperti limbah bonggol jagung, tepung pati kanji, air panas, baskom, penyaring, cetakan briket, dan pengaduk.

Setelah praktik pembuatan briket selesai, warga Dusun Jatimerto terlihat antusias dengan hasil briket yang telah dibuat. Mereka pun merasa senang karena ternyata cara membuat briket sangatlah mudah serta bahan-bahannya juga mudah ditemukan di wilayah desa. Bahkan, sebagian besar warga Jatimerto berkeinginan untuk membuat ulang briket bonggol jagung.

"Mas, apakah boleh bahan sisanya kami bawa pulang untuk praktik di rumah?" tanya salah satu warga Dusun Jatimerto kepada mahasiswa KKN.

Suasana pelatihan terasa menyenangkan, canda tawa dan semangat mengiringi setiap proses pembuatan arang briket. Dari bubuk bonggol jagung perlahan diubah menjadi arang briket yang bernilai bukan sekedar mengurangi limbah tapi juga memiliki nilai ekonomi.

Mahasiswa KKN 267 UNS 2026 berharap dengan adanya pelatihan sederhana ini dapat meningkatkan kreativitas dan kelestarian lingkungan, sehingga meningkatkan ekonomi rumah tangga masyarakat setempat.