Opini & Cerita
·
2 September 2020 5:28

Giring Jadi Calon Presiden Milenial 2024, Sudah Siapkah Pemuda?

Konten ini diproduksi oleh Nana Nurwaesari
Giring Jadi Calon Presiden Milenial 2024, Sudah Siapkah Pemuda? (316944)
searchPerbesar
Sumber: Akun Instagram Giring Ganesha
Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan munculnya baliho “Giring untuk Presiden 2024”, serta pernyataan langsung dari Giring di akun Instagramnya bahwa dia yakin untuk maju melangkah menjadi calon Presiden Republik Indonesia 2024. Sebagai negara Demokrasi, sebenarnya tidak ada yang salah dari niat baik Giring. Setiap individu dalam negara demokrasi memiliki hak asasi manusia untuk dipilih dan memilih.
ADVERTISEMENT
Pencalonan Giring membuktikan bahwa nilai-nilai Demokrasi di negeri ini masih diakui, dan sikap apatis yang kerap dimiliki pemuda terhadap politik ternyata masih dapat diobati. Tekadnya yang kuat untuk menjadi calon Presiden 2024 disambut positif oleh beberapa pihak. Akhirnya, ada juga pemuda yang berani melangkah maju, bercita-cita tinggi, dan berpikir bahwa inilah saatnya pemuda harus memimpin agar suara-suara pemuda lebih diperdengarkan oleh khalayak ramai.
Namun, apakah tekad dan semangat tinggi sudah menjadi modal cukup untuk mencalonkan diri sebagai Presiden sebuah negara yang masyarakatnya lebih dari 200 juta jiwa? Tentu saja tidak.

Kaya, Muda, dan Populer Saja Tidak Cukup

Dalam buku Political Personal Branding karya Silih Agung Wasesa menyatakan bahwa pemilih akan lebih menyukai kandidat yang berusia muda, baik dari segi usia, penampilan, cara berbicara, semangat, ataupun ketahanan fisik. Cara ini bukan hanya diterapkan oleh kandidat muda, namun kandidat yang berusia lanjut seperti Vladimir Putin pun pernah menerapkan trik ini. Putin rela melakukan tarian tango di depan para pemilihnya demi memperlihatkan dirinya masih memiliki fisik yang kuat dan selera muda.
ADVERTISEMENT
Sebelum Giring, Kanye West sudah lebih dulu menyatakan bahwa dirinya siap maju menjadi kandidat di Pemilihan Presiden AS yang akan diselenggarakan November 2020 mendatang. Keduanya sama-sama muda, musisi, dan terkenal. Namun, menjadi muda saja tidak cukup untuk memimpin negara nan luas seperti, Indonesia.
Meskipun Giring menggadang-gadangkan bahwa dirinya membawa suara anak muda dan kepentingan anak muda akan lebih didengar, namun pemuda-pemudi Indonesia memerlukan pemimpin yang bukan sekadar muda, tapi juga berpengalaman. Mungkin akan ada sanggahan, "Berikan saja kesempatan pada anak muda, pengalaman akan digali nanti!".
Kehadiran pemimpin muda memang sangat penting. Akan tetapi, berapa kali kita lihat fenomena pemimpin muda dengan segudang prestasi, mundur dari kepemimpinannya karena tidak kuat menanggung beban tanggung jawab, terlibat konflik kepentingan, dan lain sebagainya.
ADVERTISEMENT
Pada video klarifikasi pencalonan diri yang diunggah di media sosialnya pun, Giring terlihat belum sepenuhnya memandang Indonesia secara keseluruhan. Video tersebut lebih banyak menceritakan tentang bagaimana Jakarta sebagai tempat tinggalnya mengalami banyak kemajuan dibandingkan beberapa tahun lalu. Hal ini semakin menambah spekulasi bahwa Giring belum sepenuhnya paham dan melek dengan ragam permasalahan yang terjadi di Indonesia.
Fenomena pemuda berani maju sebagai calon Presiden seperti ini tidak sepenuhnya buruk, justru malah memberi warna baru dalam Kepemiluan Indonesia. Meskipun demikian, dikhawatirkan akan banyak bermunculan kandidat-kandidat muda lainnya, yang bahkan mungkin tidak paham apa itu politik, diplomasi,UUD, dan lain sebagainya, "latah" maju mencalonkan diri.
Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam bukunya “Bagaimana Demokrasi Mati” (How Democracies Die), juga telah memperingatkan bahwa salah satu ancaman yang dapat mematikan demokrasi adalah membuka peluang bagi para demagog yang awalnya dipilih karena popularitas serta kekayaan yang dimiliki, di mana modal tersebut diyakini dapat menarik banyak suara dan membawa kandidat dalam memenangkan bangku pemerintahan yang diharapkan. Dengan demikian, kaya, muda, dan populer tidak menjadi jaminan bahwa kandidat tersebut bisa menjadi pemimpin yang berhasil.
ADVERTISEMENT

Jalan Terjal Menuju Perbaikan Ekonomi

Dengan modal semangat pemuda yang membara dan rasa optimisme yang tinggi, Giring mendapat dukungan dari Presiden RI, Joko Widodo. Namun, kedua modal tersebut tidak dapat menjanjikan jalan kepemimpinan di depan akan semulus yang diharapkan. Pandemi Covid-19 telah membuat perekonomian Indonesia semakin terpuruk.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi tanah air pada kuartal II 2020 merosot ke angka -5,32 persen. Pada salah satu acara webinar yang membahas tentang masa depan ekonomi Indonesia, Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani meyakinkan bahwa perekonomian Indonesia lambat laun pasti akan kembali ke angka yang normal.
Namun, angka normal yang dimaksud bukan sekonyong-konyong langsung naik ke angka 5 persen seperti semula. Angka normal yang dimaksud adalah naik ke angka 0 dari -5,32 persen. Ini bukan berarti buruk, kita semua pastinya paham untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi kembali ke angka normal bukanlah perkara mudah.
ADVERTISEMENT
Jika pada 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 1 persen, mampukah calon Presiden milenial yang terpilih menaikkan angka ini kembali ke 5 persen, atau setidaknya mempertahankannya di angka normal? Sedangkan, hadirnya Presiden milenial pasti akan membawa pemuda-pemudi lainnya untuk mengisi kursi-kursi kabinet, yang mungkin tidak sepenuhnya dari mereka memahami cara menanggulangi krisis atau menghadapi situasi yang penuh dengan ketidakpastian seperti, pandemi Covid-19.
Sebagai pemuda, bukan berarti semua argumentasi ini meremehkan kapasitas dan semangat anak muda, bukan sama sekali! Percaya diri dan memiliki tekad yang kuat memang baik, namun semua itu harus dibarengi dengan sikap mawas diri. Jalan yang terjal dan panjang tetap harus dilalui para pemuda-pemudi bangsa yang memiliki niat suci untuk membawa perbaikan bagi negeri.
ADVERTISEMENT
Berpengalaman dan layak menjadi pemimpin memang bukan berarti harus berusia tua terlebih dahulu. Akan tetapi, untuk menjadi pemimpin yang berhasil perlu melalui berbagai tempaan yang kuat agar dirinya menjadi lebih bijaksana, cerdas, dan matang dalam menghadapi permasalahan.
Logikanya, bagaimana seseorang dapat menjadi pelaut yang ulung jika dirinya saja belum pernah berlayar sama sekali? Setidaknya, kuota 30 persen untuk pemuda bisa tercapai secara penuh pada 2024. Dengan begitu, para calon pemimpin muda bisa mengambil ilmu dan pengalaman lebih banyak dari para senior dan tidak terjun langsung memimpin negara tanpa bekal yang cukup. Untuk memimpin Indonesia, pemuda bukan hanya perlu memiliki tekad dan semangat yang kuat, namun juga bekal kepemimpinan yang matang.
ADVERTISEMENT