Konten dari Pengguna

Pemanfaatan Ikan Tongkol Menjadi Abon: Solusi Pangan Tahan Lama

Nanda risti rahmatunnisa

Nanda risti rahmatunnisa

Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nanda risti rahmatunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemanfaatan Ikan Tongkol Menjadi Abon: Solusi Pangan Tahan Lama
zoom-in-whitePerbesar

Di Indonesia, khususnya wilayah pesisir, ikan bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga sumber protein yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Salah satu jenis ikan yang paling melimpah adalah ikan tongkol. Harganya terjangkau, gizinya tinggi, tetapi sayangnya mudah rusak jika tidak segera diolah. Kondisi inilah yang menjadi perhatian mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ketika melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon.

Melalui kegiatan penyuluhan dan demonstrasi bertema “Inovasi Pembuatan Abon Ikan Menggunakan Bahan Dasar Ikan Tongkol dalam Upaya Meningkatkan Stok Pangan Keluarga”, tim mahasiswa berupaya memperkenalkan cara pengolahan ikan tongkol menjadi abon agar lebih awet, praktis, dan bernilai tambah.

Ikan Tongkol: Melimpah, Bergizi, Tapi Cepat Rusak

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia memiliki kekayaan laut yang luar biasa. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa produksi ikan tongkol nasional terus meningkat dari tahun 2021 hingga 2023. Tongkol menjadi salah satu ikan yang paling mudah ditemukan dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pesisir.

Namun, tongkol tergolong perishable food karena kadar airnya tinggi, mencapai ±74%. Jika tidak segera dimasak atau diolah, ikan cepat membusuk dan berpotensi terbuang percuma. Di Desa Mekarsari, ikan tongkol biasanya hanya diolah menjadi masakan sederhana seperti goreng atau pindang kuah yang hanya tahan 1–2 hari. Untuk mengatasi masalah daya simpan inilah, dibutuhkan inovasi pengolahan pangan yang lebih tahan lama.

Abon Tongkol: Opsi Pengolahan yang Awet dan Bergizi

Abon merupakan salah satu olahan ikan yang memiliki daya simpan panjang karena prosesnya menurunkan kadar air hingga maksimal 10% sesuai standar SNI 7690:2013. Dengan mengolah tongkol menjadi abon, masyarakat dapat menyimpan stok lauk tanpa takut cepat basi. Selain awet, abon tongkol juga kaya protein, rendah lemak, dan cocok untuk keluarga yang membutuhkan alternatif pangan bergizi dan ekonomis.

Pelaksanaan Kegiatan: Mengajarkan Warga dari Teori Hingga Praktik

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 24 November 2025 di halaman rumah warga Desa Mekarsari. Bentuk kegiatan meliputi penyuluhan, pre-test, demonstrasi pembuatan abon, dan post-test.

1. Pre-Test: Mengukur Pengetahuan Awal Masyarakat

Hasilnya menunjukkan:

1. 80% warga belum pernah membuat abon tongkol sendiri.

2. 100% tahu bahwa tongkol bisa diolah menjadi produk tahan lama.

3. 80% menganggap prosesnya sulit.

4. 100% merasa ketiadaan stok lauk membuat pengeluaran dapur boros.

5. 100% tahu bahwa peralatan sederhana sudah cukup untuk membuat abon.

Data ini menunjukkan bahwa warga mengetahui potensi tongkol, tetapi belum memiliki keterampilan mengolahnya secara tepat.

Penyuluhan: Mengapa Tongkol Layak Diolah Jadi Abon?

Materi penyuluhan menekankan:

1. Melimpahnya potensi tongkol di wilayah pesisir.

2. Kandungan gizi tongkol yang tinggi: protein, vitamin, mineral, dan omega-3.

3. Keunggulan tongkol dibandingkan komoditas lain yang lebih mahal.

4. Peluang usaha dari abon ikan.

Peserta juga diperkenalkan standar SNI untuk abon ikan sehingga mereka memahami aspek mutu dan keamanan pangan.

Demonstrasi Pembuatan Abon Tongkol

Langkah-langkah yang diperagakan kepada warga meliputi:

1. Mengukus tongkol hingga matang.

2. Mencacah daging ikan (di-copper).

3. Meracik bumbu sesuai standar rasa.

4. Menyangrai campuran tongkol dan bumbu hingga menjadi abon kering dan renyah.

5. Menyajikan hasil akhir dan menjelaskan cara penyimpanan yang benar.

Warga terlibat aktif, mulai dari menyiapkan bumbu hingga mengaduk abon. Metode learning by doing ini membuat mereka lebih percaya diri untuk mencoba sendiri di rumah.

Post-Test: Apakah Warga Mengalami Peningkatan Pengetahuan?

Hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan:

1. 100% memahami proses pembuatan abon setelah demontrasi.

2. 100% menganggap prosesnya mudah.

3. 100% yakin alat dapur biasa sudah cukup.

4. 80% siap mencoba membuat abon sendiri.

5. 100% menilai kegiatan sangat bermanfaat dan membuka wawasan baru.

Perubahan ini menunjukkan bahwa keterampilan warga meningkat pesat setelah dibekali praktik langsung.

Manfaat yang Dirasakan Masyarakat

Dari seluruh rangkaian kegiatan, ada beberapa manfaat utama yang dirasakan warga:

1. Tersedianya stok lauk tahan lama : Abon tongkol bisa disimpan berbulan-bulan sehingga mengurangi pengeluaran harian.

2. Mengurangi pemborosan bahan makanan : Tongkol yang tidak segera dimasak tidak lagi berisiko basi karena dapat langsung diolah menjadi abon.

3. Peningkatan keterampilan mengolah pangan local : Warga kini lebih kreatif dan tidak terpaku pada cara masak lama seperti goreng atau pindang.

4. Peluang usaha baru : Abon tongkol memiliki nilai ekonomi dan bisa dijual sebagai produk UMKM lokal.

Karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Desa Mekarsari terbukti berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam mengolah ikan tongkol menjadi abon. Warga yang semula menganggap prosesnya sulit berubah menjadi lebih percaya diri setelah mengikuti demonstrasi langsung. Selain menjadi solusi ketahanan pangan keluarga, abon tongkol juga menawarkan potensi usaha yang menjanjikan. Inovasi sederhana ini menunjukkan bahwa pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal dapat memberikan dampak besar—baik bagi ekonomi rumah tangga maupun keberlanjutan pangan jangka panjang.