Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Rujak: Cerita Saya Jatuh Cinta pada Rujak Cingur

Nanda Udayana

Nanda Udayana

Pendidikan Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nanda Udayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Koleksi pribadi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Koleksi pribadi penulis

Di tengah gempuran makanan kekinian, ada satu hidangan yang tetap bertahan di hati: Rujak Cingur. Bukan sekadar rujak biasa, ini adalah cerita tentang keberanian lidah Jawa Timur meracik rasa yang tak terduga.

Makanan tradisional selanjutnya berasal dari Jawa Timur, yakni rujak cingur. Makanan ini terdiri dari beberapa jenis irisan buah, seperti timun, bengkuang, mangga muda, nanas, dan kedondong. Pelengkapnya adalah lontong, tahu, tempe, bendoyo, cingur, serta sayuran seperti kangkung dan kacang panjang.

Apa Itu Cingur?

Banyak yang salah sangka. Cingur dalam bahasa Jawa berarti moncong atau hidung sapi. Bagian inilah yang direbus lama hingga empuk, lalu diiris tipis. Teksturnya kenyal, gurih, dan menjadi bintang utama yang membedakan rujak ini dengan rujak buah lainnya.

Rujak Cingur adalah salah satu makanan khas Jawa Timur yang memiliki cita rasa unik dan menggugah selera. Hidangan ini terdiri dari campuran sayuran segar seperti ketimun, kacang panjang, dan tauge, serta irisan cingur sapi yang sudah direbus, lalu disiram dengan sambal kacang yang khas.

Sambalnya bukan sambal kacang biasa. Bumbunya adalah perpaduan petis udang hitam khas Sidoarjo, kacang tanah goreng, pisang klutuk muda, gula merah, cabai, dan terasi. Semua diulek di atas cobek besar. Hasilnya adalah saus kental berwarna hitam pekat dengan rasa yang kompleks: manis, pedas, asam, dan gurih jadi satu.

Rasanya yang kaya inilah yang membuat rujak cingur sangat khas. Sekali suap, kita akan merasakan segarnya buah, gurihnya tempe dan tahu, kenyalnya cingur, dan ledakan bumbu petis yang nendang. Hidangan ini sering disajikan dengan lontong atau nasi sebagai pelengkap agar lebih mengenyangkan.

Dulu, rujak cingur hanya dijajakan ibu-ibu di pasar tradisional dengan bakul besar. Kini, anak muda Surabaya dan Malang mulai mengemasnya kembali. Ada yang menyajikannya dalam bowl estetik, ada yang membuat versi vegan tanpa cingur, ada yang menjual sambal petisnya secara botolan untuk oleh-oleh.

Inilah bukti bahwa makanan tradisional tidak harus kuno. Ketika cerita di baliknya dikemas dengan jujur, lidah modern pun mau menerima.

Rujak Cingur bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari warisan budaya masyarakat Jawa Timur. Keunikan rasa dan bahan-bahannya mencerminkan kekayaan kuliner tradisional yang mengedepankan keberagaman bahan lokal.

Setiap piring rujak cingur adalah pengingat bahwa Indonesia kaya. Dari satu cobek, kita belajar tentang keberanian, kreativitas, dan cara orang Jawa Timur menghargai setiap bagian dari alam.

Makanan ini tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyajikan pengalaman kuliner yang penuh dengan cerita dan sejarah di balik setiap rasanya. Itulah kenapa, dari meja tradisional, ia tetap relevan untuk lidah modern.