Konten dari Pengguna

Jualan Cerita, Bukan Jualan Produk: Kenapa Storytelling Jadi Mata Uang Baru UMKM

Nanda Udayana

Nanda Udayana

Pendidikan Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nanda Udayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Nanda Udayana

Dulu kita jualan dengan cara teriak paling kencang. Siapa yang punya uang untuk pasang iklan di TV, dialah yang menang. Sekarang aturannya berubah total. Di era TikTok dan Instagram, yang menang bukan yang modalnya besar, tapi yang ceritanya paling jujur.

Inilah yang disebut era communipreneur. Kita tidak lagi sekadar menjual produk, kita menjual cerita.

Pribadi penulis

Begitu juga dengan MS Glow. Maharani Kemala tidak pernah beriklan seperti L'Oreal yang memakai artis Hollywood. Ia berjualan dengan cara live Instagram sambil dasteran, menceritakan jerawatnya sendiri, dan mengajak pelanggannya berjuang bersama untuk kulit glowing. Cerita itu jauh lebih kuat dari iklan seharga miliaran rupiah. Kepercayaan tidak bisa dibeli, kepercayaan harus diceritakan.

Lalu kenapa storytelling menjadi begitu penting, terutama untuk Gen Z dan Milenial?

Karena generasi ini adalah generasi yang paling skeptis terhadap iklan. Mereka tidak percaya lagi dengan kata "terbaik" atau "nomor satu". Sebelum membeli, mereka akan cek TikTok dulu, mencari review jujur, dan bertanya: "Apakah brand ini jujur? Apakah brand ini peduli lingkungan?".

Di sinilah 3 tren besar bertemu: Sustainability, Hyper-personalization, dan AI. Gen Z rela membayar lebih mahal jika mereka tahu kemasan produk tersebut bisa di-refill dan tidak merusak bumi. Mereka ingin disapa dengan nama, bukan dipanggil "kak". Dan mereka ingin dilayani 24 jam oleh chatbot yang mengerti kebutuhan mereka. Tapi semua teknologi itu hanyalah alat. Jangkarnya tetap satu: cerita yang autentik.

Lalu bagaimana cara membuat Value Proposition yang bercerita? Rumusnya sederhana: Problem + Solusi Unik + Bukti Nyata.

Jangan bilang "jual hijab premium". Bilang saja: "Untuk mahasiswi yang gerah pakai hijab saat naik motor (Problem), kami buat Hijab Anti Badai yang adem dan tidak terbang kena angin (Solusi Unik), terbukti sudah dipakai 10.000 driver ojek online wanita (Bukti Nyata)." Lihat bedanya? Yang kedua langsung punya cerita.

Pelajaran untuk kita sebagai communipreneur muda ada tiga.

Pertama, jangan jual produk, jual solusi. Orang tidak butuh kopi, mereka butuh teman begadang yang murah dan cepat. Orang tidak butuh skincare, mereka butuh rasa percaya diri untuk tampil di depan kamera.

Kedua, bukti lebih kuat dari janji. Daripada bilang "kualitas terbaik", lebih baik tunjukkan testimoni before-after pelanggan, tunjukkan jumlah outlet, atau tunjukkan rating 4.9 di aplikasi.

Ketiga, buat cerita yang bisa diceritakan ulang dalam 15 detik video TikTok. Jika value proposition kamu tidak bisa dijelaskan dalam satu video pendek, berarti ceritanya terlalu rumit.

Pada akhirnya, di dunia yang penuh dengan produk yang mirip, cerita adalah satu-satunya pembeda yang tidak bisa ditiru oleh kompetitor. Mesin bisa meniru produk, AI bisa meniru desain, tapi tidak ada yang bisa meniru perjalanan jujur kamu membangun usaha dari nol.

Jadi, berhentilah memikirkan cara membuat iklan yang paling keren. Mulailah memikirkan cerita apa yang paling jujur yang bisa kamu bagikan hari ini.