Konten dari Pengguna

Jas Hujan atau Payung untuk Mendaki? Ini Pilihan Terbaik Saat Naik Gunung

Nandi

Nandi

Lulusan Magister Ilmu Hukum UNISBA. Berprofesi sebagai penulis, vlogger, dan pendaki gunung. Menuangkan refleksi filosofis alam ke dalam gagasan hukum tata negara untuk mengedukasi masyarakat.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Puncak Pemancar Gunung Merbabu (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Nandi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Puncak Pemancar Gunung Merbabu (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Nandi)

Hujan di gunung bukan sekadar air yang menetes dari langit. Ia sering kali datang secara tiba-tiba, beriringan dengan hembusan angin kencang dan suhu udara yang merosot tajam. Bagi pendaki pemula, persiapan menghadapi cuaca basah ini sering kali memunculkan dilema tersendiri.

Pertanyaan yang paling sering muncul saat menyusun barang bawaan adalah alat pelindung apa yang paling tepat untuk dibawa. Apakah jas hujan setelan, jas hujan ponco, atau cukup membawa payung lipat dari rumah agar lebih praktis? Alam bebas memiliki aturannya sendiri, dan membawa kebiasaan kota ke atas gunung bisa berakibat fatal. Mari kita bedah fungsi dan risiko dari ketiga alat tersebut agar kamu tidak salah melangkah di alam liar.

Jas Hujan Setelan: Keamanan dan Kebebasan Bergerak

Jas hujan yang terdiri dari jaket dan celana adalah pilihan paling rasional dan aman untuk pendakian. Alat ini menutup tubuh dengan rapat dari bagian leher hingga ke mata kaki. Keuntungan terbesarnya adalah memberikan kebebasan penuh pada pergerakan fisikmu.

Kedua tanganmu terbebas sepenuhnya untuk memegang tongkat daki atau merayap berpegangan pada akar pohon di jalur yang curam. Selain menahan air hujan, jas hujan setelan juga menempel pas di badan sehingga berfungsi ganda sebagai tameng penahan angin kencang. Ini adalah faktor kunci untuk mencegah tubuh kehilangan panas dan terhindar dari hipotermia.

Jas Hujan Ponco: Sirkulasi Udara dan Multifungsi

Ponco memiliki potongan yang longgar dan melebar seperti jubah. Keunggulan utamanya adalah ruang yang cukup besar untuk menutupi tubuh sekaligus tas ransel di punggungmu. Karena bentuknya yang terbuka di bagian bawah, sirkulasi udara menjadi lebih baik sehingga tubuh tidak terlalu kegerahan dan berkeringat di bagian dalam.

Namun, kamu harus ekstra waspada saat memakai ponco. Ujung-ujungnya yang menjuntai rawan tersangkut ranting pohon di jalur yang sempit. Saat angin bertiup kencang, ponco akan berkibar dan sering kali menghalangi pandangan matamu ke arah pijakan kaki. Alat ini butuh pembiasaan agar tidak mengganggu keseimbangan langkahmu.

Payung Lipat: Nyaman Namun Menyimpan Risiko Fatal

Membawa payung ke gunung belakangan ini menjadi tren di kalangan pejalan bergaya santai (tektok). Payung memang sangat nyaman digunakan saat jalur pendakian melintasi sabana terbuka yang panas terik atau saat gerimis ringan turun di rute yang landai. Kamu tidak akan merasa pengap sama sekali.

Namun, payung memiliki kelemahan mendasar. Menggunakan payung berarti satu tanganmu akan tersandera. Kamu akan kehilangan keseimbangan dan kelincahan saat harus mendaki tanjakan terjal yang licin. Menggunakan payung di tengah badai angin gunung adalah tindakan sia-sia yang justru akan merusak payung itu sendiri. Belum lagi risiko tersambar petir di area terbuka jika payung lipatmu memiliki material rangka dari besi penyalur arus listrik.

Keputusan memilih alat pelindung hujan adalah tentang menilai medan dan menyusun prioritas keselamatan. Jas hujan setelan atau ponco adalah perlengkapan wajib yang posisinya tidak bisa ditawar di dalam ranselmu. Payung hanyalah alat pelengkap tambahan untuk mencari kenyamanan di kondisi cuaca atau lintasan tertentu, bukan alat utama untuk bertahan hidup. Sesuaikan perlengkapanmu dengan karakter alam, bebaskan tanganmu untuk menjaga keseimbangan, dan pastikan kamu selalu siap menghadapi cuaca terburuk dengan persiapan terbaik.