Langit Biru Mandala Nusantara: Refleksi Pancasila dari Kerinci dan Agung
Tulisan dari Nandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menyusuri akar-akar basah di rimba raksasa Gunung Kerinci mengajarkan saya satu hal: untuk tumbuh menjulang menembus atap Sumatra, sebuah pohon harus mengikatkan akarnya sekuat mungkin pada cadas Ibu Pertiwi. Sebaliknya, ketika berdiri di punggungan batu purba Gunung Agung yang disucikan, sejauh mata memandang buana terbentang, batas horizon menyadarkan betapa kerdilnya kita di marcapada ini.
Dua lanskap itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Ekspedisi Langit Biru Mandala Nusantara. Bagi saya, pendakian tidak pernah menjadi ajang penaklukan alam. Gunung terlalu agung untuk ditundukkan oleh ego manusia. Setiap langkah ke puncak adalah proses tapa perjalanan mengikis kesombongan dan mendengarkan bisikan alam.
Saat melangkah di ketinggian, di antara helaan napas yang berat dan hawa dingin yang menusuk, ingatan saya tertuju pada sebuah momen kebangsaan yang sakral: Hari Kesaktian Pancasila. Ada benang merah yang sangat erat antara navigasi di alam liar dengan cara bangsa ini bertahan di tengah gelombang zaman.
Nusantara bukan sekadar gugusan pulau yang indah. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan Indonesia berdiri di atas Ring of Fire dengan 127 gunung api aktif. Secara geologi maupun geopolitik, tanah air kita terus bergolak. Ratusan etnis, bahasa, dan latar belakang hidup di atas lempeng yang rawan retak jika tidak ada ikatan yang melekat kuat.
Lantas, apa yang menahan negeri ini dari kehancuran?
Jawabannya adalah prana kebangsaan bernama Pancasila. Pancasila bukan sekadar susunan frasa di buku teks sekolah, melainkan nilai hidup yang secara organik tumbuh dari kearifan lokal. Sejarah mencatat badai ideologi pernah berembus kencang mencoba merobohkan fondasi Republik. Namun, layaknya pohon cantigi di batas vegetasi puncak Kerinci yang diterpa angin tanpa henti, nilai Pancasila membuat akar kita tak tercabut dari tanah kelahiran.
Di gunung, saat badai melintas, keselamatan tim tidak ditentukan oleh mahalnya peralatan, melainkan oleh tenggang rasa, gotong royong, dan rasa percaya. Spirit kebhinekaan diuji secara nyata saat kita berbagi air di shelter terakhir atau saling menjaga irama langkah agar tidak ada kawan yang tertinggal di kegelapan.
Merawat alam dan merawat kebangsaan adalah dua dharma yang sejajar. Melalui Ekspedisi Langit Biru Mandala Nusantara, langit biru di puncak-puncak tertinggi hanya akan tetap berseri jika kita menjaga keheningan jalurnya dan kedamaian masyarakat di kakinya.
Memperingati Hari Kesaktian Pancasila berarti menyalakan kembali agni persatuan di dalam dada. Mari menjadikan gunung sebagai guru kerendahan hati, dan Pancasila sebagai kompas navigasi hidup berbangsa.

