Konten dari Pengguna

Implementasi Prinsip Non Blok oleh NKRI dalam Krisis Global

Nandita Gardenia Putri Aditiya

Nandita Gardenia Putri Aditiya

Mahasiswa S1 Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta. Memiliki hobi membaca buku, menulis dan menonton film

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nandita Gardenia Putri Aditiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Konflik Dunia | sumber : freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Konflik Dunia | sumber : freepik.com

Ketika dunia terpecah akibat krisis geopolitik dan pertarungan kepentingan antara kekuatan besar, Indonesia tetap teguh berdiri dengan jati dirinya sebagai negara yang merdeka dalam bersikap dan aktif dalam bertindak. Bukan tanpa dasar, posisi ini lahir dari fondasi kokoh yang telah dianut sejak masa awal kemerdekaan, yaitu politik luar negeri bebas aktif. Dalam situasi global yang makin kompleks, terutama saat pecahnya perang antara Rusia dan Ukraina yang mengundang reaksi luas dari negara-negara anggota NATO dan memicu ketegangan global, prinsip non blok yang dijalankan Indonesia kembali diuji relevansinya.

Namun yang menarik, alih-alih tenggelam dalam tarik-menarik kepentingan Barat dan Timur, Indonesia memilih jalur diplomasi. Prinsip non blok tidak dijalankan sebagai sikap pasif, melainkan sebagai strategi aktif untuk menjaga stabilitas global sekaligus melindungi kepentingan nasional. Artikel ini akan mengulas bagaimana Indonesia sebagai negara non blok mengimplementasikan prinsip bebas aktif di tengah krisis global, lengkap dengan data, pendekatan diplomatik, dan pertimbangan strategis di balik langkah-langkah tersebut.

Memahami Prinsip Bebas Aktif

Prinsip politik luar negeri bebas aktif merupakan dasar kebijakan luar negeri Indonesia yang ditegaskan dalam pidato Presiden Soekarno pada Sidang Umum PBB tahun 1960. Secara umum, prinsip bebas berarti Indonesia tidak memihak pada kekuatan atau blok kekuasaan manapun, sedangkan aktif berarti Indonesia tetap berpartisipasi secara aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan menyuarakan keadilan internasional.

Menurut buku Politik Luar Negeri Indonesia oleh Mochtar Mas’oed, politik luar negeri bebas aktif bukan berarti Indonesia menarik diri dari urusan internasional, melainkan tetap terlibat secara konstruktif, terutama dalam isu-isu yang menyangkut kemanusiaan, perdamaian, dan ketertiban dunia. Sikap ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam Gerakan Non Blok (GNB), sebuah forum negara-negara yang menolak untuk terlibat dalam konflik antara blok Barat dan blok Timur selama era Perang Dingin, dan tetap relevan hingga hari ini.

Dengan prinsip inilah Indonesia membentuk arah kebijakannya saat menghadapi konflik internasional, termasuk perang Rusia dan Ukraina.

Konflik Rusia dan Ukraina serta Dampaknya bagi Dunia

Konflik antara Rusia dan Ukraina sejatinya sudah membara sejak 2014 ketika Presiden Ukraina Viktor Yanukovych membatalkan perjanjian asosiasi dengan Uni Eropa dan memilih mempererat hubungan dengan Rusia. Tindakan tersebut memicu demonstrasi besar-besaran yang dikenal sebagai Euromaidan dan berakhir dengan penggulingan Yanukovych. Rusia kemudian mencaplok wilayah Krimea dan mendukung separatisme di wilayah timur Ukraina, yang memicu eskalasi bersenjata.

Puncaknya terjadi pada Februari 2022 ketika Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina. Invasi ini tidak hanya menjadi tragedi kemanusiaan tetapi juga menyebabkan dampak global yang serius. Salah satu yang paling nyata adalah gangguan rantai pasokan pangan dan energi dunia. Ukraina dan Rusia dikenal sebagai dua eksportir gandum terbesar di dunia. Ketika perang berkecamuk, pasokan terganggu, harga gandum melonjak, dan negara-negara berkembang seperti Indonesia ikut merasakan dampaknya.

Di sisi lain, sekitar 40 persen pasokan gas alam Eropa berasal dari Rusia. Ketika Eropa memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Rusia, Rusia membalas dengan mengurangi pasokan energi. Akibatnya, harga energi di Eropa melonjak drastis. Menurut laporan International Monetary Fund (IMF) pada tahun 2023, inflasi energi yang dipicu oleh perang menyumbang lebih dari 60 persen tekanan inflasi di kawasan Eropa Timur dan berdampak pada perdagangan global secara umum.

Posisi NKRI dalam Menyikapi Konflik Global

Di tengah pusaran krisis tersebut, Indonesia mengambil sikap yang tidak berpihak pada blok mana pun. Hal ini selaras dengan prinsip dasar politik luar negeri Indonesia, yaitu bebas aktif. Bebas berarti Indonesia tidak terikat pada blok kekuatan dunia tertentu, sedangkan aktif berarti Indonesia tidak diam atau pasif dalam menghadapi isu global.

Penerapan prinsip ini terlihat nyata saat Indonesia menjabat sebagai presidensi G20 pada tahun 2022. Meski mendapat tekanan dari berbagai negara untuk mengecualikan Rusia dari pertemuan G20, Indonesia tetap mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin, dan sekaligus memberikan ruang bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menyampaikan pandangannya dalam forum tersebut. Sikap ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya netral, tetapi juga berusaha menjadi jembatan dialog antara dua pihak yang berkonflik.

Lebih lanjut, dalam Sidang Umum PBB yang mengajukan resolusi untuk mengeluarkan Rusia dari keanggotaan Dewan Keamanan PBB, Indonesia memilih abstain. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena Indonesia lebih mengedepankan prinsip dialog dan penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara. Posisi ini menunjukkan upaya Indonesia untuk menjaga jarak yang seimbang atau equidistance antara kekuatan global, termasuk Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok.

Diplomasi dan Bantuan Kemanusiaan

Langkah Indonesia tidak berhenti pada forum internasional. Pemerintah juga menunjukkan kepedulian nyata terhadap korban konflik melalui jalur kemanusiaan. Dua perusahaan farmasi Indonesia, Sanbe Farma dan Novell Pharmaceutical Laboratories, menyumbangkan obat-obatan ke rumah sakit militer Ukraina senilai 500 ribu hryvnia. Selain itu, Pemerintah Indonesia melalui Indonesian AID menyalurkan lebih dari 11 ribu paket bantuan kemanusiaan ke wilayah Kyiv, Sumy, dan Chernihiv melalui Palang Merah Ukraina (Ukrainian Red Cross Society).

Bantuan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya aktif di meja diplomasi, tetapi juga hadir langsung untuk membantu masyarakat yang terdampak perang. Semua ini dilakukan tanpa melibatkan aliansi militer atau menyatakan keberpihakan, tetapi sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan dan implementasi nyata dari prinsip bebas aktif.

Alasan Strategis di Balik Sikap Non Blok

Sikap Indonesia bukan tanpa perhitungan. Dalam konteks ekonomi nasional, menjaga hubungan baik dengan Rusia dan Ukraina sangat penting, terutama terkait ketahanan pangan dan kestabilan harga. Ukraina termasuk dalam sepuluh besar eksportir gandum dunia, yang menjadi komoditas penting bagi pasokan pangan Indonesia. Dengan tetap menjaga hubungan diplomatik yang baik dengan kedua belah pihak, Indonesia berusaha melindungi stabilitas ekonomi dalam negeri dari lonjakan harga pangan global.

Lebih jauh, sikap non blok memungkinkan Indonesia memainkan peran strategis sebagai middle power di kawasan Asia Tenggara. Dalam jurnal The Indonesian Quarterly, disebutkan bahwa Indonesia memiliki karakteristik sebagai kekuatan penyeimbang regional yang disegani, karena mampu menjalin komunikasi yang konstruktif dengan berbagai kekuatan dunia tanpa terjebak dalam loyalitas politik atau militer tertentu.

Penutup

Di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja, Indonesia hadir sebagai suara tenang yang mengajak pada jalan damai. Melalui prinsip non blok yang dijalankan dengan semangat bebas aktif, NKRI menunjukkan bahwa menjadi netral bukan berarti pasif. Justru, dari sikap inilah Indonesia mampu membuka ruang dialog, menjaga stabilitas kawasan, dan tetap melindungi kepentingan nasional.

Krisis global seperti perang Rusia dan Ukraina mengingatkan kita bahwa dunia membutuhkan lebih banyak negara seperti Indonesia. Negara yang tidak hanya berkomitmen pada perdamaian, tetapi juga konsisten menjaga keseimbangan dalam bertindak. Dalam dunia yang cenderung terpolarisasi, kehadiran Indonesia sebagai penyeimbang bukan hanya relevan, tetapi juga sangat diperlukan.