Konten dari Pengguna

Dukung Ketahanan Gizi, PMM UNEJ Latih Kader Posyandu Olah Pangan Lokal Jadi PMT

Mahasiswa PMM Universitas Jember bersama kader Posyandu Desa Battal dalam praktik pengolahan PMT pangan lokal.Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa PMM Universitas Jember bersama kader Posyandu Desa Battal dalam praktik pengolahan PMT pangan lokal.Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026

Situbondo — Sebanyak 15 kader dari lima Posyandu di Desa Battal, Kecamatan Panji, Situbondo, mengikuti edukasi dan praktik pengolahan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal. Kegiatan yang digelar oleh mahasiswa PMM Universitas Jember pada Minggu (9/8/2026) tersebut mengajak para kader mengenal potensi pangan di sekitar sekaligus mengolahnya menjadi menu PMT bagi balita.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program AgroTech Innovation melalui skema Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) dan berlangsung di Balai Desa Battal. Pelaksanaannya didampingi oleh dosen pembimbing lapangan Ns. Rizkiyani Istifada, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Kom., dan Ns. Fahruddin Kurdi, S.Kep., M.Kep.

Sebelum praktik dimulai, kader terlebih dahulu mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan pangan lokal dan pengolahan makanan bergizi. Materi tidak hanya membahas bahan pangan yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga cara mengolah makanan agar sesuai dengan kebutuhan balita.

Untuk mendukung penyampaian materi, mahasiswa menggunakan modul “Kader Hebat, Balita Sehat”. Pembahasan mencakup potensi pangan lokal, keunggulan pangan bergizi, prinsip pengolahan makanan balita, contoh menu gizi seimbang, hingga kesalahan yang perlu dihindari dalam pengolahan PMT.

Edukasi pemanfaatan pangan lokal dan pengolahan PMT bersama kader Posyandu Desa Battal.Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026

Usai memperoleh pembekalan, kader mulai menerapkan materi melalui praktik pengolahan PMT. Ikan nila dan daun kelor yang sebelumnya diperkenalkan sebagai bahan pangan lokal kemudian diolah menjadi dua menu, yakni nugget nila-kelor dan puding kelor.

Mahasiswa turut mendampingi jalannya praktik agar setiap tahapan dapat diikuti oleh peserta. Kader diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses pengolahan, mulai dari menyiapkan bahan hingga menyelesaikan menu yang dibuat.

Praktik pembuatan nugget nila-kelor bersama kader Posyandu Desa Battal.Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026

Penggunaan kedua bahan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan bahwa pangan yang tersedia di sekitar dapat dikembangkan menjadi olahan PMT yang lebih beragam.

Praktik pengolahan daun kelor menjadi puding sebagai menu PMT.Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026

Suasana praktik semakin ramai ketika masing-masing kelompok mulai menyelesaikan olahannya. Kader saling berdiskusi, bekerja sama, dan memberikan semangat kepada anggota kelompok selama proses berlangsung. Tantangan membuat olahan dengan rasa terbaik turut menambah keseruan kegiatan.

“Ternyata daun kelor dan ikan nila bisa diolah jadi nugget dan puding, bukan cuma sayur bening seperti biasanya. Prosesnya sederhana dan rasanya enak,” kata Rike, salah satu kader Posyandu Desa Battal.

Setelah kedua menu selesai dibuat, hasil olahan kemudian dicicipi bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan penilaian dan pengumuman kelompok yang menghasilkan olahan terbaik dalam praktik tersebut.

Bagi kader, praktik secara langsung memberikan pengalaman dan keterampilan yang dapat diterapkan kembali dalam kegiatan Posyandu. Pengetahuan mengenai PMT yang diperoleh selama kegiatan juga diharapkan dapat membantu kader mengembangkan pilihan menu berbahan pangan lokal bagi balita.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama mahasiswa PMM, dosen pembimbing lapangan, dan para kader Posyandu Desa Battal.

Mahasiswa PMM, dosen pembimbing, dan kader Posyandu Desa Battal bersama setelah kegiatan.Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026