Konten dari Pengguna

Keinginan ≠ Kebutuhan

Nantaya Aulia Fitri

Nantaya Aulia Fitri

Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nantaya Aulia Fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menyadari bahwa diri ini hanya manusia biasa tetapi memiliki sejuta keinginan.

Wants (keinginan) tidak sama dengan Needs (kebutuhan)

Terkadang, tidak mudah untuk menetapkan mana kebutuhan dan mana keinginan. Tumpang tindih di antara keduanya dapat berujung pada pengambilan keputusan yang salah.

Keinginan bersumber dari emosi atau psikologis seseorang yang sebenarnya tidak harus dipenuhi dan tidak terlalu berdampak apabila tidak terpenuhi. Sedangkan kebutuhan adalah fungsi rasional seseorang, bersifat mendesak, dan harus dipenuhi.

Bagaimana Mengetahui Kita Butuh atau Kita Ingin?

Analisis lebih apa yang sebenarnya kita butuhkan? Kebutuhan adalah hal mendesak yang harus segera kita penuhi. Contoh mudahnya seperti kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Namun, tidak sesederhana itu. Saya akan membahas melalui kacamata seorang mahasiswa.

Image by freepik

Berkuliah di Manajemen FEB UGM memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Baik dari segi softskill maupun hardskill. Fakultas ini memberikan banyak sekali fasilitas kepada mahasiswa. Contohnya seperti wadah untuk berorganisasi, event, volunteer, student exchange, dan lain sebagainya. Ada juga kegiatan seperti BEM dan UKM.

Bagaimana cara untuk menentukan apa yang sebenarnya kita butuhkan diperkuliahan ini? The important thing (but sometimes miss) yaitu ketahui dan kenali diri sendiri terlebih dahulu. Mengenali diri sendiri adalah hal yang penting.

Mengacu pada pertanyaan (my mom asked me about this). "Apa masalah terbesar seseorang? Apakah nilai yang jelek di kampus? Memiliki utang yang banyak? Tidak bisa public speaking?"

Tidak. Sejatinya bukan itu semua.

Lalu?

Masalah terbesar seseorang yaitu ia tidak menyadari masalah yang ada pada dirinya. Hal ini berarti ia tidak mengenal dirinya sendiri dengan baik. Apabila ia tidak mengetahui masalah yang ada pada dirinya, bagaimana ia dapat memperbaiki atau menyelesaikan masalahnya?

Image by freepik

Selanjutnya, kita bisa dibidang apa? Minat dibidang apa? What benefits can you get? dan pertimbangan yang saya lakukan yaitu: What will and can you give for others, for your family, for your friends, for your uni, and so on.

I believe that: When you give someone a good things, in fact, they give you a chance to do a good things and get many more than you gave them.

  • Belajar mengendalikan keinginan

    Keinginan tidak ada habisnya. Setiap manusia memiliki keinginannya masing-masing, mulai dari hal sepele sampai sesuatu yang sangat besar. Keinginan sederhana, misalnya saat ini kita sangat menginginkan makan es krim. Padahal, uang yang ada harus digunakan untuk membeli alat tulis karena besok akan ada ujian tertulis. Keinginan itu tentu akan mempengaruhi dirinya secara pribadi tetapi tidak terlalu berefek kepada orang lain. Sedangkan keinginan besar dapat memberikan efek kepada orang lain. Seperti ingin memperoleh uang yang banyak, merasa tidak pernah cukup dengan rezeki yang ada, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Contohnya korupsi oleh pemangku kebijakan. Hal ini merugikan masyarakat dan negara.

“Banyak belum tentu cukup, sedikit belum tentu kurang”

Image by freepik

Kasus yang lebih dalam lagi pada dunia perkuliahan. Saya merasa bimbang ingin mengikuti pawai takbiran yang akan dilaksanakan di kampung saya atau aktif berorganisasi di kampus. sungguh dilema yang dialami kali ini benar-benar mengajarkanku bahwa tidak semua hal harus kita dapatkan.

Pertimbangan demi pertimbangan saya ambil, saya analisis, dan saya cari jalan terbaiknya.

Sekali lagi,

tidak semua hal harus kita dapatkan.

  • Bersyukur dengan apa yang kita punya

    Salah seorang teman saya pernah berkata “wah, kamu hebat sekali ya, bisa ini, bisa itu, punya ini, punya itu” bahkan terucap kata “sempurna” darinya.

    Eh? Apa katanya? Sempurna? Mana mungkin, pftt. Itu hanya yang terlihat saja dikehidupan nyata dan dunia maya di luar sana. Di dalamnya? Entahlah. Mungkin saja seseorang memiliki masalah pada dirinya, memiliki kegelisahan, tidak bisa melakukan sesuatu, tidak bisa memiliki sesuatu karena keterbatasan yang dimilki, atau alasan yang tidak kita ketahui. Namun,

tidak semua hal harus dikatakan, tidak semua hal harus diketahui. Terkadang, lebih baik tidak tahu untuk suatu hal yang memang tidak perlu kita ketahui.

Lantas, kalau mengetahui apa masalahku dibalik kata sempurnamu, apakah akan mempengaruhi hidupmu? Apakah ada yang berubah? Tidakkah itu hanya rasa penasaran saja yang tidak berujung pada solusi atau menumbuhkan sedikit saja kepedulian?

Kuncinya adalah,

bersyukur. Bersyukur terhadap apa yang kita punya, apa yang kita jalani, apa yang telah Tuhan berikan. Tidak perlu bertanya-tanya, bahkan menyesali hal yang sudah diberikan oleh-Nya.

Image by freepik

Rasa syukur akan mencukupkanmu pada segala hal.

Bagaimana mengetahui apakah rasa syukur sudah ada pada diri kita? indikatornya, (Saya mempelajari dari Ustadz Oemar Mita, bahwa: Kita akan dicukupkan kebutuhannya, disederhanakan keinginannya), dan semua itu akan membuat kita semakin bersyukur.