Konten dari Pengguna

Welas Asih untuk Dunia yang Luka, Sebuah Ulasan Film “Wisdom of Happiness”

Iqa Kinanti Nandakasih

Iqa Kinanti Nandakasih

Junior Writer

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iqa Kinanti Nandakasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalai Lama XIV, film "Wisdom of Happiness"
zoom-in-whitePerbesar
Dalai Lama XIV, film "Wisdom of Happiness"

Ada sebuah potret peradaban tak tertandingi menjulang tinggi. Lampu-lampu gedung pencakar langit, berbagai penemuan sains dan teknologi melaju pesat, dan hidup kian kemilau. Kita hidup di puncak kemegahan. Semuanya menyatu dalam sebuah etalase yang kini disebut sebagai kemajuan. Di saat yang sama, ingar-bingar itu membuat manusia semakin terperosok dalam kekacauan.

Sebuah kursi ditarik, dengan jubah merahnya, seorang guru yang amat dihormati karena welas asihnya muncul di layar. Ingatan masih berkelindan bagaimana sang guru kala itu, Dalai Lama ke-14, seakan duduk di hadapan penonton secara langsung.

“Wisdom of Happiness”, sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Barbara Miller dan Philip Delaquis, tayang pertama kali tahun 2024. Film itu mengisahkan perjalanan spiritual, perjuangan, dan pesan-pesan kedamaian dari Dalai Lama ke-14—seorang pemimpin spiritual Tibet yang juga pernah mengemban tugas sebagai pemimpin negara. Dalam rangka memperingati ulang tahun Dalai Lama yang ke-91, “Wisdom of Happiness” kembali ditayangkan pada bulan Juni 2026 lalu.

Tema besar yang diangkat adalah ketentraman batin. Alih-alih dibawa melambung jauh untuk kehidupan mendatang sebagaimana yang terdapat dalam ajaran Buddhisme, Dalai Lama justru menarik topik itu ke kehidupan saat ini. Terdapat berbagai isu penting yang saling terhubung diangkat dalam film itu, di antaranya perjuangan Tibet meraih kemerdekaan, pendidikan, krisis alam, hingga peran penting perempuan untuk mewujudkan perdamaian dunia. Ketika mata teduhnya yang menyimpan banyak perjalanan itu disorot, film dimulai.

Dalai Lama dan Perjuangan Tibet

Film dibuka dengan sekilas kisah masa kecil Dalai Lama. Dari tingkah usilnya yang sering membuat ayahnya kesal karena ia senang menarik kumisnya, ibunya yang penuh belas kasih dan lembut, hingga masa belajarnya di biara yang penuh suka-duka.

Saat itu, ia harus pisah dari orang tuanya dan dibesarkan di Lhasa, ibukota Tibet, dengan tata cara kehidupan biara yang keras. Sama seperti anak-anak lainnya, Dalai Lama selalu mencari ibunya ketika ia dimarahi oleh guru. Ia pun merasakan kesedihan yang dialami seorang anak kecil begitu ia tahu harus dipisahkan dari keluarganya.

Baru saja kenangan itu diceritakan, kondisi memilukan ditampilkan. Kelaparan, kerja paksa, pembantaian, penjajahan—adalah kondisi Tibet sampai hari ini yang mewakili apa yang terjadi di dunia.

China melancarkan invasi pertamanya di Tibet tahun 1948 dengan maksud menguasai seluruh Tibet yang masih mereka anggap bagian dari China. Mereka ingin mengubah paham negara itu menjadi komunisme.

Jika merujuk pada Perjanjian Tujuh Belas Pasal tahun 1951 (perjanjian antara pemerintah pusat China dengan pemerintah Tibet tentang langkah-langkah pembebasan Tibet secara damai), China berjanji untuk tidak akan mengubah sistem politik yang telah ada di Tibet, tidak akan mengubah status, fungsi, dan wewenang Dalai Lama, akan menghormati kepercayaan, adat, dan kebiasaan rakyat Tibet.

Namun, itu semua berbanding terbalik dengan fakta lapangan. Biara-biara dihancurkan, rakyat Tibet menjadi korban kerja paksa, tanah mereka dirampas, hingga etnosida digalakkan. Sampai saat ini, mereka masih hidup di bawah otoritas China.

Welas Asih sebagai Bentuk Perlawanan

Pada 9 Maret 1959, pecahlah aksi pemberontakan rakyat Tibet yang dikenal sebagai Pemberontakan Lhasa. Seluruh rakyat bersatu melindungi Dalai Lama dari penculikan yang direncanakan China sekaligus melakukan protes terhadap penindasan yang berlangsung di Tibet.

Berbagai ancaman keselamatan yang diterima membuat Dalai Lama terpaksa melakukan pelarian ke pengasingan, India. Kala itu, hatinya dipenuhi rasa cemas, takut, sedih, dan kacau karena ia harus meninggalkan ribuan rakyatnya yang berjuang meraih pembebasan dan demi dirinya.

Di tengah remuk redam negerinya, Dalai Lama memilih jalan tanpa kekerasan dalam perjuangannya. Bukan hal mudah untuk teguh di pilihan itu melihat bagaimana penderitaan yang dialami rakyatnya akibat penindasan yang dilakukan China.

Di satu sisi, ada hak-hak hidup rakyatnya yang dirampas. Di sisi lain, membalas kekerasan dengan kekerasan bukan jalan keluar. Bagi Dalai Lama, hal itu justru akan semakin menjauhkan dunia dari perdamaian dan hanya menciptakan siklus penderitaan baru. Pertanyaannya, mungkinkah penindasan bisa benar-benar bisa ditebas tanpa harus mengangkat senjata sama sekali?

Represi selalu memancing kita untuk bertarung di gelanggang amarah, menuntut kita menjadi sama kejamnya dengan sang penindas. Yang terjadi akhirnya kita menjadi asing akan empati dan kasih sayang, tiada ketentraman batin, dunia semakin hancur. Dalai Lama tidak pernah menyesal atas keputusannya.

Di saat manusia sedang berduka hebat atau ketika ketidakadilan itu terjadi, welas asih adalah bentuk perlawanan. Ia lahir dari kemarahan yang menolak diam ketika penindasan itu terjadi. Pikiran yang berwelas asih adalah pikiran yang tangguh; ia menjadi fondasi manusia untuk bangkit, mengatasi, dan melewati keterpurukan.

Alam Memantulkan Wajah Manusia yang Hancur

Manusia adalah bagian dari alam. Segala elemen di alam semesta hidup secara komunal. Rentetan badai, kekeringan ekstrem, dan alam yang menyisakan puing hari ini tak lain adalah pantulan dari wajah kemanusiaan kita yang babak belur karena saling menghancurkan.

Luka yang dirasakan oleh rakyat Tibet mewakili apa yang terjadi hampir di seluruh belahan muka bumi ini. Kehancuran itu menjalar ke alam.

Tibet identik dengan salju lebat dan menjadi sumber mata air yang mengalirkan kehidupan ke sungai-sungai besar Asia seperti yang terdapat di India, Bhutan, Bangladesh, Nepal, dan Pakistan. Artinya, Tibet adalah benteng ekologis bagi seluruh Asia.

Di bawah dominasi eksploitatif China dan diperparah dengan pemanasan global, peran khasnya yang menjadi penyeimbang ekosistem pun kini menyusut hingga berdampak buruk pada seluruh kehidupan.

Kemilau Peradaban: yang Maju, yang Mundur

Layaknya fisika kuantum, antara asumsi pribadi dengan kenyataan yang ada sering tidak sama dan berlawanan. Ilmu pengetahuan modern membawa manusia untuk bisa melihat segala sesuatu dengan berbagai perspektif. Inilah yang membuat Dalai Lama senang dengan peradaban dan pengetahuan modern. Meski Tibet dan seluruh belahan dunia berisi pertumpahan darah, itu tak meredupkan semangat Dalai Lama untuk terus belajar dari dunia luar.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan objektif membuktikan betapa menakjubkannya otak manusia. Dan sekarang kita semua ada di sini. Sebuah kehidupan di mana semua manusia menggantungkan harapannya pada sains dan teknologi. Tujuannya hanya satu: mencapai kehidupan yang bahagia.

Berbagai produk budaya modern yang mengagumkan dan memanjakan mata, hidup serba praktis, juga kemudahan untuk membangun relasi dengan dunia luar menunjukkan bahwa nikmatnya kemajuan tengah kita nikmati bersama.

Kendati demikian, kemajuan itu menyebabkan persaingan begitu kuat. Manusia lekat dengan budaya konsumtif dan hidup dengan rasa tidak puas. Kita selalu ingin lebih, lebih, dan lebih. Semua orang rela melakukan segala hal bahkan sekali pun harus merusak kehidupan makhluk lain demi mencapai tujuannya.

Di balik kemilau peradaban modern, ada celah yang perlahan ditarik ke permukaan melalui film ini. Manusia cerdas secara intelektual, tetapi hilang rasa empati. Batin tentram begitu sulit untuk didapatkan, pendidikan sekadar urusan adu otak dan otot, manusia tak ada bedanya dengan robot berjalan yang tak punya perasaan. Dalam pandangan Dalai Lama, ilmu pengetahuan modern dan Buddhisme seharusnya dipadukan.

Ketika sains berurusan dengan menaklukkan dunia luar melalui kemajuan teknologi, Buddhisme hadir menyentuh ruang terdalam manusia untuk menambal kekosongan batin. Antara otak dan batin, keduanya harus jalan beriringan. Dengan keseimbangan ini, kemelut manusia modern bisa perlahan diatasi.

Perempuan dan Welas Asihnya

Dalai Lama menggaungkan pentingnya memberi kesempatan lebih banyak untuk perempuan mengemban tugas-tugas dalam kelompok atau negara. Mungkin sekarang kita sudah banyak menjumpai selebaran, buku, dan berbagai aksi memperjuangkan kesetaraan gender.

Namun kenyataannya, hingga hari ini ketimpangan terus berlanjut. Masih ada begitu banyak perempuan yang tidak mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, dan kebebasan berpikir.

Banyak anggapan salah yang sampai sekarang mengkristal di masyarakat. Kecenderungan perempuan menggunakan perasaan dipandang sebagai bentuk kelemahan. Padahal, perempuan memiliki naluri untuk merawat kehidupan, kepekaan terhadap penderitaan sekitar, dan cinta kasih yang tinggi.

Alasan mengapa perempuan seharusnya mendapat banyak tempat di dunia untuk memimpin adalah karena perempuan lebih bisa memikirkan cara mewujudkan perdamaian dan kebahagiaan banyak orang tanpa harus melakukan kekerasan.

Di sisi lain, laki-laki lebih sering menggunakan otot dan mengesampingkan perasaannya yang justru akan berdampak buruk kepada cara ia memimpin. Inilah yang terjadi hari ini. Dunia didominasi oleh pemimpin laki-laki yang mengandalkan kekuatan otot—menciptakan kekerasan, penindasan, pembantaian, kehancuran.

Dalam Buddhisme, terdapat sosok Arya Tara yang mewakili energi feminin dan dianggap sebagai ibu dari segala Buddha. Lahir dari air mata Awalokiteshwara (perwujudan Boddhisatwa welas asih tanpa batas yang mampu mendengar tangisan dunia) karena melihat penderitaan makhluk tak kunjung berakhir, Arya Tara hadir untuk memberikan pertolongan dengan cepat.

Di tengah dunia carut-marut tak terkendali, pembantaian terus terjadi di siang bolong, ketidakadilan bagai warisan yang terus dilanggengkan, tidakkah kita lebih butuh banyak Tara di dunia ini?

Pengetahuan Kuno tentang Batin Damai

Menghadapi riuh kehidupan, manusia perlu melatih diri untuk tidak lari dari kenyataan. Itu hanya akan menimbulkan kerusakan baru baik untuk diri sendiri maupun sekitar.

Sampai kapan pun, kedamaian dunia tidak bisa diciptakan jika batin sendiri tidak damai. Dan karena kita semua ingin punya batin yang damai, mengapa yang terjadi justru penderitaan yang terus kita berikan terhadap sesama?

Ada satu pengetahuan kuno sederhana yang dibagikan Dalai Lama tentang ketentraman batin. Cukup dengan latihan konsentrasi napas dan menyadari kehadiran diri sendiri, bukan untuk kehidupan mendatang, tetapi untuk kehidupan sekarang.

Tarik napas dalam-dalam. Tahan. Resapi setiap napas yang masih dimiliki sampai saat ini, seluruh kegelisahan dan hal-hal yang mengganggu pikiran, seluruh hal baik yang masih bisa dirasakan setiap detiknya. Resapi kehidupan itu. Hembuskan perlahan.

Bersama ketenangan itu, nampak keteguhan, kerendahan hati, dan perjuangan panjang yang tersembunyi di balik kerutan wajah Dalai Lama. Wajahnya seakan merangkum semua kelembutan yang terus ia berikan di tengah kehancuran dunia. Dan di ujung film, wajah sang guru itu pun perlahan menghilang.