Akselerasi Ekonomi Digital ASEAN melalui ASEAN Master Plan on Connectivity 2025

Mahasiswi S1 Ilmu Hubungan Internasional UGM
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Naomi Vanessa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sektor ekonomi digital merupakan salah satu sektor signifikan di tengah era perkembangan teknologi yang sangat pesat. Ekonomi digital membuka peluang praktik ekonomi yang lebih praktis dengan jangkauan yang luas. Perkembangan teknologi yang semakin cepat mendorong masing-masing negara untuk mempersiapkan diri untuk menyambut masa depan. ASEAN juga tidak lepas dari perkembangan ini. Transformasi digital di ASEAN secara signifikan diakselerasi selama beberapa waktu belakangan dengan adanya peningkatan jumlah kaum muda dan perkembangan ekonomi secara keseluruhan di kawasan. Saat ini, kawasan Asia Tenggara telah menjadi rumah bagi setidaknya 12 perusahaan startup besar yaitu yaitu: Bigo, Bukalapak, Gojek, Grab, Lazada, Razer, Tokopedia, OVO, Sea Group, Traveloka, dan VNG. Kondisi ini tentu sangat mendukung kawasan Asia Tenggara untuk beralih kepada aktivitas digital, khususnya di masa pandemi.
Dari laporan E-conomy SEA yang dirilis oleh Google, Temasek, & Bain and Company, pada 2020 terdapat 40 juta pengguna baru yang menggunakan layanan daring. Sehubungan dengan keterbatasan akses selama pandemi, layanan yang sering digunakan oleh pengguna berupa finansial, jasa antar makanan, streaming hiburan, dan e-commerce. Penggunaan layanan daring tidak hanya berhenti setelah masa lockdown telah berakhir, melainkan 95% dari pengguna baru melanjutkan penggunaan layanan pada tahun 2021. Dari laporan ERIA for ASEAN and East Asia, signifikansi perkembangan ekonomi digital di kawasan juga diproyeksikan akan meningkat hingga $197 juta per 2025 dengan posisi ASEAN sebagai kekuatan ekonomi keempat dunia per 2030.
ASEAN Master Plan for Connectivity 2025 yang diadopsi sejak 2014 membuktikan adanya visi terhadap integrasi kawasan yang lebih optimal. MPAC 2025 menitikberatkan pada 5 (lima) area utama yaitu: sustainable infrastructure, digital innovation, seamless logistics, regulatory excellence, dan people mobility. Kawasan Asia Tenggara dengan letak geografis yang strategis tentu akan mendapatkan keuntungan maksimal apabila konektivitas antar-negara mempunyai sebuah mekanisme bersama. Dalam kata lain, MPAC 2025 dapat meningkatkan ketahanan dan identitas ASEAN sebagai sebuah komunitas.
Konektivitas ASEAN berperan signifikan dalam mendorong ekonomi digital kawasan. Ekonomi digital ASEAN yang terus meningkat pasca lockdown membuka sebuah potensi besar untuk masa depan perekonomian kawasan maupun domestik. Perkembangan ini harus diikuti dengan berbagai mekanisme yang mendukung, baik dari tingkat domestik maupun tingkat kawasan karena kegiatan ekonomi negara-negara ASEAN berkaitan satu sama lain.
Pertama, aktivitas bisnis digital yang membutuhkan layanan logistik akan sangat efektif apabila ada infrastruktur memadai. Sebaliknya, logistik yang memadai juga dapat mengoptimalkan aktivitas bisnis digital. Tren e-commerce saat ini membutuhkan layanan infrastruktur logistik dan aman dan efisien untuk mempertahankan kepuasan pelanggan guna meningkatkan potensi pasar ke depannya. Lebih jauh, produktivitas infrastruktur juga menjadi penting agar ketersediaan infrastruktur dapat digunakan secara optimal.
Kedua, inovasi digital dalam konteks pengembangan potensi Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) atau yang lebih dikenal sebagai UMKM di Indonesia. Hal ini juga mempertimbangkan jumlah MSMEs di kawasan dan kontribusinya terhadap lapangan pekerjaan. Digitalisasi MSMEs tentu dapat meningkatkan jangkauan usaha yang lebih luas sekaligus meningkatkan perekonomian kawasan.
Lebih lanjut, inovasi digital dalam konteks keamanan data juga penting di era perkembangan pesat ekonomi digital. Jumlah data yang banyak dan mengalir melewati batas negara membuat negara-negara kawasan memerlukan sebuah mekanisme di tingkat ASEAN yang mengatur hal ini sehingga keamanan data pengguna dapat terjamin. Dengan ada jaminan keamanan, kenyamanan praktik ekonomi digital seperti pembayaran juga dapat terjamin.
Ketiga, pentingnya untuk mengatasi masalah non-tariff barriers dan meningkatkan serta menyelaraskan standar di kawasan juga berperan signifikan dalam perkembangan ekonomi digital. Keberadaan regulasi kawasan akan mempermudah birokrasi dan mekanisme di lapangan sehingga meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari praktik ekonomi digital.
Terakhir, pentingnya peningkatan sumber daya manusia di kawasan Asia Tenggara dalam konteks pergeseran dari low skill labor ke arah skilled labor, mengingat praktik ekonomi digital, membutuhkan tenaga kerja terlatih. Negara-negara kawasan yang terkenal sebagai penyedia buruh dengan upah rendah seperti Indonesia, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar memerlukan program pengembangan sumber daya manusia untuk agar dapat mempersiapkan diri untuk era digital.
Peningkatan konektivitas ASEAN juga tidak terlepas dari munculnya berbagai tantangan. Salah satunya yang paling signifikan saat ini adanya economic downturn akibat pandemi COVID-19. Pada akhir 2020, Sekretariat ASEAN merilis data PDB agregat ASEAN yang menurun hingga sekitar -5%. Sebaliknya, menurut perkiraan IMF pertumbuhan ekonomi di ASEAN pada 2021 diperkirakan akan melonjak sekitar 4.9% khususnya di 5 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Namun demikian, pandemi COVID-19 masih menjadi masalah besar bagi negara-negara kawasan. Angka pertambahan COVID-19 yang belum stabil dan vaksinasi yang masih dalam proses membuat banyak kegiatan yang masih terbatas. Di sisi lain, perkembangan ekonomi digital diperkirakan akan tetap meningkat seiring dengan pergeseran preferensi masyarakat pasca lockdown.
