Konten dari Pengguna

Laki-laki Tidak Boleh Menangis: Patriarki Melukai Dua Belah Pihak

Napoleon HK

Napoleon HK

Siswa SMA Citra Berkat Tangerang (Isu Sosial, Kebijakan Publik, Akal Imitasi)

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Napoleon HK tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ini dari AI melalui Gemini
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ini dari AI melalui Gemini

Umumnya masyarakat memandang pria sebagai sosok yang tangguh, tidak berekspresi, dan mampu mendominasi, namun, apa kabarnya pria-pria yang cenderung feminim dan lebih ekspresif? Menurut (Anindya, 2018) peran wanita dan pria dikategorisasikan sehingga terbentuklah stereotip gender. Laki-laki dituntut untuk menjadi pemimpin yang dominan dan bekerja keras, sedangkan perempuan dididik untuk berperilaku lemah lembut dan feminim. Tentu tidak ada salahnya dengan standar tersebut, akan tetapi ada anggapan bahwa laki-laki yang cara berperilaku, berpenampilan, atau gestur tubuhnya ada kesalahan ini justru dianggap tidak normal atau “banci”. Namun, pandangan negatif tentang pria yang beremosi ini justru menghasilkan pola pikir laki-laki yang agresif karena rasa takut akan dirundung atau didiskriminasi oleh masyarakat.

Budaya patriarki membangun konstruksi sosial bahwa laki-laki merupakan sosok yang kuat, dominan, serta memiliki kuasa. Hal ini membuat perempuan dipandang lemah dan wajar disakiti baik secara fisik maupun emosional (Rossevelt, 2022). Namun, tampaknya glorifikasi maskulinitas ini berbalik ke arah laki-laki kembali. Budaya patriarki menganggap bahwa pria yang menangis adalah indikator kelemahan. Padahal, menangis adalah salah satu cara normal untuk mengekspresikan emosi sedih. Standar-standar seperti ini malah merugikan laki-laki itu sendiri.

Belakangan terakhir ini, saya sebagai remaja laki-laki memperhatikan akan maraknya remaja laki-laki yang terjerumus ke lubang kelinci digital yang mengajarkan mereka untuk membenci perempuan. Hal demikian pun terjadi karena mereka tidak pernah diajarkan maskulinitas yang sehat itu seperti apa. Di sisi lain, perempuan dibiarkan menanggung luka itu—seperti yang mereka selalu alami. Contoh nyatanya adalah Andrew Tate yang sempat viral di Tiktok pada tahun 2022. Metode promosi kehidupan “ideal” dan “sukses” pria sejati yang kontroversial membentuk pola pikir remaja laki-laki yang salah.

Gambar 1. Survey kesepian laki-laki: https://www.americansurveycenter.org/why-mens-social-circles-are-shrinking/

Masalah ini tentu berakar dari sesuatu yang lebih mendalam. Fenomena Male Loneliness Epidemic atau epidemi kesepian pria. Penelitian yang dilakukan oleh American Survey Center pada tahun 2021 menemukan bahwa 15% pria mengaku tidak memiliki teman dekat, ini merupakan peningkatan yang sangat besar, meningkat 12% sejak tahun 1990. Male Loneliness Epidemic menjadi krisis kesehatan masyarakat yang jarang dibicarakan, terutama bagi mereka yang kesulitan menjalin hubungan bermakna dengan orang lain—perempuan. Dalam kondisi rapuh ini, banyak yang terjerumus ke ruang digital seperti “manosphere” yang menyalahkan perempuan dan memberi ilusi kekuatan. “Bukan salahmu. Perempuan adalah masalahnya. Sistem ini curang”, padahal ini justru memperparah luka yang mereka coba hindari.

Salah satu series Netflix—Adolescence—menunjukkan realita menyedihkan ini dalam narasi yang akurat. Jamie, tokoh utama dalam series ini diperankan oleh aktor Owen Cooper dengan realisme yang menyeramkan. Bukan karena ia adalah sosok jahat atau karikatural, tetapi karena karakter dia tidak asing di dunia nyata. Jamie adalah remaja laki-laki usia 13 tahun yang tumbuh di dunia online dan menyerap pandangan toksik tentang maskulinitas. Contohnya adalah figur-figur seperti Andrew Tate dan Fresh and Fit, yang mengagungkan dominasi, kontrol, dan ketidakpedulian emosional. Alhasil, pandangan yang menyesatkan ini berujung ia membunuh Katie, salah satu teman perempuan yang menolak pengakuan cintanya Jamie.

Pembicaraan maskulinitas toksik tidak akan lengkap jika kita tidak membahas dampaknya terhadap perempuan yang sangat nyata. Perempuan yang selalu menjadi sasaran kekerasan diajarkan untuk menginternalisasi perasaan sakit itu. Di era perkembangan zaman, kita bisa melihat perempuan semakin maju dan berpendidikan, karena itu rasa takut akan kehilangan kekuasaan dan dianggap “lemah” membuat pria memberontak seperti apa yang kita lihat di berita-berita. Patriarki menawarkan solusi kepada laki-laki untuk menghadapi rasa sakit mereka dengan mengeksternalisasi nya. Sementara itu, perempuan diajarkan untuk menelan rasa sakit itu dan terus berjalan.

Ada pepatah, “Butuh satu desa untuk membesarkan seorang anak”. Pepatah ini merefleksikan betapa pentingnya edukasi kepada anak-anak kita akan nilai sosial yang sehat dan tidak menyesatkan. Tentu ini masih menjadi tantangan karena kesetaraan gender adalah isu sistemik, akan tetapi ini mulai dari diri sendiri. Apakah nilai yang kita pegang selama ini sehat, atau justru memberi dampak yang negatif kepada masyarakat? Semua pihak: Pemerintah, sistem edukasi, parenting, remaja, dan komunitas—baik di dunia nyata maupun dunia maya— bertanggung jawab atas mengedukasi isu kesetaraan gender ini.