Opini & Cerita
·
18 September 2020 11:38

Mengantar Mas Tommy

Konten ini diproduksi oleh Nasihin Masha
Mengantar Mas Tommy (86843)
Ilustrasi Bendera Indonesia. Foto: Shutterstock
Kamis (17 September 2020) malam para pemimpin redaksi dan wartawan senior yang tergabung di Forum Pemred mengadakan pertemuan virtual. Dalam pertemuan itu hadir juga Menlu Retno L Marsudi, Dubes Indonesia untuk RRT Djauhari Oratmangun, mantan Menkominfo Rudiantara, dan beberapa kolega Mas Tommy.
ADVERTISEMENT
Ya, pertemuan itu merupakan tradisi para wartawan saat ada di antara wartawan yang mendapat tugas menjadi duta besar. Mas Tommy adalah Suryo Pratomo, namun lebih lazim ditulis Suryopratomo. Mantan Pemred Kompas dan Direktur Pemberitaaan Metro TV itu baru saja diangkat menjadi duta besar Indonesia untuk Singapura.
Wartawan menjadi duta besar bukanlah hal baru. Di masa Sukarno ada BM Diah, pendiri dan pemred koran Merdeka, menjadi duta besar di Vietnam. Di masa Orde Baru ada Sabam Siagian, pemred Suara Pembaruan, yang menjadi duta besar di Australia. Di masa reformasi ada DH Assegaf, mantan pemred Warta Ekonomi dan anggota dewan redaksi Media Indonesia, yang menjadi duta besar di Vietnam. Juga ada Susanto Pujomartono, mantan pemred The Jakarta Post dan wartawan Tempo, yang menjadi duta besar di Rusia. Dan teranyar tentu August Parengkuan, senior Mas Tommy di Kompas, yang menjadi dubes di Italia. Tentu masih banyak lagi wartawan yang pernah menjadi duta besar.
ADVERTISEMENT
“Prestasi wartawan yang menjadi duta besar adalah baik atau baik sekali,” kata Menlu Retno.
Tak ada yang jeblok. Tentu yang fenomenal adalah Siagian, ia bisa menaklukkan keganasan pers Australia yang selalu garang terhadap Indonesia gara-gara meninggalnya wartawan Australia saat meliput Timor Timur saat wilayah itu masih menjadi bagian dari Indonesia. Diah juga selalu mendapat tempat khusus bagi pemerintah Soviet maupun Rusia.
Pertemuan itu tentu berisi puja-puji dan hal-hal positif lainnya tentang Mas Tommy. Sesuatu yang wajar dan selayaknya. Mas Tommy adalah mantan Ketua Forum Pemred yang ketiga. Mas Tommy juga menjadi relawan dalam Satgas Covid-19 untuk urusan komunikasi publik. Ia membantu Doni Monardo, ketua Satgas Covid-19, dalam mengkoordinasikan dan strategi komunikasi publik Satgas Covid-19 maupun dalam kaitan dengan pemerintah pada umumnya.
ADVERTISEMENT
Saya sendiri sudah mengenal secara tekstual saat saya masih menjadi mahasiswa. Saya menyukai tulisan-tulisan analisisnya di halaman olahraga Kompas, khususnya soal bulutangkis. Namun kemudian menjadi mengenal secara fisik saat Mas Tommy menjadi pemred. Saat itu saya menjadi wapemred Republika. Kami sering dalam satu perjalanan dalam rombongan Presiden SBY saat muhibah keluar negeri. Biasanya selalu bertiga, bersama Mas Ahmad Djauhar, pemred Bisnis Indonesia saat itu. Tentu saya junior partner. Mas Tommy sudah menjadi wartawan sejak 1987, sedangkan saya baru menjadi wartawan di Republika pada 1993. Walaupun Mas Tommy berdarah Jawa, namun ia lahir di Bandung dan besar di Bogor. Bahkan ia menyelesaikan S1 dan S2 nya di IPB Bogor.
Saya kemudian makin mengenal Mas Tommy setelah saya menjadi salah satu ketua di Forum Pemred dengan Mas Tommy sebagai ketua umumnya. Berdasarkan interaksi inilah saya menuliskan catatan pendek ini. Mas Tommy termasuk wartawan yang langka: tulisan dan pidatonya sama bagusnya. Biasanya wartawan hanya jago menulis, tapi akan terbata-bata saat berpidato. Hal itu tak berlaku buat Mas Tommy. Pidatonya sama runtut, lancar tanpa jeda, berisi, serta penuh quote dan referensi seperti tulisannya. Pidatonya seperti membaca teks namun memikat. Padahal pidatonya tanpa teks. Bahkan di lingkungan akademisi pun hal ini termasuk langka, Kang Jalaluddin Rakhmat termasuk dalam kategori ini. Mungkin karena Mas Tommy bercita-cita untuk menjadi dosen, sehingga ia gemar membaca dan membuat kepalanya berisi.
ADVERTISEMENT
Atas dasar itulah saya memilih Mas Tommy untuk menulis kata pengantar pada buku saya yang baru terbit: Jungkir Balik Pers. Buku ini ada dua kata pengantar, satunya lagi oleh Ignatius Haryanto, wartawan yang kini menjadi dosen dan peneliti. Mas Tommy adalah pekerja keras dan tak suka menunda-nunda pekerjaan. Permintaan saya untuk meminta kata pengantar dipenuhi dengan cepat. Padahal saya sendiri belum selesai membuat pendahuluan untuk buku tersebut. Proaktif dan antusias dengan sudut pandang positif adalah salah satu karakter Mas Tommy. Tak heran jika ia memiliki relasi yang luas. Tugas wartawan adalah membangun relasi seluas-luasnya, namun Mas Tommy adalah salah satu yang terluas. Tak heran pula jika ia bisa menjadi pemred di usia 39 tahun dengan menggantikan pemiliknya, Jakob Oetama, pada tahun 2000.
ADVERTISEMENT
Salah satu yang membuat saya terkesan pada Mas Tommy adalah selalu datang memenuhi undangan. Jika ada beberapa undangan, maka di salah satu undangan ia akan datang lebih awal, sebelum acara dimulai. Dengan begitu ia bisa berbicara dengan tuan rumah secara lebih intensif. Setelah beberapa saat acara dimulai ia akan pamit dan menuju undangan berikutnya. Ya, salah satu kesibukan pemimpin redaksi, apalagi untuk media besar, adalah memenuhi seabrek undangan dari relasi – relasi berita maupun relasi bisnis. Ini menunjukkan bahwa Mas Tommy berdisiplin yang tinggi, mau berlelah-lelah, dan ingin menyenangkan relasi. Wajar jika Mas Tommy mendapat tugas sebagai duta besar di negeri berkategori A, seperti juga Sabam.
Namun dari semua itu, yang paling saya suka dari Mas Tommy, dan ini cocok dengan tugas barunya sebagai diplomat, adalah ketawanya: keras, pendek, suara bulat alias tak pecah. Saya pikir inilah yang akan menjadi kunci pembuka untuk tugas barunya. Singapura memang negeri kecil, tapi investasinya di Indonesia selalu yang terbesar, dan ada banyak PR soal perbatasan, perjanjian ekstradisi, dan juga perlindungan terhadap TKI. Selamat bertugas, semoga sukses.
ADVERTISEMENT